Jokowi, Banjir dan Pencitraan - Oleh: Aries Musnandar, Dosen UIN Malang

Tidak lama setelah dilantik sebagai Gubernur DKI Jokowi sigap melakukan tindakan dan kegiatan populer yakni blusukan ke lokasi-lokasi padat penduduk untuk menyapa, bercengkerama hingga mengambil simpati masyarakat. Beliau juga inspeksi ke kelurahan dengan tampak menunjukkan kekecewaan terhadap pelayanan kelurahan. Kegiatan Jokowi tersebut kerap dilput dan dilaporkan banyak media massa. Jokowi lalu mengunjungi lokasi banjir karena memang tak lama dilantik sebagai Gubernur musim hujan tiba sehingga banjir dan air hujan menggenang dimana-mana di jalan-jalan protokol Ibukota Jakarta.

Jokowi juga menunjukkan antusiasnya untuk mengatasi banjir Ibukota dengan serius mengunjungi waduk penampung curah hujan, turun melihat kondisi gorong-gorong, melihat dan mengawasi pekerjaan bendungan Latuharhari Kuningan Jakarta dan sejumlah aktivitas yang mengundang decak kagum pemirsa dan pembaca yang mengikuti sepak terjang orang nomor satu di DKI ini.

Tak ayal berbagai gebrakan dan perilaku Jokowi tersebut merupakan peristiwa menarik bagi media sehingga ramai-ramai mengikuti aktivitas blusukan sang Gubernur baru, sehingga kita pun tahun hampir tidap hari koran maupun TV senantiasa memberitakan tentang Jakarta dengan Jokowinya. Sudah tentu liputan media massa ini membuat citra Jokowi meningkat karena memang apa yang dilakukannya itu tidak bisa dipungkiri dekat dengan kegiatan pencitraan, meski mungkin maksud sang Gubernur tidak seperti itu.

Entah karena memang ingin memanfaatkan media massa sebagai wadah komunikasi politik Jokowi atau karena menikmati kebersamaan dengan Pers, Jokowi pun amat dekat dengan Pers, tidak menolak Pers meski kerap apa yang dilakukan Pers sudah tidak pada tempatnya lagi seperti meminta Jokowi mengucapkan selamat atas program hiburan tertentu di sejumlah TV-TV, liputan tentang Jokowi makan di warteg, bernyanyi ria dan sejumlah aktivitas yang tidak berhubungan langsung dengan tugas pekerjaannya sebagai Gubernur.

Pada sisi ini tampak berita tentang Jokowi ibarat liputan para artis/selebriti dimana para wartawan mengejar dan memburu para artis agar dapat menyampaikan berita-berita sensional yang disenangi masyarakat kebanyakan.

Melihat fenomena tersebut diatas wajarlah jika tingkat popularitas Jokowi menaik bahkan ketika diadakan survei tingkat elektabilitas yang bersangkutan pun luar biasa tinggi mengalahkan para calon Presiden yang sudah lama berambisi ingin jadi Presiden.

Dalam Jokowi Effect ini tampak masyarakat terlanjur berharap banyak dan berlebihan terhadap Jokowi karena terpesona melihat cara beliau merespon persoalan Jakarta yang langsung disenangi publik tidak hanya di Jakarta tetapi masyarakat Indonesia. Aktivitas Jokowi yang terus menerus diberitakan media massa ini membuat dirinya popular.

Gayanya yang bersahabat dan dianggap memiliki kepedulian untuk memberesi problema sosial di Jakarta seperti banjir, macet dan pelayanan publik sebagaimana digembar-gemborkan saat pasangan Jokowi-Ahok ini berkampanye pada Pilkada tahun lalu seolah sudah menjadi janji-jani yang mesti dipenuhi Jokowi-Ahok. Hal ini wajar karena demikian gencar dan mendominasinya pemberitaan kedua sosok ini di media massa yang membuat harapan besar masyarakat bertumpu kepada keduanya dalam membenahi karut marut persoalan Ibukota.

Popularitas Jokowi yang tiada banding ini sampai pada puncaknya sebelum banjir pertengahan Januari ini menyeruak kembali di Jakarta. Pahitnya banjir yang dialami masyarakat Jakarta seolah bertolak belakang dengan harapan manis masyarakat yang telah dibentuk opininya oleh media massa sebagai sosok yang mampu mengatasi banjir di DKI Jakarta.

Kondisi banjir yang melanda Jakarta sekarang ini akhirnya menyentak masyarakat dan menjadi bahan pembelajaran agar tidak terlalu berharap pada sosok Jokowi karena ternyata ia bukanlah superman yang mampu menyelesaikan masalah dengan sekejap. Selama ini masyarakat tergiring dengan opini media massa yang terlalu terpukau dengan gaya Jokowi sehingga sanjungan terhadapnya nyaris tanpa cela. Tampak sekali disini antara harapan dan kenyataan terlalu melebar sehingga terdapat kesenjangan.

Saya kira peristiwa banjir sekarang ini membuat kita tersadar untuk tidak gumunan, tidak cepat kagum pada hal yang bersifat pencitraan. Disisi lain sebaiknya para pemimpin jangan merasa menikmati dengan liputan media massa yang dapat membuat masyarakat tidak terdukasi dengan baik dalam menilai pemimpinya. Bekerja untuk rakyat tidak perlu diberitakan berlebihan, jika memungkinkan malah sebaiknya pemimpin menghindar dari liputan media yang belrebihan bukannya merasa menikmati liputan media tersebut, sebagaimana yang tampay dari fenomena Jokowi. Bekerja untuk rakyat sebaiknya tanpa pamrih dan perlu sepi dari hingar bingar pemberitaan berlebihan media massa. (uin-malang.ac.id)

Related posts