Kemiskinan itu Menyesakkan - Oleh: Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si, Guru Besar UIN Malang

Senja mulai tiba. Suara adzan maghrib terdengar bersautan di masjid-masjid ibukota. Panggilan Allah itu terdengar serempak menyeru manusia untuk segera bersujud kepadaNya. Hujan gerimis pun mengguyur sebagian wilayah ibukota, sehingga udara terasa agak dingin. Tetapi semuanya tak menghalangi orang-orang memenuhi panggilan tersebut. Saya pun segera menuju masjid dekat hotel tempat saya menginap untuk menunaikan sholat maghrib. Para jama’ah pun mulai berdatangan sambil berlarian kecil karena gerimis.

Ketika kaki melangkah menuju pintu gerbang masjid, pemandangan yang cukup memprihatinkan tampak di depan saya. Sederet orang usia lanjut – laki-laki dan perempuan -- duduk sambil menengadahkan tangan menyodorkan kotak kecil terbuat dari kardus minta belas kasihan para jama’ah yang datang. Saya perhatikan beberapa orang mengisi kotak tersebut dengan uang ala kadarnya alias seikhlasnya. Tetapi ada pula yang lewat begitu saja, tanpa mempedulikan mereka.

Mereka adalah orang-orang miskin ibukota yang terhimpit dalam relung-relung kehidupan metropolitan yang sering tidak ramah dan keras. Mereka seolah tidak peduli bahwa waktu itu adalah saat menunaikan ibadah sholat. Mereka hanya berjuang mendapatkan sesuatu sekadar untuk mempertahankan hidup.

Pemandangan itu sungguh mengganggu saya. Rasa kasihan, iba, campur sedih, mengharukan, dan trenyuh seakan menyatu menyelimuti hati saya sepanjang sholat, sehingga sholat saya tidak khusuk. Kasihan, karena mereka tak berdaya. Iba, karena mereka sudah pada usia lanjut yang mestinya bisa menikmati hari tuanya. Sedih, karena mereka tidak peduli waktu sholat, atau memang tidak tahu pentingnya sholat. Mengharukan, karena kehidupan ini seakan tidak adil. Sebab, di tengah-tengah orang kaya ibukota terdapat orang miskin yang sangat menderita. Dan, trenyuh karena saya sering tidak kuasa melihat penderitaan orang lain, apalagi menderita karena miskin. Hati saya tak kuasa.

Tetapi dalam batin saya juga bertanya-tanya apakah mereka benar-benar miskin sehingga menjadi pengemis ibukota. Jika memang miskin, mereka layak dibantu dan dibelaskasihani. Atau, sebenarnya mereka tidak semiskin itu, tetapi mengemis dijadikan profesi. Jika saya melihat dari penampilannya, tampaknya mereka benar-benar miskin. Pakainnya lusuh dan raut mukanya menunjukkan kesedihan dan pemandangan itu sungguh kontras dengan keadaan sekitar tempat mereka mangkal yang dikelilingi oleh rumah-rumah mewah dengan model kehidupan metropolis. Saya tidak tahu apakah penglihatan saya yang salah.

Tetapi memang dunia ini diciptakan sang Pencipta hanya dengan dua hal yang saling bertentangan, atau beroposisi biner. Ada tua dan muda. Ada kanan dan kiri. Ada bahagia dan sengsara. Ada laki-laki dan ada perempuan. Tak terlupakan, ada kaya dan ada pula miskin, dan seterusnya. Itulah warna kehidupan ini. Tuhan ciptakan isi dunia ini dengan berpasang-pasangan.

Kemiskinan telah memarjinalkan mereka baik secara sosial, ekonomi, maupun spiritual. Mereka tidak saja miskin secara material, tetapi juga hati. Oleh sebagian, mereka sering dianggap sebagai sampah masyarakat yang harus dibersihkan. Padahal, seharusnya diberdayakan. Tetapi memang tidak mudah. Orang miskin memiliki nilai sendiri memahami diri mereka. Karena itu, sosiologi kemiskinan berpandangan bahwa orang miskin tidak akan pernah menjadi kaya dengan diberi bantuan. Mereka bisa terlepas dari kemiskinan dengan diberdayakan melalui pendidikan yang baik.

