Waspadai Jumlah Penduduk “Hampir Miskin”

NERACA

Jakarta---Jumlah orang yang mendekati garis kemiskinan tampaknya perlu mendapat perhatian. Alasannya besarnya penduduk hampir miskin tak beda jauh dengan jumlah penduduk miskin. .”Kita juga perlu juga mewaspadai kelompok masyarakat yang hampir miskin selain kelompok masyarakat yang benar-benar miskin karena jumlahnya di masyarakat ternyata hampir sama" kata Deputy Bidang Kemiskinan, Ketenagakerjaan dan UKM Bappenas, Ceppie Kurniadi Sumadilaga kepada wartawan di Jakarta,22/7.

Namun demikian, kata Ceppie, jumlah penduduk miskin ini sudah berkurang dan mencapai 12,49%. "Jumlah masyarakat miskin di Indonesia terus turun, sekarang angkanya sudah di 12,49%,”tegasnya.

Lebih jauh Ceppie, mengatakan jumlah masyarakat Indonesia yang sangat miskin, miskin dan hampir miskin jumlahnya di Indonesia hampir sama yaitu sekira 30 juta penduduk.

"Beberapa waktu belakangan ini pemerintah terfokus ke penanggulangan kemiskinan bagi masyarakat yang tergolong sangat miskin dan miskin. Belum menyentuh kelompok yang rentan terhadap kemiskinan, padahal jumlahnya sama," lanjut dia.

Pemerintah, menurut Ceppie, telah memulai kebijakan yang pro kemiskinan dalam jangka pendek untuk mengantisipasi keadaan penduduk Indonesia ini. "Harus ada program-program pro-poor yang terintegrasi sehingga cukup mengurangi kesenjangan ekonomi. Hal ini tentu tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah pusat saja, tetapi juga pemerintah daerah," paparnya.

Selain masalah kemiskinan, ia juga memaparkan beberapa hal yang harus diperhatikan lebih luas selain kemiskinan, diantaranya adalah tentang penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kesempatan kerja yang lebih berkualitas. Hal ini dilakukan untuk menuju pemerataan pembangunan.

Sementara itu, pengamat ekonomi Aviliani, mengatakan jika harga BBM dinaikkan atau penggunaan BBM bersubsidi dibatasi implikasi akan tertuju pada inflasi. Sebenarnya, jika dana Rp50 triliun digunakan untuk mengentaskan kemiskinan, lanjutnya, tidak akan menimbulkan masalah inflasi. "Kita takut menahan inflasi tapi mengorbankan orang bawah," tambahnya.

Pihaknya menambahkan, penambahan subsidi tersebut nantinya hanya akan menjadi beban, karena tidak ada aktifitas keekonomian. "Ini akan menjadi beban karena tidak ada aktifitas, karena kaitannya hanya subsidi aja," ungkap wanita cantik ini.

Dia menambahkan, dengan dana Rp50 triliun tersebut, lebih baik digunakan kepada hal yang realistis, dengan dana sebesar itu lebih baik digunakan untuk membeli hasil produk pertanian. Walaupun harga hasil pertanian naik, petani tidak dapat harga yang layak dari tengkulak. "Menyelesaikan masalah-masalah pertanian berarti menyelesaikan masalah kemiskinan," pungkasnya. **munib/cahyo

BERITA TERKAIT

Waspadai Serangan Penyakit di Musim Hujan

Saat musim hujan tubuh akan lebih mudah terserang penyakit, hal itu terjadi karena perubahan suhu pada lingkungan. Ketika musim hujan…

Ketimpangan Kaya-Miskin

Menyimak rilis Majalah Forbes pada akhir November 2017, terungkap kekayaan 50 orang terkaya Indonesia tahun 2017 mencapai US$ 126 miliar,…

Waspadai Kenaikan Harga Pangan

      NERACA   Jakarta – Menjelang akhir tahun dan juga memasuki musim penghujan, pemerintah perlu mewaspadai kenaikan harga…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Penyaluran Dana Desa Capai Rp59,2 Triliun

      NERACA   Bogor - Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan Boediarso Teguh Widodo mengatakan realisasi dana desa…

Membantah Generasi Milenial yang Terancam Tak Punya Hunian

      NERACA   Bekasi - Ada anggapan generasi milenial yang berusia di bawah 25 tahun tidak mampu mempunyai…

IBM Indonesia Berkolaborasi dengan Partner Lokal - Akselerasi Bisnis Digital

    NERACA   Jakarta - IBM Indonesia menggelar IBM Indonesia Partner Solutions Summit, yang diselenggarakan di JW Marriot Jakarta.…