PLN Akan Serap Bahan Bakar Nabati Untuk Pembangkit Listrik - Industri Energi

NERACA

Jakarta – PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menargetkan akan menyerap Pure Palm Oil (PPO) untuk pembangkit listrik. Hal tersebut menyusul kerjasama antara PLN dengan dua perusahaan swasta yaitu PT Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART) dan PT Wilmar. Direktur Utama PLN Nur Pamudji menyatakan bahwa kerjasama ini adalah langkah awal yang dilakukan oleh perseroan dalam meningkatkan penggunaan biodiesel untuk pembangkit listrik.

“Ini baru tahap awal dengan menggandeng 2 perusahaan. Nantinya, secara total ada tujuh kontrak pasokan biodiesel dengan nilai mencapai Rp8 miliar. Pasokan ini untuk memenuhi kebutuhan listrik paling tidak yang dekat dengan kebun kelapa sawit, misalnya di Sumatera, Kalimantan, atau Sulawesi,” ujar Nur di Jakarta, Senin (20/1).

Lebih lanjut Nur menerangkan penyerapan PPO ke dalam Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) milik PLN sudah mencapai 1 juta kilo liter. Dari jumlah itu, kontribusi bagi pencampuran ke PLTD hanya berkisar 40%. “Meski cuma 40%, itu volume yang cukup besar. PLN sebelumnya ada yang menggunakan biodiesel hingga 80-100%, namun ini masih kerja sama awal,” terang dia.

Untuk permulaan, kerjasama ini akan dilakukan selama setahun. Ke depan pihaknya berharap ada kerja sama yang berkelanjutan, sehingga optimalisasi pengembangan bahan bakar nabati ke dalam PLTD makin optimal. “Ke depannya kami meninginkan kerja sama ini berjalan hingga 5-10 tahun sehingga terus berkelanjutan,” ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa sejauh ini, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART) baru akan memasok 3.320 metrik ton PPO sebagai bahan biodiesel. Hal serupa juga dilakukan Wilmar dalam hal pasokan. Nur merasa optimis lima perusahaan lain akan segera menyusul setelah dua korporasi besar itu menandatangani MoU.

Nur mengklaim pihaknya nyaris tidak mengeluarkan dana untuk menjalankan penyerapan minyak kelapa sawit ini. Sebaliknya, pengusaha sawit juga tidak butuh modal terlalu besar. “Supplier membangun sistem distribusi dari kebun-kebun ke tempat pengolahan PPO, ke pembangkit. Selama ini kan belum pernah itu yang harus mereka bangun,” ucapnya.

Apabila kerja sama dengan swasta ini berjalan baik, maka PLN berencana meminta perusahaan CPO memasok kelapa sawit untuk gas turbin. Sehingga ketergantungan pada solar di beberapa pembangkit lama-lama akan berkurang. Saat ini, untuk menghasilkan listrik 1 kilowatt, butuh seperempat liter CPO. Oleh karenanya, kata Nur, bahan bakar nabati memang belum bisa digunakan untuk menyokong listrik Jawa-Bali.

Sementara itu, Direktur PT Wilmar International Eric Chea menyambut baik kerja sama dengan PLN. Dia mengatakan pihaknya sudah biasa memasok CPO ke pembangkit listrik di Eropa. "Sejak 10 tahun lalu kita sudah melakukan pasok CPO untuk listrik di daerah terpencil, ini bukan hal yang mustahil. Saat ini pembangkit kami bertenaga 16 MW kita gunakan bahan bakarnya dari CPO di Eropa," ungkapnya.

Kerja sama PLN dan swasta ini merupakan rangkaian program pemerintah mewajibkan pencampuran Bahan Bakar Nabati sebagai substitusi solar. Diharapkan, setelah PLN, maka Pertamina akan segera menyusul. Pemerintah mengharapkan serapan CPO untuk kebutuhan energi, baik listrik maupun dicampur dengan solar tahun ini, bisa mencapai 3,5 juta ton.

Hemat Anggaran

Penggunaan biodiesel untuk pembangkit listrik, sambung Nur, dapat menghemat anggaran untuk pembelian bahan bakar sebesar 15%. Pasalnya, harga biodiesel jauh lebih murah dibandingkan dengan menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM). "Nilai penghematannya 15% dari harga sekarang," lanjut dia.

Namun demikian, Nur menjelaskan, tidak ada nilai investasi dalam penggantian BBM dengan biodiesel ini. Sebab, dalam hal ini PLN tidak membangun pembangkit baru. “Kita tidak membangun pembangkit baru, kita hanya mengganti bahan bakar existing. Pada dasarnya, semua pembangkit diesel bahan bakarnya bisa kita ganti,” kata dia.

Lebih lanjut, terang Nur, PLN juga tidak akan terlalu banyak melakukan penggantian komponen pembangkit yang akan menggunakan bahan bakar biodiesel. Sehingga, menurut dia, proyek penggantian sebagian bahan bakar ini tidak mengandung investasi. “Kita hanya memasang alat pemanas saja. Saya sebut tanpa investasi saja,” tukas dia.

Sebelumnya, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo mengatakan penggunaan biodiesel untuk pembangkit listrik dapat menghemat pengeluaran atau cost produksi dari sisi belanja bahan bakar.

Seperti penggunaan 40% biodiesel per tahun pada bahan bakar pembangkit listrik, maka terjadi penghematan sekitar 5,6 hingga 6 juta kiloliter barel per tahun (bph) minyak. “Hanya saja bila digunakan hingga mencapai 100 ribu bph, maka dibutuhkan sekitar 5,3 juta ton minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan itu bahkan dapat meningkatkan volume ekspor,” ujarnya.

Lebih jauh lagi, Susilo mengatakan bahwa PLN ingin membeli yang non subsidi. “PLN itu kan sebenarnya mereka itu beli yang non subsidi dan otomatis sesuailah, dan PLN pasti mau. Kita sudah panggil dan PLN itu kan sudah pakai 5,6 sampai 6 juta kl per tahun, kalau kita ganti 40%, itu sudah 2,4 juta dan sudah mengurangi subsidi berapa banyak,” tutur Susilo.

Related posts