Wujudkan Ketahanan Energi Nasional

Rovicky Dwi Putrohari, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Sabtu, 01/02/2014

Sarat dengan pemikiran dan gagasan cemerlang seputar keenergian nasional, membawa Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) ini begitu dikenal di kalangan civitas akademika terkemuka. Dialah Rovicky Dwi Putrohari, sosok yang terpanggil mengabdi bagi kemajuan keenergian Tanah Air.

NERACA

Penulis asal Boston Amerika Serikat, Raplh Waldo Emerson pernah berujar; Setiap moment besar dan hebat disepanjang sejarah dunia adalah sebuah kemenangan yang berasal dari antusiasme. Demikian pula yang dilakukan Rovicky Dwi Putrohari, dalam menanamkan kecintaan pada ilmu geologi dan keenergian Indonesia bagi generasi muda.

“Saya ingin membumikan geologi dan mensosialisasikan pengetahuan seputar sumber daya alam pada generasi muda,” ujarnya. Karena ia menilai bila masyarakat patut lebih mengenal daerahnya masing-masing, “Kenalilah daerahmu sendiri,” ungkapnya pria dengan pengalaman 25 tahun dibidang geologist ini.

Bagi Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) ini, harapan menghembuskan rasa bangga dan kecintaan pada Tanah Air dikalangan generasi muda memang begitu kental. IAGI adalah organisasi profesi geologi di Indonesia yang dibentuk sejak tahun 1960 dengan anggota lebih dari 4000 orang geologist.

Antusias inilah yang mendorong Vicky akrab ia disapa, membentuk sejumlah anak organisasi IAGI. Seperti; Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI), merupakan sebuah forum yang terdiri atas pemuda pemudi geosaintis Indonesia, Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI), Forum Sedimentologiawan Indonesia (FOSI) dan Indonesian Society Petroleum Geologist (ISPG).

Pembentukan anak organisasi ini, beranjak dari pemikiran dirinya agar IAGI kelak mampu membangun regenerasi dimasa mendatang. “Untuk itu langkah pembentukan karakter kepemimpinan generasi muda patut dimulai dengan mencetak para calon pemimpin IAGI yang berkarakter dan berkualitas,” ungkapnya.

Kehadiran FGMI misalnya, diharapkan mampu menjadi jembatan penghubung antara mahasiswa, profesional muda dan senior dalam membentuk hubungan yang selaras. “Kita memang menciptakan sebuah wadah bagi professional muda untuk dapat berkumpul, berpendapat dan berekspresi dalam membangun keenergian nasional,” terangnya.

Vicky menjelaskan, ada tiga tema besar dalam setiap aktivitas IAGI, yaitu; Mitigasi, Konservasi, dan Ekstraksi. “Kita berupaya lebih mendorong kegiatan konservasi dan mitigasi, dan tidak hanya sekadar ekstraksi semata,” ungkapnya.

Bahkan untuk mendorong antusias kecintaan pengelolaan sumberdaya alam yang terbaik di kalangan mahasiswa, ia pun membentuk student chapter. Sebuah wadah bagi para geoscientist muda untuk berinteraksi seputar ilmu geologi.

“Berbicaralah dengan bahasa Anda, berinteraksilah dengan mood anak muda. Inilah yang kita wujudkan,” ungkap Vicky yang menilai pemanfaatan social media sangat tepat dikalangan anak muda sebagai salah satu sarana dalam berkomunikasi.

Langkah Vicky menggugah antusias generasi muda pada ilmu geologi pun berhasil. Bahkan kini sudah 10 perguruan tinggi yang telah membentuk student chapter geoscientist muda yang akan diikuti sejumlah perguruan tinggi lainnya di Indonesia. Excellent.

Vicky sendiri, sejak 1998, kerap menulis pada blog-nya seputar geologi, “Saya mendongeng tentang geologi, saya bercerita tentang geologi secara mudah dengan bahasa awam supaya mudah dibaca,” ungkap sosok pendiri Forum Geofisika Reservoir Indonesia (Fogri) ini.

Tumbuh Di antara Guru

Kecintaannya pada dunia geologi bagi pria kelahiran Yogyakarta, 12 Maret 1963, memang memang sudah terpupuk sejak kanak-kanak. Mengamati, memperhatikan, lalu bertanya-tanya seputar alam pegunungan begitu melekat dalam kenangannya.

Bersama kakaknya Roni Primantohari (lulusan Teknik Geodesi UGM, Yogyakarta), bermain menyelusuri bukit, kebun, sawah, dan bebatuan sungai seakan menjadi ritual yang kerap mereka lakukan.

