Akuisisi Pertamina-PGN Berjalan Alot

NERACA

Jakarta- Rencana PT Pertamina (Persero) mengakuisisi PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) ternyata masih cukup alot diperdebatkan, meskipun langkah akuisisi tersebut dinilai akan sangat bergantung pada hasil lobi antara kedua pihak. “Mau PGN akuisisi Pertagas dulu, baru kemudian PGN diakuisisi Pertamina, atau dilakukan satu tahap. Itu sama saja. Tapi, efisien tentunya satu tahap,” kata Analis PT Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya di Jakarta, Senin (20/1).

Menurut dia, jika langkah akusisi ini terealisasi, PGN tetap akan berada di bawah naungan Pertamina. Pasalnya, Pertagas juga dimiliki Pertamina. Sementara, PGN nantinya yang jadi induk (di sektor gas). “Jadi, sebenarnya yang menjadi kunci itu di PGN. Tinggal bagaimana kemampuan lobi Pertamina saja," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Marzuki Ali mengatakan, keputusan Kementerian BUMN, Dahlan dinilai gegabah dan terlalu terburu-buru untuk mengizinkan akuisisi PGN oleh Pertamina. Diketahui, isu akuisisi Pertamina yang disampaikan kementerian BUMN dalam beberapa bulan terakhir, saham PGN jatuh sehingga kapitalisasinya turun hingga puluhan triliun rupiah.

Menurut dia, kebijakan BUMN, juga perlu mencermati siapa yang mendapatkan untung di atas kerugian pemegang saham publik yang sudah lama memegang saham PGN. Apalagi terkait dengan perusahaan publik.“Kasihan para Dana Pensiun yang harus cut loss sesuai ketentuan mereka, dan kalau investor minoritas menuntut, siapa yang akan menanggung?” tandasnya.

Selain akan menciptakan ketidakpastian, rencana ini juga dinilai sangat tidak produktif bagi PGN yang kini memiliki bisnis dengan pertumbuhan yang baik dan berkelanjutan. Analis Capital Bridge, Haryajid Ramelan pun sebelumnya menilai, sebaiknya jutsru PGN yang mengakuisisi Pertagas--anak usaha Pertamina. Selain akan memperkuat PGN secara korporasi, konsolidasi bisnis gas bumi itu bakal lebih mempercepat pembangunan infrastruktur dan peningkatan pemanfaatan gas bumi di Indonesia."Reputasi PGN sebagai perusahaan yang menjunjung tinggi GCG akan ikut terpengaruh jika Pertamina masuk ke PGN. Penurunan harga saham PGN sejak awal pekan ini, menjadi indikasi pasar menolak rencana akusisi Pertamina," jelasnya.

Sebagai salah satu emiten dengan fundamental kuat dan didukung oleh prospek bisnis yang bagus, PGN memiliki sejumlah prasyarat untuk menjadi BUMN gas nasional. Selain telah berpengalaman lebih 40 tahun di bisnis gas, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir PGN mampu membangun infrastruktur gas senilai lebih dari Rp40 triliun.

Berkat fundamental yang baik, PGN memiliki laverage utang yang sangat besar yaitu mencapai 300% daripada modalnya. Dengan kapasitas yang cukup besar untuk mendapatkan modal guna membiayai ekspansi bisnisnya. "Diantara banyak emiten energi di bursa, PGN merupakan perusahaan dengan kemampuan pendanaan yang sangat kuat. Tapi jika Pertamina masuk, situasinya pasti akan berbeda karena kondisi keuangan Pertamina juga lain. (lia)

Related posts