Pesimisme Bank Dunia Picu Aksi Jual Investor

NERACA

Jakarta- Penilaian pesimisme Bank Dunia terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai menjadi salah satu penyebab kembali terkoreksinya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sebelumnya menguat tipis. Sepanjang perdagangan, IHSG sempat menyentuh level 4457,76 sebagai level tertingginya dan berakhir di level 4441,59.

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, adanya pemberitaan bahwa Bank Dunia memberikan penilaian pesimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dan variatifnya laju bursa saham Asia yang mulai berkurang penguatannya membuat pelaku pasar termotivasi untuk melakukan aksi jual. “Laju IHSG tersendat dengan mulai adanya aksi profit taking. Meski tidak sampai membuat IHSG anjlok signifikan dan mendekati utang gap 4393-4398, namun tetap saja laju IHSG terpengaruh dengan adanya aksi tersebut.” katanya di Jakarta, Kamis (16/1).

Selain itu, sambung dia, nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar juga kembali terkapar. Positifnya rilis data AS berupa kenaikan NY empire state manufacturing index dan MBA mortgage application serta laporan Beige book The Fed menambah sentimen positif bagi US$. Tak ayal, kondisi tersebut tentu saja membuat rupiah kembali kembali melemah.

Laju rupiah, kata dia, berada di bawah support Rp12. 095. Adapun kurs tengah rupiah Bank Indonesia (BI) Rp12.128-Rp12.095. Di sisi lain, laju ¥ masih melemah. Begitu pun dengan £ dan € yang sedikit melemah dengan adanya rilis kenaikan inflasi Jerman dan penurunan balance of trade Italia sehingga membuat laju mata uang US$ semakin menguat.

Proyeksinya, IHSG akan bergerak berada pada support 4385-4400 dan resistance 4432-4460 pada perdagangan Jum’at (17/1). Berpola menyerupai spinning pada upper bollinger bands (UBB). MACD uptrend terbatas dengan histogram positif yang mendatar. “RSI, William's %R, dan Stochastic mulai downreversal. IHSG hampir menyentuh target resisten 4460-4478, namun, harus berakhir di kisaran target support 4375-4424 sehingga akan membuka aksi ambil untung lanjutan jika sentimen yang ada kurang mendukung.” tuturnya.

Apalagi dengan adanya utang gap 4393-4398 memberikan peluang yang cukup besar untuk pelemahan. Dalam kondisi ini, pelaku pasar perlu mencermati beberapa saham antara lain LPKR, GGRM, TLKM, ADRO, HRUM, dan CTRS.

Sementara itu, Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan, rilis laporan keuangan emiten domestik full year 2012 dan kenaikan Dow Jones selama berpengaruh terhadap laju IHSG di tengah aksi waspada atas volatilitas USD/IDR yang cukup tinggi sampai sedikitnya enam bulan kedepan. (lia)

Related posts