Lelang SUN, Pemerintah Serap Rp15 Triliun

Penerbitan surat utang menjadi alternatif pendanaan yang menarik bagi investor. Terbukti, dari lelang yang dilakukan pemerintah melalui Kementerian Keuangan Indonesia, pemerintah berhasil menyerap dana sebesar Rp15 triliun, dari total penawaran yang masuk sebesar Rp30,07 triliun. Padahal, pemerintah sendiri menargetkan dapat memenangkan Rp10 triliun dari empat seri surat utang yang ditawarkan dalam penyelenggaraan lelang SUN Selasa (21/1).

Keempat seri yang ditawarkan pada SPN12150108, FR0069, FR0070, FR0071. Dari total penawaran yang masuk, seri SPN mencatatkan penawaran yang tertinggi sebesar Rp10,25 triliun, dengan imbal hasil (yield) tertinggi sebesar 7,60%, dan terendahnya di 6,90%. Sementara untuk seri FR0069, FR0070, FR0071 masing-masing tercatat sebesar Rp2,45 triliun, Rp8,34 triliun, dan 9,02 triliun. Imbal hasil yang dicatatkan untuk ketiga seri tersebut, yaitu sebesar 9,25% pada seri FR0071 dan terendahnya sebesar 7,70% untuk seri FR0069.

Kalangan analis menilai, volatilitas harga yang terjadi di semester pertama akan menyebabkan yield obligasi atau surat utang pemerintah mendatar, bahkan cenderung meningkat. Namun seiring menurunnya volatilitas di semester kedua yield akan menurun. Sementara dari sisi penerbit, surat utang masih akan menjadi alternatif yang menarik untuk mencari tambahan dana.

Apalagi pada tahun ini inflasi diprediksi akan lebih terkendali di level 5,03%, dan BI Rate tetap di 7,50% selama 2014. “Ini akan memberikan sentimen positif terhadap pasar obligasi Indonesia.” kata analis obligasi dari Danareksa Sekuritas, Yudistira Slamet.

Sementara itu, analis obligasi dari Lembaga Penilai Harga Efek Indonesia, Fakhrul Aufa mengatakan, penerbitan surat utang akan membanjir di tahun depan dengan adanya rencana pemerintah menerbitkan Rp 360 triliun obligasi dengan kebijakan front loading atau menerbitkan banyak surat utang di awal tahun. Hal ini menjadi salah satu strategi yang dilakukan untuk mengantisipasi ketidakpastian pasar akhir tahun depan.

Tekanan terhadap kinerja pasar obligasi sendiri, menurut dia, akan berkurang setelah stimulus Amerika Serikat (AS) dilakukan karena pasar telah melakukan antisipasi sebelumnya. Bahkan dia optimis harga obligasi berpeluang menguat di tahun ini. Salah satu pemicunya, jika tingkat inflasi stabil, suku bunga terkendali, dan nilai tukar rupiah juga stabil. “Jika asumsi itu terpenuhi maka harga obligasi berpeluang menguat,” ucapnya.

Adapun dari sisi supply, untuk penerbitan obligasi korporasi memang dipengaruhi kenaikan imbal hasil (yield), terlebih apabila terjadi kenaikan inflasi secara signifikan. “Dari sisi penerbit, dengan kenaikan yield atau kupon, biasanya diikuti oleh turunnya target penerbitan obligasi dari emiten yang bersangkutan, karena pertimbangan cost of fund yang lebih tinggi.” jelasnya. (lia)

Related posts