Rekayasa Cuaca ala BPPT

Rekayasa Cuaca ala BPPT

Untuk mengurangi potensi banjir di Jakarta, juga wilayah-wilayah lainnya di Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) akan menerapkan dua cara merekayasa, atau istilahnya modifikasi cuaca. Dua cara itu adalah mekanisme jumping process dan metoda kompetisi. Rekayasa cuaca ini untuk mengurangi banjir akibat hujan.

Modifikasi cuaca itu akan mempercepat turunnya hujan sebelum awan tersebut memasuki kawasan DKI Jakarta. BPPT juga akan menembakkan asap di udara untuk menghambat proses pembentukan awan hujan. Juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, mekanisme jumping process, awan –awan yang sebelum masuk wilayah Jakarta dicegat dengan pesawat-pesawat yang bermuatan garam lalu disemai. Dengan demikian hujan akan jatuh sebelum memasuki wilayah Jakarta, misalnya di Selat Sunda atau Laut Jawa. Kalau pun masih ada hujan, skalana sudah berkurang.

Cara kedua adalah metoda kompetisi. Yaitu menempatkan 24 ground base generator yang setiap hari membakar bahan-bahan semai. “Bentuknya seperti kembang api yang asapnya terbawa ke angkasa dan akan mempengaruhi pertumbuhan awan menjadi lebih kecil dan lebih mandul,“ tutur Sutopo, belum lama ini.

Berapa biaya yang harus dikeluarkan, menurut Sutopo, sekitar Rp 20 miliar. Dampaknya, potensi hujan yang akan membentuk akan berkurang hingga 35%.

Dia menambahkan, model rekayasa cuaca itu tidak akan berdampak apapun terhadap ekosistem di Jakarta. Sebab, materi yang digunakan adalah garam murni (Na Cl). Hal itu sudah diuji coba secara laboratorium. Hasilnya, tanah dan air di Jakarta tidak tercemar.

“Pertama dari aspek kualitas airnya tetap sama, karena material yang digunakan sekali terbang pesawat Hercules bisa membawa 8 ton untuk menyemai dan dijatuhkan ke awan, jika dibandingkan dengan air yang turun akibat hujan itu jutaan ton,” tutur Sutopo. Dia menambahkan, pihaknya juga memasang titik-titik sampel kualitas air yang hasilnya tidak tercemar.

Betulkah akan mengurangi curah hujan dan mengganggu keseimbangan air tanah? Sutopo pun menampik, Sebab, kalaupun air tanah di Jakarta kering, semata-mata karena Jakarta masih kekurangan ruang terbuka hijau (RTH). Padahal, RTH-lah yang diharapkan mampu menangkap air hujan dan menyimpannya di dalam tanah. Sebaliknya, kekurangan RTH menyebabkan air hujan langsung hanyut ke laut. Itu sebabnya, disarankan agar banyak-banyak membuat lobang resapan air.

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan BPPT Florentinus Heru Widodo mengatakan sejauh ini tim TMC BPPT sudah melakukan berbagai persiapan dan pengembangan metoda terbaru dalam penyemaian garam di udara ketika melakukan hujan buatan. "Tim sudah siap, namun untuk keputusan melakukan redistribusi hujan di DKI Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum mengeluarkan status siaga darurat," katanya di Jakarta, belum lama ini.

Terima Pesanan

Tim TMC BPPT pada April tahun ini sudah mendapatkan kontrak dari PLN Sumatera Utara di Koto Panjang dan Danau Singkarak untuk pengisian waduk.

PLN Kalimantan Selatan juga sudah melakukan kontrak dengan tim TMC BPPT. Selain itu, Pemerintah Provinsi Riau dan Kalimantan Tengah dan Barat juga mengantisipasi asap akibat kebakaran hutan di musim kemarau mendatang.

Dalam rencana kegiatan TMC tahun 2014, tim TMC BPPT mengembangkan teknologi baru dengan peralatan "Consule Mekanisasi Seeding" berupa kontainer yang ditempatkan di pesawat Hercules.

Penggunaan kontainer untuk aktivitas penyemaian garam ini mampu mencegah kerusakan pesawat yang keropos terkena garam. “Kami dari BPPT, BNPB dan TNI AU telah membuat peralatan Consule Mekanisasi Seeding untuk TMC di pesawat Hercules. Sistemnya tinggal membuka pintu lalu kontainer dibuka untuk mengeluarkan bahan semai," kata Heru. (saksono)

Related posts