BTPN Akuisisi Bank Sahabat - Dirikan Unit Syariah

NERACA

Jakarta - Untuk mengembangkan bisnis yang berfokus pada pelayanan dan pemberdayaan masyarakat, PT Bank Tabungan Pensiunan Negara Tbk berencana mengembangkan bisnis Unit Usaha Syariah (UUS) BTPN menjadi Bank umum Syariah (BUS). Direktur BTPN, Anika Faisal mengatakan untuk menjalankan rencana tersebut, BTPN telah menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk meminta persetujuan dari pemegang saham untuk mengambil alih 70% PT Bank Sahabat Purba Danarta (Bank Sahabat) sehingga BTPN menjadi pemegang saham mayoritas dan pengendali.

Nantinya, menurut Anika setelah perseroan menjadi pemegang saham pengendali, Bank Sahabat akan berubah nama menjadi BTPN Syariah. BTPN akan melakukan pemisahan atas Unit Usaha Syariah yang sekarang dimiliki kepada Bank Sahabat dengan menunggu izin atau persetujuan instansi berwenang dalam hal ini otoritas jasa keuangan (OJK). Selain itu, hal tersebut dilakukan setelah Bank Sahabat dikonversi dan mengikuti prinsip-prinsip perbankan syariah yang akan menjadi platform bisnis barunya. “Setelah RUPSLB ini, langkah kami berikutnya adalah menunggu regulator memberikan izin konversi Bank Sahabat menjadi bank syariah dan izin pemisahan (spin off) UUS BTPN,” kata Anik di Jakarta, Senin (20/1).

Direktur Keuangan BTPN Arief Harris menambahkan, dengan adanya akuisisi ini, maka aset yakni BTPN saat ini asetnya Rp1,8 triliun dan pinjamannya Rp1,3 triliun. Bank ini begitu dikonversi dari Bank Syariah, terus di spin off ke sana asetnya akan jadi Rp2,5 trilun. Arief melanjutkan, BTPN melihat pada perkembangannya nanti, Bank Sahabat memiliki masa depan yang cerah. Menurutnya, bisnis modal Bank tersebut cukup baik.

Di kesempatan yang sama, Presiden Direktur Bank Sahabat Gatot Adi Prasetyo mengatakan, saat ini Bank Sahabat memiliki aset sekitar Rp348 miliar dengan total jumlah nasabah 60 ribu-an. "Bank sahabat asetnya Rp348 miliar dengan nasabah tipe seperti di BTPN UUS sekitar 60 ribuan, dan total semuanya hampir 150 ribuan. Dan saya rasa yang menjadi fokus, lebih ke nasabah yang 60 ribu-an," katanya. Gatot menambahkan, saat ini produk layanan pembiayaannya banyak membidik keluarga pra sejahtera dan cukup sejahtera. Meski demikian dia yakin dapat mempertahankan NPL tetap berada di level rendah. Untuk saat ini, Gatot mengaku jumlahnya berada di bawah satu persen. "Ini karena pendekatannya kita di kelompok," tandasnya.

Saat ini UUS BTPN difokuskan untuk melayani dan memberdayakan perempuan dari keluarga pra sejahtera dan cukup sejahtera. Dalam layanannya, UUS BTPN menitikberatkan pada dua komponen inti, yaitu pemberdayaan perempuan dan program finansial terpadu untuk masa depan yang lebih baik.

Sejalan dengan inifiatif keuangan inklusi, BTPN selama ini berfokus mengembangkan bisnis yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan perbankan segmen masyarakat berpenghasilan rendah serta usaha mikro dan kecil termasuk bagi masyarakat pra sejahtera produktif. Berdasarkan data tingginya kebutuhan perempuan dari keluarga pra sejahtera produktif untuk mendapatkan akses layanan perbankan, kami berinovasi mendesain sebuah model bisnis yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. [sylke]

Related posts