SMF akan Terbitkan Surat Utang - Penuhi Kekurangan Backlog Perumahan

NERACA

Jakarta - Pasar properti dalam negeri terancam bubble nilai dengan kesanggupan suplai hanya sebesar 300 ribu unit per tahun dari total kebutuhan sebesar 800 ribu unit per tahun. Sehingga terjadi backlog sebesar 400 unit pertahun. Untuk mengantisipasi terjadinya bubble property itu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berencana menerbitkan utang baru perumahan kepada bank dalam negeri pada 2014.

“Kebutuhan dalam negeri akan suplai perumahaan pertumbuhannya bisa mencapai 800 juta unit per tahun namun ketersediaan hanya mampu mencukupi sekitar 300 ribu unit per tahun. Bahkan secara keseluruhan backlog saat ini bisa mencapai 15 juta unit per tahun. Jadi wajar jika mulai ada kekhawatiran bubble nilai properti kanera suplainya tidak sesuai sama demand,” kata Direktur PT Sarana Multi Finance (SMF), Raharjo Adisusanto, dalam Acara Tantangan Ekonomi 2014 dan Prospek Investasi Surat Utang Perumahan di Gedung Graha Niaga, Senin (20/1).

Untuk itu Raharjo mengaku pihaknya akan menggelar penerbitan surat utang perumahan pada tahun 2014 ini dengan asumsi serapan mencapai sekitar Rp5,3 triliun. Namun untuk realisasinya masih menunggu kepastian hukum dari regulator. Pasalnya untuk menerbitkan surat utang perusahaan BUMN harus mendapat legalitas dari lembaga yang berwenang.

“Sementara ini masih menunggu bagaimana OJK (Otoritas Jasa Keuangan) mau mendukung rencana kita ini. Urgensinya tentu untuk mencukupi kebutuhan perumahaan untuk masyarakat. Sekaligus menghindari terjadinya bubble nilai property,” tutur Raharjo.

Lanjut, Raharjo menjelaskan pada tahun 2013 kemarin SMF sempat menerbitkan surat utang untuk dipinjamkan kepada penyalur KPR sebesar Rp3,507 triliun. Angka itu terdiri dari dana sekuritas sebesar Rp1 triliun dan penyaluran pinjaman sebesar Rp2,507 triliun.

Lebih jauh mengenai kegiatan sekuritas senilai Rp1 triliun pada tahun 2013 SMF memfasilitasi dalam bentuk penerbitan Efek Beragun Aset (EBA) KPR BTN ke-6 yang terbit pada Desember 2013 kemarin. Dengan transaksi sekuritisasi keenam tersebut maka jumlah transaksi sekuritisasi SMF dari tahun 2009 sampai Desember 2013 melalui penerbitan EBA sudah mencapai Rp3,95 triliun.

“Jadi semenjak SMF dibentuk memag telah terjadi pertumbuhan dan pengembangan pasar pembiayaan sekunder perumahan. Ini memang jadi fokus yang terus kami tingkatkan. Dan investor yang berinvestasi pada surat utang terbitan SMF selama ini sebagian besar dari industri keuangan seperti perusahaan asuransi, dana pensiun, bank dan reksadana,” terang Raharjo.

Pada kesempatan yang sama Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Firdaus Djaelani mengatakan pihaknya tengah menyiapkan peraturan mengenai efek berbasis aset keuangan atau EBA, baik dalam bentuk surat utang maupun surat partisipasi. Persiapan peraturan itu diklaim sebagai bukti dukungan OJK kepada program pemerintah mengenai penyediaan perumahaan. Termasuk memberi dukungan kepada SMF yang bertanggungjawab akan hal tersebut.

"Meskipun dibayangi isu bubble nilai di sektor kredit perumahan, nampaknya kebutuhan perumahan khususnya menengah ke bawah masih cukup tinggi. Untuk itu kami terus menghimbau kepada investor yang mengelola dana jangka panjang seperti dana pensiun, perusahaan asuransi, perusahaan penjaminan dan BPJS untuk mempertimbangkan investasi pada surat utang yang dijamin aset KPR. Sebab dengan investasi surat utang yang dijamin aset dana jangka panjang ini tingkat keamannnya lebih tinggi. Karena sejumlah aset itu akan dikelola dan disalurkan ke KPR yang lebih aman,” pungkasnya. [lulus]

Related posts