Global Bond Dinilai Memberatkan Perusahaan

NERACA

Jakarta- Penerbitan obligasi dalam bentuk denominasi mata uang asing (global bond) dinilai masih akan cukup memberatkan pihak penerbit. Oleh karena itu, tidak banyak perusahaan atau korporasi yang berminat untuk menerbitkan global bond. “Untuk global bond masih pesimis, kecuali untu kebutuhan refinancing. Mereka berpikir lebih baik pinjam di bank untuk pembiayaan short term (jangka pendek).” kata analis obligasi Danareksa Sekuritas, Yudistira Slamet di Jakarta, Kamis (16/1).

Menurut dia, penyerapan obligasi sendiri belum bisa semulus yang diharapkan karena investor-investor besar utamanya akan melihat seberapa besar peringkat investasi saat ini. Hanya ada beberapa perusahaan besar yang tercatat memiliki peringkat tripple A minus, “Meskipun termasuk dalam kategori investment grade, namun investment grade-nya juga masih yang paling bawah. Jadi untuk investor besar tidak terlalu menarik.” jelasnya.

Meski demikian, pihaknya menilai, pada tahun ini inflasi diprediksi akan lebih terkendali di level 5,03%, dan BI Rate tetap di 7,50% selama 2014 akan memberikan sentimen positif terhadap pasar obligasi Indonesia. Volatilitas harga yang terjadi di semester pertama akan menyebabkan yield obligasi pemerintah mendatar, bahkan cenderung meningkat, “Namun seiring menurunnya volatilitas di semester kedua yield akan menurun.” ujarnya.

Dia memproyeksikan, penerbitan obligasi korporasi di tahun ini bisa mencapai Rp50 triliun. Hal ini antara lain didorong adanya kebutuhan refinancing beberapa perusahaan. Sementara untuk nilai jatuh temponya sendiri mencapai Rp40 triliun. Proporsi terbesar jatuh tempo obligasi multifinance dinilai akan terjadi pada kuartal kedua 2014. “Total jatuh tempo obligasi multifinance di tahun 2014 sebesar Rp17,43 triliun.” ungkapnya.

Head of Fixed Income Research PT Mandiri Sekuritas Handy Yunianto mengatakan, dalam jangka pendek ini, pasar obligasi masih akan volatile. Tercatat, sepanjang tahun 2013, kinerja pasar obligasi tercatat paling buruk dengan koreksi sebesar 13%, dan penurunan harga sebesar 21%. Akan tetapi, di sisi lain telah terjadi kenaikan yield akibat terjadinya inflasi yang kemudian direspons dengan kenaikan suku bunga acuan (BI Rate). “Kita lihat di September ada asing masuk, yield di 8% dengan posisi nilai tukar rupiah Rp11.100.” jelasnya.

Namun, sambung dia, karena adanya permasalahan pada nilai tukar rupiah sehingga menyebabkan appetite (gairah) investor asing berkurang. Oleh karena itu, jika terjadi pelemahan yang signifikan pada mata uang rupiah, tentunya masih membuka peluang terjadinya koreksi di pasar karena currency risk menjadi pertimbangan asing untuk ambil posisi. “Kalau pelemahannya signifikan, Rp12.000 bisa menjadi trigger outflow.” tandasnya.

Selain itu, kata dia, juga dilihat seberapa besar US treasury yield. Pasalnya, kepemilikan investor asing di pasar obligasi masih cukup besar, sekitar 32,5% dibandingkan investor institusi dan lainnya. Dia menilai, butuh tenor yang agak panjang sehingga investor asing lebih confident ke Indonesia. Meski demikian, dengan prediksi inflasi yang lebih rendah dan membaiknya defisit neraca transaksi berjalan dapat berdampak positif bagi pasar obligasi. Apalagi dengan proporsi investor asing yang sudah berkurang, dan digantikan pemain lokal. “Meskipun ada tapering, support dari domestik masih ada. Kalau bank Indonesia, dengan asuransi dan dana pensiun bisa memanaj terus, trennya masih bagus. Inflow sekitar Rp50 triliun.” tuturnya. (lia)

Related posts