Kebijakan Tempe Itu Bernama Suku Bunga Tinggi

NERACA

Jakarta – Industri properti diprediksi terancam lesu sepanjang 2014 lantaran Pemerintah menerapkan kebijakan tempe. Artinya, dengan menerapkan kebijakan tingkat suku bunga acuan yang tinggi justru menjadi "hantu" bagi industri properti. Bahkan, pelemahan nilai tukar rupiah semakin membuat beban biaya produksi berat. “Defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia sangat tinggi hingga senilai US$32 miliar pada akhir 2013 kemarin. Sedihnya lagi ekspor yang seharusnya bisa menutupi ternyata tidak punya nilai jual karena tak berdaya saing. Untuk menurunkan impor, faktanya, Pemerintah juga mengalami kesulitan. Akhirnya untuk menjaga rupiah yang dilakukan ternyata kebijakan tempe, yaitu mematok suku bunga lebih tinggi,” kata Ekonom Fauzi Ichsan, dalam Acara Tantangan Ekonomi 2014 dan Prospek Investasi Surat Utang Perumahan di Gedung Graha Niaga, Jakarta, Senin (20/1).

Tingginya suku bunga acuan atau (BI Rate) yang bertengger di level 7,5% dinilai membuat pertumbuhan penjualan properti akan lambat pada tahun 2014 ini. Padahal kebutuhan masyarakat akan produk properti masih tinggi. Mencapai 800 ribu unit per tahun. “Tapi yang dapat dipenuhi oleh pengembang hanya sebesar 300 ribu unit per tahun. Namun Pemerintah justru memperlambat pertumbuhannya. Maka sangat besar potensinya terjadi over value pada harga properti di dalam negeri. Akhirnya masyarakat sendiri yang sulit,” terang Fauzi.

Kemudian Fauzi mengimbau kepada pelaku industri properti untuk mempertajam strategi penjualan agar target pertumbuhan tetap terjaga. Pasalnya, hingga akhir 2014, tidak mungkin BI Rate akan turun. Justru ada signal naik ke level 8% jika setelah tapering off dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) dilaksanakan. “Pelaku industri harus mulai fokus pada segmentasi menengah ke bawah dengan harga yang terjangkau. Sebab di sektor tersebut pasarnya masih dapat tumbuh dengan baik. Lagipula tidak ada harapan BI Rate dapat turun. Sepengetahuan saya justru BI sudah memberikan signal akan menaikkan BI Rate menjadi 8%,” tutur Fauzi.

Pada kesempatan yang sama Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Eddy Ganofo mengamini pandangan tersebut. “BI Rate yang sudah naik sebanyak 175 bps (basis poin) hingga akhir tahun 2013 kemarin membuat suku bunga acuan bertengger di level 7,5%. Tingkat suku bunga setinggi itu sangat memberatkan penjualan properti sepanjang tahun 2014 ini. Maka kami juga belum tahu strategi apa yang dapat dilakukan jika BI Rate di 8%,” paparnya.

Selain itu Eddy menjelaskan ketidakmampuan pemerintah menjaga nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing juga membuat pelaku industri properti mengalami keberatan dari sisi produksi. Pasalnya dalam membangun sebuah hunian masih ada sebagian material yang perlu didatangkan melalui impor. Artinya pelaku industri harus menambah beban biaya untuk mendapat material tersebut berhubung nilai rupiah sudah anjlok di kisaran Rp12.100 per dolar AS. “Sementara ini kita masih coba dulu terus produksi rumah untuk menengah ke bawag. Untuk yang ru bawah subsidi (bawah) kami targetkan dapat terproduksi sebanyak 80 ribu unit hingga akhir 2014. Sedangkan rumah menengah dapat terproduksi hingga 30 ribu unit,” pungkasnya. [lulus]

Related posts