Tiga Cara Batasi Kepemilikan Asing di Bank

Banten – Pembatasan kepemilikan asing salah satunya dapat dilakukan dengan melalui konsolidasi lewat merger dan akuisisi. Menurut Chief Economist PT Bank Negara Indonesia Tbk Ryan Kiryanto, ada tiga opsi yang dapat dilakukan untuk membatasi kepemilikan asing itu. "Pertama, melalui konsolidasi baik merger maupun akusisi," ungkap dia dalam Lokakarya dengan Media di Karawaci, Banten, Sabtu.

Kedua, lanjutnya, bisa pula melalui capital market dengan divestasi. "Bisa juga yang ketiga melalui strategic partner," tandasnya. Dengan tiga pola ini otomatis kepemilikan saham utama yang terlalu dominan bisa dikurangi.

Namun, aturan mengenai kepemilkan asing ini sebaiknya jangan diberlakukan berlaku surut. "Maksud saya jangan sampai investor asing yang sudah memiliki saham di bank itu, begitu aturan ini diberlakukan mereka dipaksa untk menerapkan aturan ini," ucapnya. "Tapi mereka di berikan kelonggaran waktu, katakanlah 3 sampai 5 tahun ke depan. Jadi ada beberapa bank yang dimiliki asing sudah diarahkan agar mereka tidak mayoridas atau dominan itu harus gradual atau bertahap. Menurut saya jangka waktu 3-5 tahun ke depan itu idwal," papar Ryan.

Dijelaskan Ryan, yang perlu digarisbawahi dalam aturan pembatasan kepemilkan asing ini hukan berarti anti asing. "Tapi yang lebih ditujukan adalah bahwa dengan pembatasan kepemilkan asing atau lokal itu untuk memperbaiki governance atau tata kelola. Jadi tidak terjadi lagi kasus sepeti bank century," tandasnya.

Kepemilikan yang terdistribusi, lanjutnya, memperkuat governance. "Governance yang baik akan membuat kinerja bank baik. Yang kedua asas resiprokal atau kesetaraan. Sudah saatnya BI lebih intensif lagi melakukan pendekantan kepada bank sentral-bank sentral negara lain," katanya.

Terutama bank sentral dari negara yang yang sudah dipilih bank nasional untuk buka outlet di luar negeri. "Nanti ada MES 2015. Mungkin BI sudah sebaiknya ancang-ancang melakukan pendekatan kepada Vietnam, Kamboja, Thailand dan Filipina yang kemungkinan bank nasional buka outlet di sana," tuturnya.

Ryan mengatakan, BI harus memulainya dari sekarang. "Jangan sampai bank-bank itu buka cabang di indonesia. Lebih baik kita melakukan penyebuan terlebih dahulu," kata dia. Sebelumnya, Bank Indonesia tengah menyiapkan aturan untuk membatasi kepemilikan asing baik secara individu maupun kelembagaan di bank nasional.

Perkuat Modal

Terkait permodalan bank, kinerja Perbankan sampai Mei 2011 mencatatkan pertumbuhan yang besar, terutama pada pertumbuhan permodalan yang tumbuh sampai 32,3 persen dalam tahunan (year on year) bahkan year to date atau bulanan tembus 17,4 persen.

Ryan Kiryanto memandang ini adalah sesuatu kinerja yang baik dalam perbankan dalam menyambut BASEL III. "Dari seluruh sisi, pertumbuhan modal tercatat paling besar. Ini sangat bagus, karena ada kesiapan perbankan untuk menghadapi penerapan BASEL III," ungkap Ryan.

Padahal, di sisi lainnya, selama tahun berjalan, pertumbuhan kredit perbankan hanya sebesar tujuh persen menjadi Rp1.889,4 triliun, dibandingkan akhir tahun 2010 sebesar Rp1.765,8 triliun. Bahkan dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) hanya sebesar 2,5 persen menjadi Rp 2.397,1 triliun, dibandingkan akhir tahun 2010 sebesar Rp2,338,8 triliun. "Itu bank-bank swasta hasil RUPS memutuskan tidak membagi dividen, untuk memperkuat permodalan. Sebagai shock breaker (penahan). Nah salah satu untuk menambah modal itu kan dari dividen. Jadi ini cara yang sangat baik," tukasnya

