Don’t Waste Your Chance - Johnson Chai, Presiden Direktur Sinarmas MSIG Life

Di tengah cuaca Jakarta gerimis sore itu, Tim Neraca berkesempatan mewawancarai Presiden Direktur Sinarmas MSIG Life Johnson Chai di sebuah restoran di kawasan Jakarta Pusat.

Kesan pertama yang bisa kami simpulkan, Orang nomor satu di salah satu anak usaha milik Sinarmas Group yang kini merupakan joint venture dengan Mitsui Sumitomo Insurance itu, gampang akrab dengan media. Karena pembicaraan kami mengalir begitu saja bagaikan air.

Dengan aksen bicara campuran Indonesia dan Inggris, Johnson memiliki sifat humble, menurun dari orang tuanya yang berprofesi sebagai tenaga pengajar. Ya, papa mamanya di Malaysia memang hidup bersahaja. Berbeda dengan kebanyakan orang China lainnya, yang notabene sukanya berdagang.

“Papa mama saya itu hidupnya bersahaja. Waktu saya selesai sekolah and first my salary itu jumlahnya bisa lebih besar dari gaji mereka. Meski demikian, mereka berdua adalah sosok orangtua yang humble,” kata Johnson, mengenang.

Maka jangan heran, kalau Johnson memiliki sifat demikian. Sehingga dirinya selalu berupaya untuk memberi perhatian pada semua orang. Karena tanpa disadari banyak hal yang bisa dipelajari dari setiap orang yang ditemui dalam hidup.

Menurut Johnson Chai lagi, kesuksesan yang diraihnya saat ini tak lepas dari bagaimana dirinya memanfaatkan peluang yang ada. Baginya pula, kesempatan tidak akan datang dua kali, dan itulah kenapa ia selalu berupaya memenfaatkan peluang yang datang kepadanya sekecil apa pun.

Dengan kata lain, mungkin Johnson lebih tepat untuk menjadi jurnalis ketimbang berkarir di industri keuangan, khususnya asuransi. Karena ia memulai karir pertamanya setelah selesai kuliah adalah di bidang komunikasi. Tetapi, begitulah hidup. Dengan memanfaatkan peluang terbaik ketika diberi kesempatan bukanlah hal mustahil seseorang untuk sukses. Johnson salah satu buktinya, di mana kesempatan sangat menentukan orang untuk sukses.

“Bagi saya, kalau ada kesempatan, ya, ambil saja and I always believe in itu semua, karena ada orang yang memberikan saya kesempatan. Kalau orang tidak ada yang memberi kesempatan, itu tidak bisa juga,” jawab Johnson.

Makanya, ia pun tak sungkan untuk berterima kasih kepada manajernya ketika dirinya memulai karir. Karena, berkat sang manajernyalah yang telah memberikan kesempatan hingga akhirnya Johnson bisa sukses seperti sekarang. Mengingat latar belakang pendidikan Johnson bukanlah di sektor keuangan.

“Saya ingin berterimakasih pada manajer saya yang selalu memberi kesempatan. Pokoknya yang saya pelajari, ya, begitu. Kalau pun seseorang belum ada pengalaman tetapi you like him/her, just take it, dan beri dia kesempatan untuk bisa mengembangkan dirinya sebaik-baiknya. Tapi, risikonya you sendiri yang ambil, kan nanti kalau nggak bagus you sendiri yang harus ganti orang,” kata pria jebolan Universiti Kebangsaan Malaysia ini memberikan wejangan.

Mengenai ketertarikannya di dunia asuransi, pada awalnya, karena Johnson melihat industri ini mulai berkembang saat itu. Meskipun sadar belum memiliki ilmu asuransi, ia sangat percaya diri masuk dan mencoba berkarir di industri asuransi. Tetapi, bukan hanya percaya diri saja, Johnson juga giat belajar dan bekerja maksimal. Alhasil, ya, seperti sekarang. Kesuksesanlah yang ia genggam.

“Sebelum masuk di industri asuransi saya telah membelanjakan gaji saya untuk membeli asuransi. Itu karena saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidup saya nanti. Nah, karena pengetahuan saya masih sedikit maka saya banyak belajar. Untungnya saya orang yang cepat belajar. Jadi tidak susah untuk bisa maju di industri ini,” kenang Johnson.

Melanglang Buana

Hingga saat ini, Johnson telah melanglang buana ke beberapa perusahaan asuransi terkemuka. Ini adalah hasil ia menempa diri untuk terus-menerus belajar dan memotivasi dirinya sendiri untuk bisa sukses. Dan, Johnson pun bisa “memetik” hasil kerja kerasnya serta sukses di dunia asuransi.

Johnson yang lahir dan besar di Malaysia itu telah berkiprah di industri asuransi berbagai negara selama kurang lebih 27 tahun. Dia mulai berkarir di industri asuransi di China antara tahun 2002-2008. Di sana ia mendapati kendala dalam hal komunikasi. Pasalnya, Johnson yang memiliki ciri fisik Chinese, sesungguhnya tidak bisa berbahasa China. Namun, dengan belajar akhirnya ia dapat juga berkomunikasi dengan baik.

"Saat di China, orang-orang mengira saya orang China dan bisa berbahasa Mandarin. Padahal saya tidak bisa bahasa China. Makanya,saya push diri saya untuk bisa berbahasa China. Hingga akhirnya saya berhasil menguasainya," jelas Johnson.

Di Indonesia, ia termasuk pioner yang memperkenalkan credit life di Indonesia. Seperti diketahui, saat itu produk ini belum marak di pasar asuransi Indonesia. Salah satu pesaing kuatnya adalah Eka Life yang merupakan cikal bakal Sinarmas MSIG Life. “Saya dahulu bersaing dengan perusahaan ini (Sinarmas MSIG Life),” jawabnya terkenang.

