OJK Beri Relaksasi Aturan PUB Saham - Permudah IPO di Bursa

Neraca

Jakarta – Dalam rangka memberikan kemudahan calon emiten untuk listing di Bursa Efek Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun ini OJK akan mengijinkan Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) saham. Jika sebelumnya sektor pertambangan diberikan kemudahan, kali ini OJK tengah menggodok aturan PUB yang akan mengijinkan emiten melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) secara bertahap dengan satu kali pernyataan efektif dari OJK. Sebelumnya, PUB ini dilakukan hanya untuk penerbitan surat utang atau obligasi.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida mengatakan, peraturan ini dibuat untuk memberi kemudahan akses bagi perusahaan untuk bisa dapat melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Diharapkan dengan penawaran saham secara berkelanjutan akan memungkinkan lebih banyak perusahaan yang bisa masuk ke pasar modal,”Selama ini sudah ada penawaran umum berkelanjutan untuk surat utang, ke depan untuk meningkatkan sisi suplai untuk memudahkan akses dunia usaha ke pasar modal salah satunya akan dilakukan kemudahan penawaran umum untuk penerbitan saham,”katanya di Jakarta, Senin (20/1).

Hingga saat ini aturan tersebut masih dalam proses pembentukan peraturan yaitu dalam tahap pembahasan dan ditargetkan peraturan itu bisa direalisasikan di tahun ini. Dia menyebutkan, aturan aturan tersebut masih dalam bentuk draft dan berbentuk sebagai peraturan OJK.“Kita berharap tahun ini tetapi apakah nanti semester satu atau dua kita lihat perkembagannya. Dalam peraturan tersebut salah satunya akan berisi masa penawaran saham berkelanjutan. Jika dalam penerbitan surat utang batas waktunya adalah 2 tahun secara bertahap, di dalam penerbitan saham ini masih akan dikaji batas waktu penawarannya”, jelasnya.

Dengan hadirnya aturan baru tersebut, nantinya untuk menerbitkan PUB saham ini hanya perlu sekali pernyataan efektif dari OJK. Dengan ijin berkelanjutan, penawaran umum itu bisa dilakukan berkali-kali dalam batas jumlah yang direncanakan. Jika di penawaran umum berkelanjutan obligasi masanya 2 tahun, untuk penawaran umum berkelanjutan saham ini belum ditentukan.“Kita belum tahu mungkin akan berbeda, apakah akan dianggap 2 tahun atau mungkin PUB 3 tahun nanti kita lihat dari kebutuhan industri”, katanya.

Sebelumnya, OJK dan BEI juga mempermudah perizinan perusahaan untuk melakukan IPO bagi perusahaan tambang yang belum untung. Sementara pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila, Agus Irfani menilai, otoritas pasar modal harus memberikan keterbukaan informasi yang detail mengenai alasan memberikan kemudahaan IPO perusahaan tambang yang belum untung.“Kondisi ini seperti membeli kucing dalam karung, di mana tidak ada jaminan akan adanya dividen yang dibagikan. Perusahaan tersebut hanya menjaminkan keterangan studi kelayakan saja,”ujarnya.

Dia menyebutkan, seharusnya BEI tidak hanya mengejar jumlah emiten semata sebagai target pertahun, melainkan jumlah kapitalisasi yang diperoleh dari perusahaan yang IPO. Karena dengan memberikan kemudahan seperti ini, dikhawatirkan justru akan membuat calon emiten dan investor tidak memperoleh keuntungan dari saham tersebut. (nurul)

Related posts