Walaupun demikian dia menambahkan kalau hanya mengandalkan pertumbuhan modal dari laba (organik), itu memakan waktu setahun, jadi lebih baik bila mulai juga melalui investor lewat aksi korporasi, maupun melalui merger. "Pada BASEL III ini kan semua risiko dihitung, jadi harus memupuk modal untuk bantalan," ujarnya

Sebagai informasi BASEL III sendiri akan mulai diujicobakan pada tahun 2015, dan resmi diimplementasikan pada tahun 2019, sehingga penting bagi industri perbankan untuk mulai meningkatkan permodalannya.

Permodalan perbankan sendiri tumbuh 32,3 persen pada Mei 2011 menjadi Rp379,6 triliun dibandingkan Mei 2010 lalu sebesar Rp286,9 triliun. Bahkan dalam tahun berjalan, sampai Mei 2011 sudah mencapai 17,4 persen dibandingkan akhir tahun 2010 sebesar Rp323,2 triliun.

Tak hanya itu, Ryan pun menyorot pertumbuhan penyaluran kredit perbankan yang terbilang tinggi yaitu mencapai 23,4 persen sampai semester I-2011 ini, terus dibayangi dengan adanya risiko bubble yang akan membuat perbankan kolaps. Bubble pertumbuhan kredit ini akan terjadi pada kredit konsumtif, yaitu kredit otomotif dan kredit properti.

"Risiko bubble ini akan terjadi ketika debitur tidak lagi mampu membayar kredit mereka, sehingga Non Performing Loan (NPL) atau kredit macet perbankan akan membengkak," Jelas Ryan.

Besarnya risiko bubble dalam kredit otomotif dijelaskan Ryan karena Indonesia masih terancam dengan adanya isu pembatasan BBM subsidi, sehingga akan terus mengancam tingginya angka inflasi. Sedangkan resiko bubble pada kredit properti karena kelakuan para pemilik bisnis properti lebih memilih untuk menginvestasikan properti mereka daripada menjualnya.

"Ini dinilai tidak normal, karena ini dijadikan investasi, dalam setahun dua tahun harganya langsung naik, sehingga nanti orang tidak mau membeli dan rumahnya tidak terjual, dan supply akan lebih besar dari demand, dan krisis seperti 1998 akan terjadi lagi," Jelasnya.

Bukan hanya itu pertumbuhan perekonomian Indonesia sampai saat ini yang tercermin dari membaiknya aset finansial ternyata masih mempunyai risiko yang tinggi untuk dua sampai tiga tahun ke depan.

Ryan menjelaskan risiko tersebut adanya sudden reserval dengan membaiknya perekonomian Negara Eropa dan Negara Amerika. "Ini akan membuat euro dan dolar menguat, sehingga rupiah akan terus melemah," tambahnya

BERITA TERKAIT

Astra Hadirkan Tiga Platform Digital - Perkuat Bisnis Digital

NERACA Jakarta – Keseriusan PT Astra Internasional Tbk (ASII) mengembangkan bisnis digital diwujudkan dengan mendirikan usaha dibidang fintech. Memanfaatkan pertumbuhan…

Kinerja IMF dan World Bank Perlu Dievaluasi

      NERACA   Jakarta - Pengamat ekonomi Arimbi Heroepoetri meminta kinerja Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF)…

1001 Cara Menjaga Rupiah

Riset terbaru dari Nomura Holdings Inc menyatakan Indonesia merupakan salah satu dari delapan negara berkembang yang mempunyai risiko kecil atas…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Mandiri Inhealth Tingkatkan Kualitas Layanan - HUT Ke 10

    NERACA   Bogor - Menyambut Hari jadinya yang ke 10 pada 6 Oktober mendatang PT Asuransi Jiwa Inhealth…

BNI Dukung Perhelatan Asian Para Games 2018

  NERACA   Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) kembali berpartisipasi sebagai Official Prestige Digital Banking Partner…

Industri Asuransi Jiwa Optimistis Pertumbuhan Unit Link

  NERACA   Denpasar - Perusahaan asuransi jiwa Prudential Indonesia optimistis pertumbuhan produk asuransi jiwa yang menggabungkan investasi atau "unit…