KPPI Selidiki Impor Produk Baja - Impor Melonjak

NERACA

Jakarta – Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) akan menyelidiki beberapa produk baja seperti batang dan batang kecil, dicanai panas, dalam gulungan yang putarannya tidak beraturan, dari besi atau baja bukan paduan, atau dari baja paduan lainnya. Semua produk tersebut dengan nomor Harmonized System (HS.) 7213.91.10.00, 7213.91.20.00, 7213.91.90.00, 7213.99.10.00, 7213.99.20.00, 7213.99.90.00, dan 7227.90.00.00.

Ketua KPPI Ernawati mengungkapkan bahwa upaya penyelidikan tersebut setelah menerima permohonan dari PT. Ispat Indo dan PT. Krakatau Steel (Persero), Tbk. pada 23 Desember 2013 untuk melakukan penyelidikan atas lonjakan jumlah impor barang yang dimintakan perlindungan. “Kedua perusahaan atau pemohon mengaku telah mengalami kerugian serius atau ancaman kerugian serius yang diakibatkan oleh lonjakan jumlah impor barang yang dimintakan perlindungan dimaksud,” ungkar Ernawati dalam keterangan pers yang diterima Neraca, Selasa (21/1).

Ia menjelaskan bahwa setelah melakukan penelitian terhadap permohonan tersebut, KPPI memperoleh bukti awal tentang lonjakan jumlah impor barang yang dimintakan perlindungan dari tahun 2009 hingga 2013 (Januari-Juni), dan kerugian serius atau ancaman kerugian serius yang dialami oleh pemohon akibat lonjakan jumlah impor barang yang dimaksud.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor barang yang dimintakan perlindungan pada tahun 2009 sebesar 155.986 ton. Kemudian, pada tahun 2010 mengalami lonjakan menjadi sebesar 222.876 ton, tahun 2011 sebesar 254.595 ton, dan pada tahun 2012 menjadi 444.701 ton. Jumlah impor cenderung terus melonjak pada tahun 2013 (Januari-Juni) yaitu sebesar 379.430 ton.

“Lonjakan jumlah impor barang yang dimintakan perlindungan berdampak negatif pada pemohon. Hal tersebut terlihat dalam pangsa pasar pemohon yang terdesak oleh pangsa pasar impor,” ujar Ernawati. Berkaitan hal tersebut, sambung Ernawati, mulai 17 Januari 2014 pihaknya akan memulai penyelidikan atas lonjakan jumlah impor barang yang dimintakan perlindungan tersebut.

Industri Melemah

Dilain sisi, Pengamat Ekonomi Reza Priambada mengatakan, industri baja nasional masih melemah sebagai akibat belum pulihnya pasar baja di luar negeri. “Harga baja terus mengalami penurunan sehingga akhirnya berpengaruh terhadap pasar di dalam negeri,” kata Reza. Harga baja dunia turun 8% menjadi US$600 per ton pada September 2013, dibanding bulan sebelumnya sebesar US$605 per ton. Menurut Reza, harga baja masih akan tertekan, seiring kelebihan kapasitas yang sangat kronis di China negara dengan industri baja terbesar di dunia.

Berdasarkan data yang dirilis Middle East Steel, lembaga riset baja Timur Tengah, harga baja canai panas (hot rolled coil/HRC) yang selama ini menjadi acuan belum mampu menembus US$700 per ton, padahal merupakan harga tertinggi dalam setahun terakhir.

Ketua Umum Ikatan Pabrik Paku dan Kawat Indonesia (Ippaki) Ario N Setiantoro menilai, kejatuhan harga baja di pasar global menekan harga baja domestik. Ini diperparah dengan derasnya arus impor produk baja hulu dan hilir. “Harga produk hilir seperti paku dan kawat cenderung turun dibanding tahun lalu. Saat ini, harga paku berkisar Rp 9.000-9.500 per kilogram (kg), sedangkan kawat Rp 7.500-9.000 per kg,” ujar Ario.

Related posts