Indonesia Perlu Ubah Strategi Bisnis - EKONOMI AS DAN EROPA MULAI MEMBAIK

Jakarta - Melemahnya sejumlah negara emerging markets termasuk Indonesia menjadi topik utama bagi banyak perusahaan multi-nasional dalam pertemuan Davos 2014 yang berlangsung pekan ini. Ini disebabkan berbarengan dengan kondisi kebangkitan negara-negara Barat dan kemajuan yang diraih Jepang dalam mengatasi stagnasi ekonomi beberapa tahun terakhir ini.

NERACA

"Para pemimpin dunia usaha secara umum merasa lebih nyaman dengan pasar negara maju dan prospek dalam beberapa tahun ke depan, namun khawatir dengan negara-negara emerging markets tertentu, mungkin bahkan sampai ke tahap mereka akan memangkas investasi," kata Barry Salzberg, CEO Deloitte Touche Tohmatsu, kepada pers asing di Davos, Swiss, pekan ini.

Akibatnya, sejumlah CEO kini kembali berpaling ke negara-negara maju untuk mengejar pertumbuhan, karena AS, Jerman dan Inggris dipandang lebih menjanjikan ketimbang di Turki, India, Afrika Selatan, Indonesia dan Brazil, karena ketidakpastian politik pada 2014 terkait pemilu di negara-negara tersebut.

"Meskipun kadar optimisme tentang ekonomi global lebih tinggi, masih ada tantangan besar lainnya terkait negara tertentu, kekhawatiran soal regulasi dan pergeseran teknologi," ujar pimpinan PwC International Dennis Nally jelang dimulainya World Economic Forum, Rabu.

Menanggapi kondisi seperti itu, guru besar ekonomi UGM Prof Sri Adiningsih mengatakan, perbaikan ekonomi di negara maju seperti Eropa dan Amerika bisa menarik lebih banyaknya dana yang keluar dari negara emerging markets, termasuk Indonesia. “Setelah mereka mengalami perbaikan, investasi juga akan mengikut ke sana, meski tidak signifikan. Karena negara berkembang instabilitasnya tinggi,” ujarnya kepada Neraca, Rabu (22/1)

Apalagi Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan tipis proyeksi mereka atas perekonomian global dan Amerika Serikat untuk 2014, Selasa (21/1/2014). Perubahan ini mencerminkan tambahan optimisme lembaga itu terhadap pemulihan ekonomi global.

Dalam pandangan yang diperbarui ini, IMF memperkirakan ekonomi global akan tumbuh 3,7 persen, naik 0,1% dari proyeksi sebelumnya. Sedangkan ekonomi Amerika, menurut IMF akan tumbuh 2,8%, naik 0,2 persen dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Pemulihan ekonomi yang terjadi di negara maju, menurut Sri, akan terjadi secara perlahan. Di sisi lain negara Eropa dan Amerika masih dalam ancaman deflasi, dan kebijakan suku bunga rendahnya. Dengan kebijakan suku bunga rendah yang secara bertahap akan mengalami kenaikan. Artinya, akan mempengaruhi permintaan barang-barang di negara tersebut. Hal inilah yang juga akan berdampak pada penurunan ekonomi di negara berkembang.

Selain itu, pemerintahan di negara maju tersebut juga merencanakan pengurangan stimulus di negara emerging markets “Sedangkan, negara berkembang banyak menerima dana-dana jangka pendek sehingga memang rawan. Khususnya, nilai valas yang berfluktuasi,” ujarnya.

Oleh karena itu, kata dia, sebagai langkah antisipasinya, pemerintah Indonesia harus memperbaiki kondisi domestik, baik di dunia usaha maupun sektor riil. Karena selain pertumbuhan di sektor riil yang terus merosot saat ini, dukungan pemerintah terhadap dunia usaha sejauh ini dinilai masih belum bagus. “Yang jelas, harus membuat confident dunia usaha, investor, dan masyarakat internasional yang mempercayakan dananya di Indonesia,” tandasnya.

Ketergantungan Besar

Menurut guru besar FEUI Prof Dr Rhenald Kasali, saat ini kondisi ekonomi negara maju seperti Amerika maupun Eropa sedang membaik, dengan begitu kemungkinan besar investasi dana asing yang masuk di Indonesia bisa ditarik maupun kembali ke negaranya masing-masing. Dan celakanya ketergantungan Indonesia terhadap dana asing sangat besar, sehingga jika dana itu ditarik maka secara umum akan berdampak pada perekonomian nasional. “Ketergantungan terhadap dana asing sangat tinggi, jika dana itu ditarik perekonomian nasional akan lemah,” katanya saat dihubungi kemarin.

Apalagi dana yang masuk saat ini hanya mengandalkan dari dana portofolio dari dana yang masuk di pasar modal, sedangkan di Indonesia tidak ada ketentuan, aturan maupun sistem yang bisa menahan dana itu bisa terus parkir di Indonesia.

“Sejauh ini belum ada aturan yang dapat memberikan ketentuan dana asing masuk dalam tenggat waktu tertentu, maka dari itu dana itu rentan keluarnya karena belum ada aturan pemberlakukan yang menahan dana luar untuk tetap standby di dalam negeri,” imbuhnya.

