Indo Tambangraya Ubah Alokasi Dana IPO - Optimalkan Pengembangan Tambang

NERACA

Jakarta- PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mengubah alokasi penggunaan dana hasil penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO). Utamanya dana yang diperuntukkan bagi pembangunan pembangkit tenaga listrik batubara di Indominco yang dianggarkan sebesar Rp188-Rp234 miliar.

Informasi ini disampaikan Direktur PT Indo Tambangraya Megah Tbk, Edward Manurung dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (22/1). Disebutkan, dari dana yang dianggarkan tersebut, saat ini perseroan hanya menggunakan alokasi dana penawaran umum sebesar Rp126,12 miliar untuk membangun pembangkit tenaga listrik batubara di Indominco. Dengan begitu, masih tersisa sebesar Rp108,28 miliar.

Rencananya, perseroan akan mengubah alokasi penggunaannya untuk mengembangkan tambang operasi Indominco yang terletak di daerah Blok Timur. Selain itu, perseroan juga akan mengalokasikan sisa dari dana sebesar Rp188 miliar yang rencananya akan digunakan untuk mengembangkan tambang operasi Indominco yang terletak di daerah Blok Timur, untuk mengembangkan tambang operasi Indominco yang terletak di daerah Timur.

Dengan begitu, jumlah keseluruhan dana IPO yang nantinya akan digunakan untuk mengembangkan tambang operasi Indominco yang terletak di daerah Timur adalah sebesar Rp295,8 miliar. Untuk perubahan alokasi anggaran ini, perseroan beralasan telah selesai membangun pembangkit tenaga listrik batubara di Indominco. Namun, karena masih tersisa dana dari hasil penawaran umum yang belum digunakan, perseroan nantinya akan menggunakan dana tersebut untuk mengembangkan tambang operasi Indominco yang terletak di daerah Blok Timur.

Sementara pengembangkan tambang operasi Indominco yang terletak di daerah Blok Timur, diperkirakan akan membutuhkan biaya besar. Meski demikian, perseroan baru akan merealisasikan rencana tersebut setelah diperolehnya persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) mengenai rencana perubahan anggaran dana.

Diketahui, emiten batubara ini melakukan penawaran umum saham perdananya pada 18 Desember 2007. Dari prospektus perseroan, sekitar Rp609-656 miliar dari dana IPO tersebut akan digunakan untuk menambah kapasitas dan ekspansi dari terminal batubara Bontang di Indominco. Sekitar Rp188-234 miliar akan digunakan untuk membangun pembangkit tenaga listrik batu bara di Indominco, dan sekitar Rp188 miliar akan digunakan untuk mengembangkan tambang operasi Indominco yang terletak di daerah Blok Timur.

Selanjutnya, sekitar Rp375-469 miliar akan digunakan untuk mengembangkan tambang operasi Bharinto, dan sisanya akan digunakan untuk membayar utang perseroan dan anak perusahaan kepada pemegang saham dan akuisisi di bidang batu bara dan pembangkit tenaga listrik yang pada saat ini masih dalam tahap pengkajian awal.

Rencananya, jika target akuisisi tersebut tidak layak untuk dilakukan, maka sisa dana tersebut akan digunakan untuk melakukan pembayaran atas utang perseroan dan anak perusahaan tersebut sesuai jadwal jatuh tempo dari utang tersebut atau secara penuh. Untuk pembayaran utang ini perseroan berencana akan menggunakan sebanyak-banyaknya 30% dari dana penawaran umum atau sekitar US$90-100 juta. Adapun metode pengalihan dana yang diperoleh dari penawaran umum kepada anak perusahaan ini dapat dilakukan dalam bentuk pinjaman atau penyertaan modal kepada anak perusahaan.

Sekadar catatan, hingga kuartal ketiga 2013 perusahaan batubara ini mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan (ditanggungkan) kepada pemilik perusahaan mengalami penurunan menjadi US$ 184,33 juta. Angka ini turun 49,72% dari periode yang sama tahun 2012 senilai US$ 366,63 juta. Hal tersebut antara lain dipicu menurunnya penjualan bersih perseroan yang turun menjadi US$ 1,63 miliar hingga kuartal ketiga 2013, atau sekitar 8,3% dari periode yang sama tahun 2012 senilai US$ 1,78 miliar.

Related posts