Menghitung Kerugian Akibat Banjir di Jakarta

Menghitung Kerugian Akibat Banjir di Jakarta

Setahun lalu, persisnya 17 Januari 2013, kawasan segitiga emas perekonomian Jakarta, yaitu Sudirman-Thamrin-Kuningan lumpuh akibat dilanda banjir besar. Itu adalah puncak banjir tahun lalu.

Bahkan, banjir yang ditandai jebolnya tanggul di Stasiun Sudirman di Ketika itu, ditaksir mencapai Rp 20 triliun. Kerugian itu hanya perkiraan kasar dalam satu hari itu saja. Bagaimana jika lumpuhnya berhari-hari?

Banjir yang melanda kota Jakarta sejak pertengahan Januari tahun ini hingga kini, masih belum surut. Kita belum tahu, apakah banjir kali ini sudah merupakan klimaks atau belum. Sebab, perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim hujan terjadi pada awal Februari.

Banjir besar tahun ini di Jakarta, juga di Bekasi, lebih diakibatkan tingginya curah hujan baik di kawasn hulu di daerah Bogor maupun di hilir, di Jakarta sendiri melebihi kapasitas daya tampung 13 sungai yang membelah kota Jakarta. Di samping itu masih banyak drainase yang jarang dikontrol hingga jika hujan turun, hingga menimbulkan kerugian yang besar.

Beberapa pusat bisnis di Jakarta hampir berhenti total akibat akses jalan yang menggenangi yang tidak bisa dijangkau oleh pengungjung atau konsumen. Misalnya kawasan Pasar Pagi, ITC, WTC, Mangga Besar Squre, Mangga Dua mall, dan Harco. Jika ditaksir jumlah pedagangnya mencapai 20 ribu kios, omzet rata-rata Rp 5 juta, maka total kerugian bisa mencapai Rp 50 miliar tiap hari.

Banjir besar di kawasan Kelapa Gading menyebabkan ratusan bahkan ribuan usaha tak bisa bertransaksi di kawasan mal, perkantoran, kantor bank, dan sebagainya. Menurut Sarman Simanjorang, wakil ketua umum Kadin DKI, kerugian ditaksir mencapai Rp 40 miliar dalam sehari.

Hal serupa juga diderita sektor usaha di kawasan industri terpadu Pulogadung. Genangan air menyebabkan seluruh aktivitas terhenti. Sekitar 300 pabrik ada di sana. Kerugian dari hasil transaksi pada hari itu mencapai puluhan miliar rupiah. Sedangkan di kawasan Tanah Abang omzet pedagang di perkirakan turun sampai 60% akibat para pembeli tidak dapat menembus akses menuju Tanah Abang.

Omzet di Tanah Abang diperkirakan mencapai Rp 200 miliar per hari dengan situasi yang normal. Banjir di kawasan Jatinegara Barat, termasuk pasarnya, menyebabkan aktivitas perdagangan di sana hampir lumpuh. Kerugian di kawasan pelabuhan bisa mencapai Rp 9 miliar dari aspek hukum transportasi dan angkutan umum.

“Kami sangat mengapresiasi upaya dan kerja keras yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta untuk mengantisipasi banjir seperti perawatan drainase, pengerukan kali, penertiban penampungan air seperti waduk Pluit,waduk Riario, maupun perluasanruang hijau,” kata Sarman.

Dia juga menambahkan, masyarakat juga harus dididik agar tidak membuang sampah di jalur air. Di antara yang ikut andil menjadi penyebab banjir adalah menjamurnya perumahan baru di kawasan tangkapan air, baik di Jakarta maupun sekitar Jakarta.

Semua berharap, banjir kali ini sudah cukup yang klimaksnya hingga Februari nanti agar t ak jatuh korban lebih besar lagi.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memperkirakan banjir tahun ini tak separah tahun lalu. "Genangan dibandingkan tahun kemarin sudah turun 50%,” kata Jokowi. Gubernur berharap, normalisasi aliran di 13 sungai maupun saluran elok lainnya.

Sarman yang juga ketua umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hppi) DKI Jakarta pun mendukung rencana proyek modifikasi cuaca yang dilakukan oleh Badn Perencanaan Pembangunan (Bappenas) bekerjasama dengan Badan nasional Penangghulagan Bencana (BNPB).

Dengan melakukan modifikasi cuaca, curah hujan pun bisa dikendalikan untuk meminimalisasi massa air yang mengalir ke Jakarta. Banyak langkah utama dipresentasikan . Namun, yang paling penting adalah proyek itu dilakukan secepatnya. Ongkos untuk memodifikasi cuaca mencapai Rp 20 miliar. Menurut Jokowi, soal ongkos tak jadi soal.

Namun, yang selalu jadi soal adalah mengubah perilaku penduduk dan para pengusaha yang membuang sampah dan limbah ke tempat yang sudah telah disediakan, bukan di sungai maupun saluran air. Juga mengubah sikap keras kepala dan tak mau kooperatif para kepala daerah penyangga terhadap upaya bersama mengatasi banjir di Jakarta. (saksono)

Related posts