BBM Tidak Naik Sebelum Pemilu

NERACA

Jakarta – Pemerintah memastikan dalam waktu dekat akan mengajukan perubahan struktur Anggaran Perencanaan Belanja Negara (APBN) 2014. Kemungkinan besar di dalamnya aka nada perubahan pada struktur subsidi bahan bakar minyak. Namun juga dipastikan perubahan subsidi BBM tidak akan dilakukan sebelum pemilu. “Pemerintah memang sedang membahas perubahan strukturisasi dalam APBN dan APBN-P nya pasti akan segera ada. Tapi konten perubahannya sendiri belum bisa kita sebutkan sekarang,” kata Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, dalam Acara Tantangan Ekonomi 2014 dan Prospek Investasi Surat Utang Perumahan di Gedung Graha Niaga, Jakarta, Senin (20/1).

Bambang juga menjelaskan bersamaan dengan adanya pembahasan APBN-P 2014 pada kubu eksekutif di dalamnya turut mempersoalkan struktur subsidi yang tepat. Pasalnya pemerintah sedang mencari cara untuk menjaga keberlanjutan anggaran untuk tahun-tahun selanjutnya. "Pastinya kita juga harus berpikir kebijakan subsidi ke depan itu harus yang lebih membuat anggaran lebih suistanable. Jadi kita harus cari cara supaya subsidi BBM dapat dibenahi. Agar anggaran kita tidak menjadi susah dan terus terbebani dalam pengelolaannya.”

Kemudian Bambang mengatakan jika sistem subsidi tidak segera diperbaiki maka ketidakpastian subsidi akan sangat mempengaruhi defisit APBN. Bahkan secara berkelanjutan dapat membahayakan keberlangsungan anggaran. Sedangkan jika anggaran sangat dipengaruhi dengan ketidakpastian besaran subsidi maka akan sangat mempengaruhi defisit neraca pembayaran juga.

Bambang menerangkan sejauh ini dampak dari beban subsidi BBM sangat nilai tukar rupiah dan struktur APBN. Jika merujuk pada tahun 2013 lalu dampak pelemahan rupiah membuat lonjakan anggaran subsidi BBM mencapai sekitar Rp50 triliun dari total yang ditargetkan. Sedangkan untuk menutup lonjaka tersebut pemerintah sendiri mangku tidak mudah. “Namun dapat dipastikan tidak ada kebijakan baru soal harga BBM bersubsidi hingga terlaksananya Pemilu (Pemilihan Umum) tahun 2014 ini. Segala implementasi yang berkaitan dengan harga BBM bersubsidi akan diterapkan usai pemilu. Jadi tidak akan ada kebijakan apapaun terkait BBM sebelum terselenggaranya pemilu,” tegas Bambang.

Sebelumnya Wakil Presiden Boediono mengakui pemerintah bisa saja melakukan kebijakan dengan menaikkan harga BBM bersubsidi pada tahun ini jika konsumsi BBM subsidi terus melonjak. Pasalnya Kebijakan menaikkan harga itu merupakan salah satu cara yang paling efisien untuk memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan. Mengingat konsumsi BBM terus meningkat tanpa diimbangi dengan produksi dalam negeri.

"Jika dibutuhkan pengendalian yang lebih tepat, saya kira pemerintah tidak akan ragu mengeluarkan kebijakan menaikkan harga BBM jika diperlukan. Dengan menaikan harga itu barangkali sisi fiskal dan neraca perdagangan bisa kita hadapi supaya tidak terus melonjak. Jadi ada saja kemungkinannya harga BBM bersubisi kembali naik pada tahun 2014 ini,” ungkap Boediono. [lulus]

BERITA TERKAIT

Pakar Hukum Tata Negara - Ada Gerakan Ingin Gagalkan Pemilu

Mohammad Mahfud MD Pakar Hukum Tata Negara Ada Gerakan Ingin Gagalkan Pemilu Purwokerto - Pakar hukum tata negara Mohammad Mahfud…

Niaga Energi - Harga Minyak Naik Terpengaruh Atas Kesepakatan Produksi OPEC

NERACA Jakarta – Harga minyak dunia naik untuk hari kelima pada perdagangan berada di jalur untuk kuartal pertama terkuat dalam…

Sambut Wacana Junior Program - KSEI Pastikan Tidak Ada Kendala Berarti

NERACA Jakarta – Wacana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membuka akses bagi remaja membuka rekening efek tanpa KTP atau lebih dikenal…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

MRT Dinilai Tak Pengaruhi Pasar Otomotif

    NERACA   Jakarta - Pasar otomotif di wilayah Jakarta dan sekitarnya dinilai tidak akan terpengaruh dengan kehadiran Moda…

Harga Avtur Turun, Maskapai Diminta Turunkan Harga Tiket

    NERACA   Jakarta - Sejumlah kalangan meminta maskapai penerbangan nasional menurunkan harga tiket pesawat menyusul penurunan harga avtur.…

WIKA Jajaki Peluang Proyek Infrastruktur Di Papua Nugini

      NERACA   Jakarta - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Wijaya Karya (WIKA) menjajaki berbagai peluang proyek…