Karena itu, pendidikan merupakan salah satu strategi yang handal untuk mengentas kemiskinan. Tetapi orang miskin juga memiliki sifat unik. Sering terjadi orang miskin tidak mau disebut miskin. Mereka juga punya harga diri sebagaimana orang lain. Jika pendidikan dipandang sebagai langkah terbaik memutus mata rantai kemiskinan, persoalannya di lapangan tidak semudah itu. Banyak anak keluarga orang miskin tidak mau sekolah, walau sudah difasilitasi oleh pemerintah.

Kemiskinan bukan saja persoalan kita, tetapi juga merupakan problematika kemanusiaan secara global. Hampir di semua negara, kecuali yang tergolong sebagai negara maju, kemiskinan menjadi salah satu isu sentral yang harus diselesaikan. Ada yang berhasil, tetapi ada pula yang gagal menyelesaikannya. Pertanyaannya adalah apa penyebab utama kemiskinan? Secara teoretik ada dua penyebab kemiskinan, yaitu kemiskinan kultural dan kemiskinan struktural. Kemiskinan kultural terjadi karena keterbatasan sumber daya alam dan karena kemiskinan keturunan. Secara alamiah, orangtua miskin akan meninggalkan warisan kemiskinan kepada anak cucunya, kecuali para anak cucu itu mau bekerja keras dan pantang menyerah. Tidak sedikit orang sukses berasal dari keluarga miskin. Tetapi semua orang sukses itu tidak ada yang tidak berawal dari kerja keras dan pantang menyerah. Tidak pernah terjadi keberhasilan datang dengan tiba-tiba. Pasti diraih dengan susah payah. Orang-orang sukses umumnya mereka yang pantang menyerah dan tidak ada terlintas kata putus asa.

Sedangkan kemiskinan struktural terjadi karena imbas dari pembangunan yang menekankan pertumbuhan ekonomi, tanpa mempertimbangkan pemerataan. Hasilnya ketimpangan kesejahteraan luar biasa. Mungkin orang-orang miskin yang disebut di muka bisa saja korban dari kebijakan pembangunan yang menggusur aset-aset mereka sehingga menjadi miskin. Kemiskinan model kedua ini justru sering terjadi di negara-negara yang sedang membangun, seperti Indonesia. Hingga saat ini setelah 68 tahun merdeka, orang miskin di negeri ini masih sangat banyak. Menurut statistik versi pemerintah, dari 240 juta penduduk, orang miskinnya masih mencapai 29, 5 juta orang. Sedangkan menurut Bank Dunia (World Bank), jumlah orang miskin di Indonesia masih mencapai 85 juta orang labih. Yang digolongkan miskin adalah mereka yang pendapatannya tidak lebih dari $2 per hari.

Para peminta yang duduk di depan pintu masjid tadi adalah sebagian dari jutaan orang miskin di negeri ini. Dengan begitu tingginya angka kemiskinan di negeri ini, apalagi versi Bank Dunia, cita-cita bangsa ini untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur belum tercapai. Adil terkait dengan penegakan hukum, sedangkan makmur terkait dengan kesejahteraan atau kecukupan ekonomi. Jika memperhatikan penegakan hukum yang demikian lemah, dan angka kemiskikan yang masih begitu tinggi disusul dengan ketimpangan yang semakin melebar tampaknya kedua-duanya masih memerlukan waktu yang panjang untuk bisa kita raih. Karena itu, jika masih kita temukan pengemis di berbagai tempat --- termasuk di pintu-pintu gerbang masjid--- kita memakluminya. Sebab, itulah potret kemiskinan yang sebenarnya, bukan lewat data statistik yang bisa dimanipulasi. (uin-malang.ac.id)

Related posts