Kembalinya Johnson ke Indonesia, setelah bertahun-tahun mengembangkan karir di China, karena melihat Indonesia yang begitu menarik. Khsusnya di industri asuransi, makanya ia pun selalu memantau perkembangan industri asuransi di Indonesia. Menurut Johnson, sejak 2004 lalu, ia melihat banyak perubahan dan perkembangan di Indonesia. Yang ia lihat perubahannya lebih ke arah positif.

Meski demikian, program sosialisasi dan edukasi mengenai asuransi harus terus dilakukan. Pasalnya, hingga saat ini orang yang memilki polis asuransi masih terbilang sedikit jumlahnya. Johnson pun memiliki trik, memulai dari rumah sendiri.

“I believe in educating people in company, seperti di Sinarmas MSIG Life ada sekitar 1.000 orang karyawan. Mungkin yang benar-benar kenal asuransi hanya 10%-30%. Sebagian besar yang belum tahu. Makanya, i think we need to educate all the people first (karyawan, red) lalu dari mereka akan meng-educate keluarga mereka. Saya rasa cara ini akan lebih efektif,” terang Johnson.

Menariknya dunia asuransi bagi Johnson Chai, adalah asuransi bukan hanya sekadar sebuah lahan pekerjaan semata. Tetapi juga merupakan passion sekaligus menjadi dunia yang penuh motivasi dan tantangan. Ya, dengan asuransi, ia bisa membantu orang lain untuk hidup lebih baik. Sebut saja anak dan istri. Tujuannya agar orang yang kita sayangi tidak akan kesulitan hidupnya jika tulang punggung kehidupan harus pergi.

“Nah, dengan asuransi, kita bisa membantu banyak orang. Istri dan anak kita tidak perlu susah untuk membantunya kalau terjadi apa-apa pada diri mereka dan kita. Saya juga bersyukur karena bekerja di asuransi, pokoknya saya sangat passionate about insurance,” tegas dia.

Leading by Example

Masa orientasi ternyata tak hanya terjadi pada masa kita mau masuk ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi (sekolah atau kuliah), saat bekerja pun ternyata ada masa orientasinya. Johnson lah buktinya. Ketika pertama bekerja di Kuala Lumpur pada salah satu media cetak ternama disana, ia sempat mengalami masa orientasi oleh seniornya.

“Sebagai advertising agency newspaper kan tugas saya mencari iklan. Waktu itu juga saya alami masa orientasi, zaman dahulu kan senior suka mengerjai junior. Sudah mencari alamatnya susah, karena saya dari kecil kan tidak tinggal di Kuala Lumpur. Bolak-balik naik bus, eh, tau-taunya alamatnya pun palsu,” kenangnya.

Meski demikian, Johnson menjadikan hal itu sebagai sebuah proses pembelajaran, dengan hal itulah ia mampu membangun karakter untuk menjadi seorang yang profesional. Kini, Johnson menikmati hasil yang diperjuangkannya dahulu.

Lantas, bagaimana perlakuan Johnson terhadap para bawahannya hingga ia bisa membangun tim yang solid? Syaratnya cuma satu, kata dia, memberikan contoh yang baik terhadap para bawahannya. Karena pastinya, kata Johnson, para bawahannya akan melihat bagaimana kita bekerja. Kalau nahkodanya saja bekerja asal, bawahan pun akan mengikuti, begitu pula sebaliknya. Kalau melihat bos-nya bekerja baik bawahan pun pasti ikut.

“I always show by example, ya, because saya tidak percaya saya harus paksa orang untuk buat sesuatu. Saya justru lebih senang memberikan orang contoh teladan saya, karena dengan demikian, mereka akan melihat atasan mereka saja bekerja seperti itu bagaimana dengan mereka,” tegas Johnson.

Contoh baik lainnya yang diberikan Johnson bukan hanya dalam hal besar saja, hal kecil pun ia lakukan. Seperti misalnya jam masuk kerja di kantor. Asal tahu saja, Johnson selalu datang pagi ke kantor, bahkan dapat dikatakan termasuk yang paling pagi. Sebelum pukul 07.00 ia telah tiba di kantor dan memulai aktivitas kerja hariannya. Bukan mentang-mentang orang nomor satu lantas dapat beralasan macet lah, inilah, itulah dan lain sebagainya.

Ya, karena mulai dari pukul 08.00 sampai pukul 17.00 itu Johnson punya jadwal meeting yang padat, kalau pun tidak meeting, tetap harus berbicara bisnis dengan rekan sejawatnya. Karenanya, dengan datang lebih pagi, memberikan waktu yang baik baginya untuk dapat membuka, membaca dan membalas e-mail.

“Alasan kenapa I like to come early, agar saya punya waktu untuk buat laporan, karena pada jam-jam yang tidak menentu saya harus keluar kantor. Kalau tak datang cepat bagaimana membuat laporannya,” kata Johnson beralasan.

Dengan cara itulah Johnson mendapat respect dari bawahannya. Karena itulah yang diinginkannya, mendapat respect dari bawahannya karena hasil pekerjaan serta integritas profesionalisme-nya, jadi bukan semata hanya karena Johnson seorang Presiden Direktur. Karena menurutnya, orang akan memberikan respect karena kita membawa sesuatu perubahan atau membuat hidup mereka itu sudah ada perubahan. Begitulah Johnson, sosok yang selalu leading by example dan selalu ingin membawa perubahan yang positif di mana pun dirinya berada. (ahm)

Related posts