Solusi Tunas Pratama Suntik Modal BIT Rp500 Miliar

NERACA

Jakarta- PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) menyuntikkan modal kepada anak usahanya, PT BIT Teknologi Nusantara (“BIT”) melalui pemberian fasilitas pinjaman sebesar Rp500 miliar. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung kekuatan finansial BIT sejalan dengan perkembangan dan pertumbuhan kegiatan usahanya di bidang penyediaan, pengelolaan, dan penyewaan infrastruktur telekomunikasi fiber optic. “Dengan dilakukannya transaksi ini perseroan berharap dapat mengoptimalkan sumber daya aset yang telah dimiliki BIT sehingga menghasilkan keuntungan yang maksimal.” kata Juliawati Gunawan dalam keterangan resminya di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Sebagai pihak yang memiliki penyertaan saham di BIT, menurut dia, perseroan secara langsung memiliki kepentingan yang besar untuk memastikan kegiatan usaha utama BIT berjalan dengan baik. Tercatat, perseroan memiliki penyertaan saham sebesar 99,99% dalam PT Platinum Teknologi (Platinum), kemudian Platinum memiliki penyertaan saham dalam PT Gema Dwimitra Persada (Gema) sebesar 99,97%.

Sementara itu, PT Gema Dwimitra Persada memiliki penyertaan saham dalam BIT sebesar 99,95% saham yang telah dikeluarkan dan disetor BIT. Oleh karena itu, perjajian fasilitas pinjaman antara perseroan dan BIT dinilai merupakan transaksi afiliasi, mengingat perseroan memiliki penyertaan saham secara tidak langsung dalam BIT, yaitu sebesar 99,95%.

Dalam pengembangan bisnisnya di tahun ini, manajemen perseroan sebelumnya mengaku akan menambah sebanyak 1.000 unit tower. Sebagian besar tower tersebut akan terkonsentrasi untuk memenuhi kebutuhan di Pulau Jawa. “Investasi per tower sekitar Rp 1-1,5 miliar,” kata Presiden Direktur SUPR Nobel Tanihaha.

Menurut dia, penambahan tower baru di 2014 akan menambah pemilikan tower perseroan menjadi 3.900 unit. Melalui penambahan tower perseroan mengharapkan pertumbuhan pendapatan sebesar 50-60%. Proyeksinya, pada akhir 2013 perseroan dapat mengalami pertumbuhan pendapatan sebesar Rp 800 miliar. Dengan begitu, estimasi pendapatan di 2014 mencapai Rp 1,25 triliun.

Rencananya, selain membangun 1.000 tower, perseroan juga berencana membangun kabel fiber optik, yang akan diprioritaskan di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Adapun untuk sumber pembiayaannya sendiri, perseroan akan menggunakan kas dan pinjaman perbankan. “Kami sudah ada pinjaman US$100 juta, sisanya nanti dari kas internal,” ujarnya.

Sementara hingga akhir 2013 perseroan telah memiliki 2.900 unit tower, dan 1.000 kilometer kabel fiber optik. Pada periode ini, perseroan mengalami pertumbuhan pendapatan sebesar 70,93% menjadi Rp 600,33 miliar. Beban pokok pendapatan tumbuh sebesar 43,74% menjadi Rp 127,5 miliar. Adapun laba komprehensif periode berjalan tumbuh 66,58% menjadi Rp 150,9 miliar. (lia)

Related posts