Harusnya pemerintah membuat kebijakan yang mampu menahan dana itu bisa bertahan lebih lama didalam negeri dengan aturan-aturan sehingga dana asing tidak mudah keluar setelah masuk di Indonesia. Selin itu juga pemerintah harus membuat adanya investasi di sektor rill sehingga dana investasi dapat menyeluruh.”Pemerintah jangan ragu-ragu membuat kebijakan yang konsisten terkait dengan investasi dana asing,” tegasnya

Sedangkan Sofjan Wanandi, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengatakan, sebenarnya adanya pertumbuhan ekonomi yang mulai membaik dinegara maju tidak terlalu berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, kalaupun investor menarik dananya tidak berpengaruh besar. “Ketergantungan kita terhadap modal asing memang besar, hanya saja kalaupun investor asing mau menariknya tidak terlalu berpengaruh,”katanya.

Karena, memang segala sesuatunya tergantung dari dalam negeri, dan tidak lupa dari dalam harus mampu melakukan trobosan-trobosan baru untuk dapat menutupi dana-dana yang asing yang keluar, caranya dengan meningkat produksi sehingga ekspor nasional bisa meningkat. “Intinya ada perbaikan dalam negeri,” imbuhnya.

Malahan, sambungnya seharusnya dengan kondisi ekonomi negara maju yang sudah membaik bisa berdampak positif terhadap ekspor nasional, karena daya jual beri negara maju tersebut kuat. Oleh karenanya produksi dalam negeri harus bisa lebih baik, dan harganya bisa lebih kompetitif. “Harusnya dengan negara maju pertumbuhan ekonominya bagus, peluang buat Indonesia untuk memperkuat ekspor ke negara seperti Amerika maupun Eropa,” pungkasnya.

Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa menilai dengan membaiknya ekonomi beberapa negara maju justru membuat ekonomi Indonesia semakin terdorong untuk meningkat. Pasalnya ekspor Indonesia akan semakin membaik setelah permintaan ekspor mengalami penurunan karena beberapa negara maju yang menjadi tujuan ekspor Indonesia mengalami penurunan permintaan.

Ia menjelaskan dengan ekonomi global yang masih dilanda krisis saja, Indonesia masih tetap tumbuh meskipun tidak terlalu tinggi. Bahkan, menurut dia, dengan adanya pemilu justru membuat ekonomi semakin bergerak. Pasalnya dalam hajatan lima tahunan tersebut, dipastikan konsumsi akan meningkat lantaran para politikus menggelontorkan dananya ke masyarakat. “Jika pemilu itu aman, maka bisa memberikan efek positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Masyarakat Indonesia juga sudah dewasa dalam menghadapi pemilu, buktinya pada 2004 dan 2009 pemilu berjalan lancar,” katanya.

Lebih jauh lagi, Purbaya memaparkan bahwa saat ini korporasi di Indonesia telah menikmati keuntungan yang cukup lantaran ekonomi Indonesia yang mengalami pertumbuhan. “Kalau ekonomi tumbuh, maka yang untung adalah korporasi juga. Kalau mereka (korporasi) masih juga mendesak pemerintah untuk memberikan insentif, maka saya rasa itu tidak perlu. Karena mereka sudah untung banyak. Tinggal kita tunggu saja, apakah korporasi-korporasi tersebut taat untuk membayar pajak,” imbuhnya.

Jika melihat di negara-negara maju, Purbaya memandang bahwa negara-negara maju justru menerapkan kewajiban-kewajiban untuk menyetor kepada negara dengan cara yang lebih ketat. “Kalau di negara-negara maju, jika ada yang melanggar maka korporasi tersebut bisa langsung dibangkrutkan. Dan aset-asetnya diserahkan kepada negara. Seharusnya di Indonesia juga demikian, yaitu membuat korporasi-korporasi lebih taat kepada aturan,” tuturnya.

Dihubungi secara terpisah, Pengamat Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latif Adam menilai pertumbuhan ekonomi di 2014 akan banyak tekanan. Terlebih dengan pengurangan stimulus The Fed terhadap negara-negara emerging market salah satunya Indonesia dan membaiknya ekonomi negara-negara maju sehingga bisa mendorong penarikan dana asing di dalam negeri. “Sejauh ini, dana-dana asing masih mendominasi di Indonesia. Kalau ekonomi negara-negara maju membaik maka uang dari Indonesia bisa saja ditarik dan nantinya akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia,” katanya.

Tidak hanya itu, Latif juga menilai bahwa pemerintah tidak inovatif dalam mengkerek pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, sejauh ini pemerintah masih mengandalkan rasio ekspor atau impor. “Pemerintah tidak gaul (inovatif) dalam mendorong perekonomian Indonesia. Hal ini tercermin dari cara pandang pemerintah yang hanya mampu melihat pertumbuhan ekonomi dari rasio ekspor/impor dan FDI (Foreign Direct Investment) terhadap PDB (Produk Domestik Bruto). Kalau mau mencapai pertumbuhan yang tinggi tidak hanya melihat rasio ekspor/impor dan FDI terhadap PDB, tapi juga melalui peningkatan kualitas produk yang akan diperdagangkan,” ucapnya. lia/bari/agus

Related posts