Pengusaha Konstruksi Diajak Main Bisnis Energi - Janjikan Untung Besar

NERACA

Jakarta – Potensi dan peluang bisnis di sektor energi dan sumber daya mineral sangat besar. Maka dari itu, pemerintah mengajak para pengusaha konstruksi masuk di bisnis ESDM. Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan bahwa banyak sekali peluang kerja di sektor ESDM yang belum dilirik oleh anggota Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional (Gapensi), padahal masih banyak peluang yang bisa digali di bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.

“Selama ini Gapensi kebanyakan hanya berkutat pada pekerjaan sipil di bidang kebinamargaan, keciptakaryaan, pengairan, padahal ini perlu diperluas. Banyak sekali peluang kerja di bidang ESDM yang justru barangkali itung-itungannya bisa lebih besar dari bidang Pekerjaan Umum,” Ujar Jero Wacik, dalam keterangan persnya, Selasa (21/1).

Menurut dia, ada konsep besar di bidang energi yaitu Energi Mix. “Energi kita bergantung pada minyak hampir 50%, gas 20% batubara 24%, energi terbarukan 5%. Sehingga untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak kita pelan-pelan mulai bergeser pada energi lain selain energi fosil,” imbuh Wacik.

Ditambahkannya, investasi di sektor migas nilainya terus naik, hal ini dikarenakan untuk dapat berinvestasi di sektor migas nilainya bisa sampai puluhan tahun. Untuk tahun 2014, Indonesia akan investasi sekitar US$ 26 miliar r. Kemudian untuk energi lain, rata-rata 1 MW sekitar 2,5 juta dollar. Jadi, seharusnya potensi-potensi besar inilah yang bisa dimanfaatkan oleh para anggota gapensi.

“Mulailah berpikir ke sektor ESDM. Banyak sekali uang yang bisa diserap disektor ESDM untuk Gapensi. Kalau kita membangun PLTU maka disitu pasti ada dermaga, dermaga itu pekerjaan sipil, yang bisa dikerjakan oleh Gapensi,” ungkap Wacik.

Untuk mempermudah semua konsep di bidang energi, maka kami merangkumnya dalam Catur Dharma Energy (Empat agenda penting di bidang energi), yaitu Pertama, Tingkatkan produksi migas, yaitu dengan cara perbanyak eksplorasi, mempermudah izin, memberi insentif/fiskal, memperbaiki regulasi/aturan. Kedua, kurangi impor BBM.

Sebagai ilustrasi, akhir tahun lalu, Jero Wacik menyatakan bahwa sektor energi telah menyumbang bagi negara sebesar Rp398,4 triliun. Jero menjelaskan sektor energi adalah salah satu sektor yang sangat strategis bagi perekonomian nasional. Tidak hanya menyumbang bagi penerimaan negera, sektor tersebut juga mampu menyediakan pasokan kebutuhan energi, bahan baku industri dan meciptakan lapangan pekerjaan. "Selain itu, sektor energi mampu menarik investasi serta mendorong pertumbuhan daerah," katanya.

Dijelaskan Jero, dari penerimaan negara pada 2013 yang mencapai Rp398 triliun tersebut, terdiri dari penerimaan minyak dan gas bumi (migas) sebesar Rp 252,4 triliun, pertambangan umum Rp 145,1 triliun dan panas bumi sebesar Rp 0,87 triliun. "Secara umum, Kementerian ESDM telah berusaha bekerja keras untuk mencapai target penerimaan negara," kata Jero.

Selain itu, realisasi produksi energi 2013 mencapai 6,87 juta barel setara minyak per hari. Hal itu terdiri dari realisasi lifting minyak bumi 826 barel per hari, lifting gas bumi sebesar 1.204 barel setara minyak per hari, dan batu bara sebesar 4.841 barel setara minyak per hari. "Sedang realisasi volume BBM bersubsidi 2013 sebesar 46,51 juta Kilo Liter (KL). Ada penghematan 1,49 juta KL dibanding kuota 48 juta KL," kata Jero

Investor Asing

Dalam kesempatan yang berbeda, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Mahendra Siregar, mengatakan pemerintah menggulirkan pelarangan ekspor mineral atau tambang mentah sejak 12 Januari 2014 lalu, dampaknya banyaknya investor asing yang berdatang untuk dapat investasi di Indonesia. Tujuannya untuk membangun smelter pabrik pemurnian tambang.

"Para investor melihat konsistennya pemerintah menerapkan regulasi salah satunya pelarangan ekspor mineral mentah, ini berdampak makin banyak investor mendirikan pabrik di Indonesia," ujar dia.

Selain larangan ekspor tambang, kebijakan penggunaan bahan bakar nabati (BBN) sebanyak 10% dalam tiap liter solar juga ikut menarik investor asing. "Kami di BKPM sudah menerbitkan izin untuk sejumlah perusahaan yang nilai investasinya kurang lebih Rp 150 triliun. Tapi realisasinya bertahap tidak untuk 2014 saja, tapi dalam beberapa tahun ke depan," katanya.

Mahendra mengatakan, ada 28 perusahaan yang sudah memiliki izin produksi dan 3 perusahaan sudah siap untuk produksi pemurnian mineral. "Jadi 25 perusahaan lagi sedang berjalan, tahun ini juga akan ada 2 pabrik biji besi, 1 pabrik pengolahan bauksit, 2-3 tahun ke depan ada 3 pengolahan bauksit, 5 biji biji besi, 14 nikel dan 3 tembaga. Kalau pemerintah tidak konsisten maka mereka yang sudah tanamkan investasinya akan wait end see dulu," ungkap Mahendra.

Mahendra menambahkan, selain di sektor pertambangan, ada pula sektor hilirisasi sawit (Crude Palm Oil) yang terus didorong pemerintah. "Ada 58 perusahaan yang sudah memiliki rencana investasi dan memperoleh izin BKPM dengan nilai investasi mendekati Rp 40 triliun. Ini akan dapat mengurangi dampak ketergantungan terhadap impor BBM," katanya.

Mahendra juga ingin agar Pertamina segera merampungkan perjanjian penyerapan biodiesel dengan produsennya di dalam negeri, seperti yang telah dilakukan PT PLN (Persero). "Saya ingin Pertamina contoh PLN yang sudah siap menyerap biodiesel yang berasal dari 3 perusahaan dengan kapasitas 1,7 juta ton untuk mengantikan solar untuk memproduksi listrik pada pembangkit diselnya. Kalau seperti ini ada yang siap serap maka makin banyak perusahaan tanam investasi untuk hilirisasi sawit dan makin banyak penghematan karena impor BBM yang berkurang," tuturnya.

Related posts