Dan karena kesabaran sang bundalah, Sri Nurini yang bekerja sebagai guru TK menjadi pangkal kecintaan Rovic pada dunia geologi. “Ibu begitu sabar memberi jawaban dan menjelaskan seputar alam dan lingkungan,” kenang Rovic saat mengajukan segudang pertanyaan.

Begitupun dengan sang ayahanda tercinta (alm) Hajami yang juga berprofesi sebagai guru di SMPN 5 Yogyakarta. “Ayah begitu tenang dan sabar dalam menerangkan. Mereka (kedua orang tua) sangat mengagumkan,” ucapnya.

Lulusan Teknik Geologi UGM tahun 1987 ini berkisah awalnya ia tidak mengetahui seputar ilmu geologi, “Saya lebih suka mengamati, observer,” ujar sosok yang sejak remaja menyukai hobi naik gunung, “Hampir setiap minggu saya naik gunung. Itu kecintaan saya terhadap alam,” ungkapnya.

Dan kini pria dengan dua orang putra, Irsha Primanda (27) dan Devi Dwiputranto (21), buah pernikahannya dengan Yuenda Vicky Larasati ini, memandang bila secara geologi, Indonesia merupakan negeri yang sangat unik.

Tidak ada negara yang memiliki tingkat tektonik yang begitu sangat aktif selain Indonesia, “Alam kita adalah sebuah laboratorium yang luar biasa. Dan alam memang mampu bertutur lebih banyak daripada apa yang kita bayangkan," ungkapnya tersenyum.

Pengetahuan seputar geologi dan keenergian Indonesia juga membawa dirinya tampil sebagai narasumber di pelbagai kegiatan, termasuk mengajar layaknya seorang guru tingkat sekolah dasar. “Siapa yang bertanya, saya beri hadiah buku,” ungkap pria ini.

Bangun Indonesia Timur

Sektor migas merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara. Namun ia menyayangkan bila besarnya pendapatan migas, nyatanya tidak diikuti dengan reinvestasi dalam mencari lapangan eksplorasi baru.

“Sangat sedikit penemuan ladang-ladang migas baru,” ungkapnya. Dan semakin berkurangnya kegiatan pengeboran sumur migas ini, dikhawatirkan akan menjadi masalah utama ketika harga migas melambung dan subsidi semakin memberatkan APBN.

Menurut dia, salah satu faktor tidak berkembangnya sektor migas Indonesia adalah minimnya anggaran yang diberikan pada Kementerian ESDM. “Setiap tahun hanya sekitar 3% dari 28% penerimaan negara dari sektor migas, padahal masih banyak potensi migas yang dapat dieksplorasi terutama Indonesia bagian timur,” tuturnya.

Ia pun menilik beban subsidi dan beban biaya produksi (cost-recovery) menyebabkan pemahaman kondisi migas di Indonesia menjadi tantangan tersendiri, selain persoalan peraturan yang tumpang tindih yang menghambat operasional di lapangan. “Banyak yang harus kita perbaiki,” ungkapnya dengan bersemangat.

Vicky menjelaskan bila Wilayah Indonesia bagian Timur masih menyimpan potensi eksplorasi yang sangat besar. Seperti Wilayah Klamono (lapangan Tua), Kompleks Tangguh, dan Lapangan Abadi, atau potensi gas di Laut Timor, Selatan Banda, dan Pulau Papua. Untuk mempercepat kegiatan eksplorasi dan program akselerasi di Indonesia Timur, ujar Vicky patut dilakukan beberapa langkah.

Pertama, memperhitungkan studi wilayah kerja eksplorasi daerah yang sedang dikerjakan, kedua, me-review dan me-revisit daerah yang dikembalikan. Ketiga, mengevaluasi ulang new play concept, keempat, merevisi Peta Tektonik Indonesia, khususnya dengan menggunakan data-data yang baru yang diakuisisi sejak tahun 2005.

“Usaha percepatan bukanlah sebuah usaha yang dimulai dari nol,” ujarnya. Akselerasi semestinya mempercepat sebuah proses yang sudah atau sedang berjalan. Karena itu akselerasi harus disesuaikan dengan status atau tingkat kemajuan dari kegiatan eksplorasi migas. Tidak semua daerah dapat dipercepat dengan studi cekungan dan tidak semua daerah dapat dipercepat hanya dengan perizinan. Percepatan harus dilakukan pada semua stadia eksplorasi.