DJPB Dorong Teknologi Budidaya Supra Intensif - Tingkatkan Produksi Udang

NERACA

Jakarta- Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengapresiasi penerapan teknologi supra intensif yang dikembangkan oleh Hasanudin Atjo, Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) wilayah timur yang juga merupakan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Sulawesi Tengah, untuk meningkatkan budidaya udang.

“Pemerintah mendukung inovasi baru dalam berbudidaya udang ini. Secara langsung hasil dari inovasi teknologi ini akan mendukung peningkatan produksi. Sehingga apa yang telah dihasilkan dan dikerjakan oleh Pak Atjo patut mendapatkan apresiasi yang tinggi karena mampu mengembangkan budidaya udang dengan pola baru,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto di Jakarta, dalam keterangan resmi yang diunduh Neraca, Minggu (19/1).

Lebih lanjut Slamet menyampaikan bahwa apa yang telah dilakukan oleh Pak Atjo dengan budidaya udang supra intensif, sesuai dengan kapasitas keahlian dan kemampuan beliau selaku praktisi budidaya udang. “Budidaya udang supra intensif memerlukan beberapa syarat yang dapat menunjang keberhasilannya, seperti Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal, disiplin dan berpengalaman, lokasi budidaya yang tepat, infrastruktur dan input produksi yang memadai dan memenuhi standar, dilengkapi dengan Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL) agar tetap ramah lingkungan dan tentunya memerlukan modal usaha yang cukup besar,” ungkap Slamet.

Slamet menambahkan bahwa DJPB melalui Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara juga sedang mengembangkan budidaya udang supra intensif yang berbasis blue economy. “Jadi limbah yang dihasilkan dari budidaya udang supra intensif ini, kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ikan nila dan juga sebagai pupuk tanaman. Sehingga nilai tambah dari usaha budidaya yang dihasilkan muncul karena output dari satu usaha menjadi input dari usaha lainnya,” papar Slamet.

Untuk lebih mendorong terus berkembangnya usaha budidaya ikan dan udang, sebut Slamet, KKP melalui DJPB sedang melakukan proses penyusunan Peraturan Menteri (Permen) yang isinya akan mengatur tentang Tahapan Teknologi dalam Usaha Budidaya. “Salah satu yang akan diatur dalam Permen ini adalah tentang zonasi tambak atau usaha budidaya. Sehingga nantinya tidak aka nada tumpang tindih penggunaan lahan dan penerapan system klaster akan lebih mudah dilakukan serta menghindari adanya kontaminasi dan pencemaran yang dapat menyebabkan kegagalan dalam suatu usaha budidaya,” tambah Slamet.

Budidaya Supraintensif

Di tempat terpisah, Hasanudin Atjo mengatakan bahwa saat ini petambak dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam melakukan usahanya, tetapi tetap memperhatikan daya dukung lahan dan lingkungan sekitar sehingga usahanya berkelanjutan. “Budidaya udang supra intensif mengintegrasikan hulu dan hilir sistem budidaya yaitu penggunaan benih unggul, standardisasi sarana dan prasarana yang digunakan, penggunaan teknologi budidaya yang akurat dan tepat, pengendalian kesehatan ikan dan lingkungan serta pengelolaan usaha yang baik. Kelimanya harus diimplementasikan secara simultan dan konsisten,” kata Atjo.

Penggunaan teknologi dalam budidaya udang supra intensif salah satunya adalah untuk mengendalikan limbah organik. “Setiap enam jam sekali limbah organik dibuang secara mekanik, sehingga mampu mengurangi racun dalam air. Pembuangan limbah organic ini mengggunakan central drain yang ada di dasar tambak,” kata Atjo.

Di samping itu, lanjutnya, kadar oksigen dalam air juga dijaga dengan menggunakan kincir air, turbo jet dan blower. Sedangkan untuk pemberian pakan digunakan auto feeder yang sudah diprogram frekwensi dan jumlah pakan yang diberikan. Atjo juga menambahkan bahwa panen parsial dilakukan untuk mengontrol populasi udang sehingga sesuai dengan daya dukung.

“Panen parsial seperti penjarangan populasi sehingga selain menyesuaikan kepadatan udang sekaligus menghasilkan udang dalam ukuran tertentu yang sudah dapat menghasilkan uang. Tentu saja penerapannya sesuai dengan ukuran yang diinginkan pasar. Misalnya size 100 untuk pasar dalam negeri, sesuai dengan size panen parsial yang pertama,” ungkap Atjo.

Pada saat yang sama juga dilakukan panen parsial budidaya udang supra intensif di Instalasi UPTD Perbenihan Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Sulawesi Tengah yang berlokasi di Desa Mamboro, Kec. Palu Utara. “Panen parsial kali ini akan kita angkat kurang lebih 1,5 ton udang dari lahan ukuran 20 x 20 m2 kedalaman 3 meter, dan sekitar dua minggu berikutnya kita akan panen lagi. Targetnya adalah 5 – 6 ton per siklus atau 90 hari. Dengan harga udang rata-rata Rp 80.000/kg saat ini, nilai produksi tambak tersebut akan mencapai Rp480 juta,” kata Atjo.

Related posts