Bulog Diminta Siapkan 350.000 Ton Gula - Jaga Stabilitas Harga

NERACA

Jakarta - Badan Urusan Logistik (Bulog) diminta untuk menyiapkan stok gula sebesar 350.000 ton. Hal tersebut dimaksud untuk menjaga stabilitas harga gula pada tahun ini. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi mengatakan penyerahan kepada Bulog agar lembaga tersebut bisa memilih bahwa pengadaan tersebut apakah melalui impor atau lewat penyerapan di dalam negeri.

"Bulog dipersilakan untuk mana yang paling efisien. Penugasan kepada Bulog sudah diberikan kepada Kemendag. Berdasarkan arahan mana yang paling efisen memberikan hasil kepada bangsa dan negara kita opsinya Bulog harus mengambil dari kebun rakyat dan bisa bekerjasama dengan PG (pabrik gula) Tebu dan PG Rafinasi dimana memberikan manfaat bagi rakyat," kata Bachrul di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Bachrul menegaskan Kemendag tidak akan intervensi Bulog untuk bisa menyediakan stok 350.000 ton gula. "Mereka (Bulog) sedang lakukan good governance dan mereka itu corporate, kita hanya kasih izinnya saja," imbuhnya. Pihaknya beralasan memilih Bulog untuk menyediakan 350.000 ton gula karena visi misi dan sejarah Bulog yang bisa menstabilkan harga seperti beras.

Bulog nantinya diharuskan menyediakan pasokan 350.000 ton gula periode Mei hingga Juli 2014. "Kita sudah menghitung, hitungannya produksi nasional itu kurang lebih 122.000 ton. Kemudian kita lihat berdasarkan estimasi, Mei akan mundur masa panen dan penggilingan ini sekitar Juni sehingga Mei-Juni ada kekosongan sekitar 220.000 ton. Jadi kekurangan gula dari bulan Mei, Juni dan Juli atau di masa penggilingan ini dengan tidak adanya itu jumlahnya 325.000 ton atau dibulatkan ke 350.000 ton," jelasnya.

Sekedar informasi, produksi gula domestik jumlahnya 2,6 juta ton sementara konsumsinya 2,9 juta ton. Alhasil, masih ada 300.000 ton yang diimpor. Impor selama ini dilakukan dalam bentuk raw sugar dikaitkan dengan kapasitas pabrik gula. Jika menghitung kebutuhan gula industri, total konsumsi bisa mencapai 5 juta ton. Umumnya, produksi gula kristal putih di Indonesia menggunakan tebu rakyat.

Direktur Utama Bulog Sutarto Alimoeso sebelumnya mengatakan pihaknya tengah memproses izin impor gula kristal putih. "Bulog baru ditugasi rencananya untuk gula," katanya. Tidak hanya untuk cadangan intervensi harga, Bulog ini memenuhi kebutuhan gula di daerah perbatasan. "Kita sudah lama ajukannya, terutama untuk daerah-daerah perbatasan. Kan ada daerah yang memang bukan produsen, ditawarkan bagaimana kalau ditangani Bulog," kata Sutarto lagi.

Bulog sudah melihat kemungkinan impor gula dari Brasil, Thailand, dan India jika nanti diberikan izin. Namun, Sutarto tidak mau bicara banyak sampai dengan penugasan stok gula pemerintah itu diberikan pada Bulog.

Petani tebu mendukung rencana pemerintah menjadikan Bulog sebagai penyangga sektor pergulaan nasional, hanya saja mereka meminta agar pengadaan gula cadangan ini berasal dari produksi petani. Hal itu karena jika dilakukan melalui impor, justru akan merugikan petani.

Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikun mengatakan rencana tersebut bisa menjadi bumerang bagi petani jika dilakukan melalui impor, saat ini gula petani tidak laku dipasaran karena kalah bersaing dengan gula rafinasi. “Jangan orientasi impor, tetapi bantulah petani lokal agar tetap semangat,” katanya.

Sumitro juga mempertanyakan keefektifan dari rencana buffer stock ini mengingat kondisi saat ini harga gula terus mengalami penurunan meskipun produksi gula petani sudah mencukupi untuk memnuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri. “Maksudnya ‘kan untuk berjaga-jaga kalau harga naik tak terkendali, nah saat ini harga justru stagnan artinya kecil kemungkinan gula tersebut digelontorkan ke pasar. Karena itulah saya kuatir,” jelasnya.

Dia menyebutkan kebijakan yang salah berdampak serius terhadap keberlangsungan petani tebu dimasa mendatang, dampak jangka pendek yang sangat mungkin terjadi adalah turunya harga gula akrena melimpahnya pasokan, terutama gula impor. Jika kondisi ini terus terjadi, sangat dimungkinkan populasi petani tebu akan berkurang drastis. “Tentu saja petani akan meninggalkan tebu dan memilih komoditas lain kalau komoditas ini tidak menguntungkan sama sekali,” katanya.

Related posts