OJK Janji Meminimalisir Kesenjangan Regulasi

NERACA

Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan berjanji akan meminimalisir kesenjangan regulasi antarsektor pada industri keuangan pada tahun ini. Pasalnya, dengan bergabungnya sektor perbankan ke OJK maka semua sektor dapat diawasi secara terintegrasi. Dengan demikian, akselerasi industri keuangan dipastikan mampu menopang kinerja sektor riil.

“Dengan bergabungnya perbankan sejak 1 Januari 2014, maka seluruh industri keuangan Tanah Air dapat diawasi dengan terintegrasi. Maka dari itu dapat dipastikan kesenjangan regulasi antarsektor dapat diminimalisir. Kami menjanjikan hal itu dapat terjadi,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D Hadad di Jakarta, pekan lalu.

Namun untuk meminimalisir kesenjangan tersebut, dirinya mengaku harus ada perbaikan koordinasi di antara lembaga pemerintah yang juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga kestabilan kinerja industri keuangan. “Pemerintah juga harus mendukung dengan memperbaiki regulasi dan praktik-praktik yang tidak baik di industri keuangan. Dengan begitu, regulasi-regulasi yang tercipta juga berkualitas,” jelasnya.

Muliaman juga menjelaskan, perbaikan kinerja industri keuangan dari sisi regulasi merupakan hal yang sangat penting. Mengingat Indonesia harus segera memanfaatkan peluang ekonomi dalam negeri. Salah satunya bonus demografi dengan komposisi penduduk di dominasi oleh usia muda dan produktif.

“Indonesia memiliki peluang akan menjadi negara ekonomi terbesar mengingat ada bonus demografi di mana usia muda mendominasi dengan porsentasi di atas 50%. Jangan sampai kita terlambat karena yang muda akan segera menjadi tua,” katanya, mengingatkan. Kemudian Muliaman mengatakan, jika kesenjangan regulasi antarsektor industri keuangan dapat tercipta maka dapat dipastikan akselerasinya akan memiliki pengaruh besar terhadap kinerja sektor riil.

Dengan begitu perekonomian dalam negeri sangat mungkin bisa segera keluar dari beban defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) yang masih bermasalah. Pasalnya, kinerja sektor riil, terutama yang berbasis ekspor, tidak lagi mengalami gangguan pada sisi permodalan.

“Rupiah kita tidak stabil karena dampak dari CAD yang diderita hingga mencapai US$30 miliar pada akhir tahun 2013. Namun, kami tetap optimistis angka itu dapat ditekan menurun jika akselerasi industri keuangan tidak lagi mengalami kendala khususnya dari sisi regulasi. Dengan begitu kinerja sektor riil khususnya yang berbasis ekspor tidak lagi terganggu karena sisi permodalan dapat terjamin oleh industri keuangan,” terangnya. [lulus]

Related posts