Petambak Pantai Selatan Kembangkan Budidaya Sistem Kolam Pasir - Bisnis Udang Vaname Janjikan Untung Besar

NERACA

Purworejo – Nilai jual udang vaname yang tinggi tampaknya cukup menggiurkan bagi masyarakat yang tinggal di wilayah Pantai Selatan Jawa, khususnya di daerah Purworejo, Jawa Tengah. Tak sedikit dari mereka yang beralih dari profesi petani menjadi penambak udang vaname. Jika sebelumnya Pantai Utara (Pantura) Jawa menjadi kawasan utama pembudidayaan udang jenis ini, maka saat ini masyarakat di daerah Pantai Selatan juga kepincut membudidayakan udang vaname dan dilakukan di kolam bekas area persawahan yang tidak produktif lagi dengan dilapisi pasir.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto mengaku cukup bangga dengan kemandirian dan tekad kuat para pembudidaya udang di wilayah Purworejo. Padahal, langkah budidaya dengan menggunakan pasir belum disosialisasikan oleh direktorat yang dia pimpin. “Saya kira ini suatu inovasi teknologi yang perlu dikembangkan, karena jika diurutkan hingga terus ke timur, kondisi pantai selatan sama. Jadi bisa dikembangkan cara budidaya ini,” kata Dirjen Slamet di Purworejo, Jawa Tengah, Rabu (22/1).

Di depan para pembudidaya dan masyarakat sekitar pada acara panen udang tersebut, dia menghimbau agar budidaya ini terus dipertahankan. Namun, dia mengingatkan masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi kelayakan air bersih bagi kelangsungan hidup udang itu sendiri dan juga limbah dari budidaya tersebut.

Target Produksi 2014

Pada tahun 2014 ini, Slamet menargetkan produksi udang bisa mencapai 690 ribu ton atau senilai hampir Rp35 triliun. Jumlah ini naik cukup signifikan setelah tahun 2013 ditargetkan 608 ribu ton dan hasilnya justru dapat melebihi target, mencapai 619 ribu ton. “Dengan cara panen parsial saja, dalam satu tahun bisa tiga kali panen. Tentu cara budidaya ini dapat menyokong target yang kita rencanakan,” ungkap Dirjen.

Slamet menyebutkan, 60% dari total hasil produksi udang diekspor ke luar negeri. Sehingga, agar memiliki udang dengan kualitas yang berdaya saing tinggi di kancah internasional, dia berharap para pembudidaya tetap konsisten membudidayakan udang vaname dengan sistem pasir ini. Karena baginya, tidak mustahil jika Indonesia menjadi produsen udang terbesar di dunia karena memang udang dari Indonesia cukup diminati.

Mengenai permodalan yang dikeluhkan para pembudidaya, dia mengungkapkan bahwa BRI (Bank Rakyat Indonesia) akan memberikan penguatan permodalan jika budidaya ini cukup menjanjikan dengan pinjaman senilai Rp150 juta untuk setiap petaknya. “Saya sudah bertemu dengan pihak BRI dan jika menjanjikan bank BRI berani memberikan pinjaman,” ujarnya.

Terkait Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015 mendatang, dia menjanjikan pihak pemerintah pusat hingga dinas di tingkat pemda untuk membantu melakukan sertifikasi. Karena, dengan sertifikasi akan terjamin keamanan pangan dan kontinuitas produksi udang tersebut. Selain itu, dia juga menyerukan untuk menggunakan lahan-lahan yang tidak produktif bagi tumbuhan sehingga tidak berbenturan dengan pertanian yang tengah menggalakan program ketahanan pangan yaitu padi.

“Saya memberikan apresiasi, karena dengan swadaya masyarakat bisa berhasil. Saya bangga dengan hal ini. Untuk selanjutnya, infrastruktur, pengolahan limbah, penanaman pohon di sekitar kolam unutk mencegah abrasi dan listrik akan ditangani satu per satu,” jelasnya.

Yang juga penting, lanjut Slamet, pihaknya tidak membatasi pengembangan lahan budidaya hanya di satu kawasan. Menurut dia, selama potensi ada dan memungkinkan untuk membudidayakan suatu jenis ikan atau udang, pihaknya akan terus melakukan pembudidayaan. “Bahkan ada masyarakat yang budidayakan lele di atas rumah, sehingga tidak ada batasan. Pantai selatan teksturnya berpasir, sehingga cara budidayanya beda dengan pantai utara. Selain itu pengambilan air juga berbagai cara, ada yang dengan bor dan tidak. Yang penting jarak dari bibir pantai sekitar 100-200 meter,” jelasnya.

Buruh Tani Jadi Petambak

Di tempat yang sama Suwardjo (60) yang sebelumnya menjadi petani mengaku sangat bangga dengan tekad dan niatnya menjadi pembudidaya udang dengan sistem pasir. Pasalnya, ketika masih menjadi petani dia hanya mampu menghasilkan uang sekitar Rp30.000-Rp50.000 perhari. Namun kini, dia bisa mengantungi puluhan juta rupiah setiap kali panen udang. “Sekarang saya dan anan-anak saya memiliki lahan seluas 5.000 meter. Awalnya saya hanya punya 1.000 meter dan meminjam ke bank hinga Rp200 juta unutk modal awal pembudidayaan ini,” katanya.

Suwardjo menjelaskan, modal membuat kolam budidaya yaitu pasir, lapisan plastik, kincir dan lainnya menghabiskan Rp100 juta. Sementara untuk pembelian bibit, pakan, vaksin hingga siap panen butuh Rp100 juta juga. Dengan niat, mau belajar dan bekerja keras, dalam masa 2 kali panen dia telah melunasi hutang bank dan membeli truk untuk mengangkut panennya.

“Sebelumnya saya belajar dari kelompok pembudidaya lain yang lebih dahulu menerapkan sistem ini. Setelah itu saya berani menjaminkan surat tanah saya ke bank unutk memulai usaha ini,” ungkap anggota kelompok budidaya Tirta Anugerah ini.

Sementara, bagi yang tidak memiliki modal cukup besar, dan ingin terjun ke usaha budidaya yang cukup menjanjikan ini tidak perlu berkecil hati. Pasalnya, bagi yang belum punya lahan dapat menyewanya terlebih dahulu. Hal ini dilakukan oleh pembimbing Kelompok Tirta Anugerah, Budiharto yang telah berkecipung di dunia bisnis udang sejak 1988.

“Kami yang memulai cara budidaya ini dan mencontohkannya, karena tidak punya lahan, saya menyewanya. Caranya mudah, tinggal membagi hasil penjualan panen sebnayak 5-6% ke pemilik kolam,” ungkapnya.

Hingga saat ini dia telah menyewa 7.000 meter lahan milik masyarakat setempat untuk dikelolanya di bisnis ini. Tanpa perlu repot-repot mengeluarkan dana besar, menurut dia dengan cara ini hanya mengeluarkan dana setengahnya, sekitar Rp80 juta- Rp100 juta per 1.000 meter.

“Hasil panen lahan saya 90% untuk ekspor, karena harga bagus di pasar ekspor. Selain itu, konsumen juga menyukai udang kita. Biasanya kita ekspor ke Jepang lalu dari sana akan dikirim lagi ke Amerika dan Eropa,” jelasnya.

Related posts