Kerugian Mencapai Miliaran Rupiah - Dampak Banjir

NERACA

Jakarta - Banjir yang melanda kota Jakarta sejak minggu lalu yang hingga sampai saat ini masih belum surut sudah melumpuhkan aktivitas masyarakat dan perekonomian Jakarta. Hujan yang menguyur ibukota disebabkan curah hujan yang cukup tinggi mengakibabkan volume air yang melebihi kapasitas daya tampung 13 sungai yang melintasi kota Jakarta ditambah drainase yang selama ini pemeliharaannya msh belum sempurna. "Kita sangat apresiasi upaya dan kerja keras yang dilakukan pemprov DKI Jakarta untuk mengantisipasi banjir seperti perawatan drainase,pengerukan kali,penertiban penampungan air seperti waduk pluit,waduk riario,perluasan ruang hijau. Peran masyarakat juga sangat dibutuhkan dengan kesadaran untuk tidak membuang sampah dikali karena akan mempercepat penyumbatan.Pemprov DKI Jakarta agar memperbanyak pengadaan tong sampah diberbagai pojok ibukota untuk lenih menarik kesadaran masyaakat membuang sampah pada tempatnya," ujar Ketua Umum DPD Hippi Jaya, Sarman Simanjorang di Jakarta, kemarin.

Banjir besar yang melanda kota Jakarta bukan lagi lima tahunan namun sudah menjadi tahunan yang selalu mengancam aktivitas ekonomi dan aktivitas masyarakat.Beberapa pusat bisnis di Jakarta hampir berhenti total akibat akses jalan yang menggenangi yang tidak bisa dijangkau oleh pengungjung atau konsumen seperti Kawasan Mangga Dua,kawasan Kepala Gading,kawasan Jatinegara. "Dikawasan Mangga Dua setidaknya terdapat enam pusat perdagangan yaitu; Pasar Pagi, ITC,WTC,Mangga Dua Square,Mall Mangga Dua serta Harco Mangga Dua dengan perkiraan jumlah pedagang mencapai 20 ribu toko, omzet rata rata Rp5 juta per kios maka taksiran kerugian mencapai Rp50 miliar per hari," tambahnya.

Di kawasan Kelapa Gading kerugian pengusaha diperkirakan mencapai Rp40 miliar setiap hari akibat ratusan toko, perkantoran, mall tutup bahkan beberapa kantor cabang Bank mengalihkan pelayanan nasabah ke kantor bank terdekat akibat tidak bisa beroperasi. Sedangkan di kawasan Tanah Abang omzet pedagang di perkirakan turun sampai 60% akibat para pembeli tidak dapat menembus akses menuju tanah abang. Omzet di Tanahabang diperkirakan mencapai Rp200 miliar per hari dengan situasi yang normal. Sedangkan Dikawasan Jatinegara Barat hampir semua toko tutup,aktivitas perdagangan disana hampir lumpuh .

Kawasan Industri Pulogadung sempat terkena banjir dibeberapa titik dengan ketinggian mencapai 50 cm namun belum sampai mengganggu aktivitas sekitar 300 pabrik yang ada dikawasan tersebut. Sedangkan dikawasan Berikat Nusantara sampai saat ini proses produksi industri padat karya khususnya garmen dan tekstil masih berjalan normal.Diharapkan kedua kawasan industri ini bisa terhindar dari banjir karena akan sangat mengganggu proses produksi dan pengusaha akan mengalami kerugian yang sangat besar seperti yang dialami tahun yang lalu. Pengamatan di pelabuhan tanjung priok sebagai dampak banjir yang mengakibakan arus lalu lintas mengalami kemacetan yang begitu panjang dengan waktu tempuh yang begitu lama menuju pelabuhan yang mengakibatkan kerugian dari sisi transportasi mencapai 9 Miliyarn,belum termasuk kerugian akibat keterlambatan keluar dan masuknya barang ekspor import dari pelabuhan Tanjung Priok.

Dampak Banjir tahun ini memang masih belum separah tahun lalu,karena tahun lalu banjir sempat menggenangi jantung ibukota seperti Bundaran HI,Jl.Thamrin dan Sudirman sebagai pusat perkantoran elit ibukota,Rasuna Said bahkan memasuki istan negara dan kantor Gubernur DKI Jakarta yang mengakibatkan hampir lumpuhnya aktivitas ekonomi dan kerugian yang mencapai Rp20 triliun.Diharapkan banjir tahun ini tidak separah tahun lalu dan diharapkan setiap tahun dampaknya akan semakin menurun karena akan mengganggu iklim invetasi kota Jakarta.

"Kita sangat apresiasi Langkah Pemprov mengantisipasi banjir dengan sistem Modifikasi Cuaca dengan mencegah pembentukan awan dan memindahkan turunnya hujan diluar wilayah rawan banjir atau di arahkan ke laut. Dengan biaya sekitar Rp20 miliar bahkan lebih tidak akan mengganggu keuangan pemprov apalagi APBD DKI Jakarta tahun 2014 mencapai Rp77 triliun maka biaya sebesar itu sangat terjangkau," katanya. Kerja sama pemerintah DKI Jakarta dengan BPPT dan BPNP untuk melakukan Modifikasi Cuaca diharapkan ke depan dapat diilakukan secara permanen sehingga setiap tahun dapat diantisipasi. Karena jika dibandingkan dengan jumlah kerugian yang dialami seperti kerusakan infrastruktur jalan raya,kerusakan rumah tinggal,sarana pendidikan,kerugian ekonomi serta kerugian sosial lainnya maka dengan melaksanakan modifikasi cuaca sangatlah membantu walaupun perkiraaan hannya sekitar 30% dari curah hujan yang mampu dipindahkan.Pemprov agar mempercepat langkah langkah antisipatif menghapi banjir yang akan datang setiap tahun apalagi dengan cuaca ekstrim akhir akhir ini yang kadang bisa meleset dari perkiraan. [bsak]

Related posts