Kemenperin Patok Kenaikan Ekspor Mobil 15% - Sektor Otomotif

NERACA

Jakarta - Pemerintah menargetkan ekspor mobil Indonesia tahun ini meningkat sebesar 15% dibandingkan tahun lalu. Jika tahun 2012, Indonesia mengirim sekitar 173 ribu unit, tahun ini ditargetkan angka ekspor bisa menembus angka 200 ribu unit. Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi (IUBT) Kementerian Perindustrian, Budi Darmadi mengatakan sekitar 13%-15% tahun ini. Tahun lalu kan 173 ribu, tahun ini dekat-dekat 200 ribu. "Indonesia berpeluang terus meningkatkan ekspor mobil seiring dukungan faktor kecocokan antara minat dari pembeli diluar negeri dengan desain mobil yang dibuat di Tanah Air,"ungkap Budi di Jakarta, kemarin.

Lebih lanjut, Dirjen IUBTT ini memaparkan dari 60-70 negara yang kami ekspor, setengahnya itu cocok dengan produk yang didesain di Indonesia, terutama Amerika Latin, ASEAN dan beberapa wilayah Timur Tengah, tapi sekarang kami masuk ke pasar Afrika. Ekspor tahun ini diperkirakan masih akan banyak ditopang dengan mobil jenis MPV dan SUV. "Brand-nya? pokoknya ada beberapa yang diproduksi sini, (yang belum ekspor) yang lainnya menyusul," jelasnya.

Selain itu, beberapa industri komponen juga akan menanamkan investasinya di Indonesia untuk mendukung industri otomotif didalam negeri. "Ternyata ada tambahan industri komponen baru. Mungkin 20-30 industri tahun ini," tukasnya. Beberapa waktu lalu, Budi juga memaparkan perkembangan industri kendaraan bermotor roda empat di Indonesia dewasa ini menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.

Perkembangan tersebut diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan makin membaiknya indikator makro ekonomi nasional, serta adanya upaya untuk terus meningkatkan kualitas infrastruktur di bidang transportasi. "Sejalan dengan pertumbuhan pasar dalam negeri yang cukup menggembirakan, ekspor mobil , baik dalam keadaan completely built up (CBU) maupun completely knocked down (CKD) juga mengalami kenaikan," tandas ujar Budi.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, ekspor kendaraan CBU meningkat dari 107 ribu unit pada tahun 2011 menjadi 173 ribu unit di tahun 2012. Sementara untuk CKD meningkat dari 84 ribu menjadi 100 ribu. "Dengan hasil ini industri otomotif dalam negeri diharapkan dapat terus meningkatkan volume ekspor, baik dalam bentuk CBU maupun CKD, serta komponennya," imbuh Budi.

Jika kondisi ekonomi yang stabil tersebut dipertahankan, diyakini jumlah ekspor CBU dan CKD akan lebih besar pada tahun ini. Tidak hanya mengejar angka ekspor, industri otomotif nasional juga harus memiliki tanggung jawab terhadap persoalan lingkungan seperti climate change. Pasalnya, industri otomotif dituding berkontribusi besar terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. "Kami berharap produsen otomotif menciptakan kendaraan bermotor yang ramah lingkungan dan hemat bahan bakar minyak seiring menurunnya persediaan minyak bumi," tukas Budi.

Disisi lain, rencana ekspor mobil murah ramah lingkungan (Low Cost Green Car /LCGC) dipertanyakan oleh pengamat transportasi Darmaningtyas. "Negara mana yang mau ngimpor? Wong kita aja impor mobil dari Malaysia," kata Darmaningtyas. Direktur Institut Studi Transportasi (Instran) itu mengatakan kebijakan mobil murah kontradiksi dengan kebijakan hemat BBM, juga kontradiktif dengan upaya pemerintah untuk mengurai kemacetan di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan.

"Lantaran harganya murah, sehingga masyarakat berbondong-bondong membelinya, maka secara kumulatif jadi boros energi. Siapa yang akan mengontrol di lapangan agar mobil murah tersebut menggunakan BBM nonsubsidi?" kata Darmaningtyas.

Menurut Darmaningtyas saat ini Electronic Road Pricing (ERP) merupakan salah satu cara untuk mengurangi kemacetan dengan sistem memungut bayaran pada setiap kendaraan yang melintasi kawasan tertentu. Dia mengatakan jika ERP dikombinasikan dengan tarif parkir mahal, BBM mahal, serta pajak progresif, hal itu efektif untuk mengurangi kemacetan. "Tentunya dibarengi dengan percepatan pembenahan angkutan umum.Biarkan mobil murah diproduksi dan dibeli masyarakat, tapi penggunaannya yang dibatasi agar tidak menambah kemacetan baru di Jakarta," kata Darmaningtyas.

Rencana pemerintah dan produsen untuk menggenjot ekspor mobil murah ramah lingkungan (low cost green car/LCGC) dinilai tidak mudah diwujudkan. "Tidak bisa dilakukan begitu saja. Banyak proses yang harus dilalui dan akan memakan waktu lama," ujar pengamat otomotif, Suhari Suhargo.

Menurut Suhari tidak mudah pula bagi suatu jenia mobil produksi lokal untuk bisa diterima dan mampu menembus pasar luar negeri. Suhari ragu produsen serius menggarap pasar ekspor. Sebab, potensi terbesar penjualan mobil seharga Rp 76-116 juta itu memang di dalam negeri, terutama di kota-kota besar, seperti Jakarta dan kawasan Bogor, Tanggerang, Depok, Bekasi.

BERITA TERKAIT

PT KAI Patok Kupon Obligasi Hingga 8,25%

PT Kerata Api Indonesia (Persero) menetapkan kupon obligasi I tahun 2017 sebesar 7,75%  per tahun untuk seri A tenor 5 tahun…

Renuka Targetkan Ekspor Tambang di 2018

Keyakinan membaiknya harga batu bara di tahun depan, menjadi harapan PT Renuka Coalindo Tbk (SQMI) bila pasar batu bara kembali meningkat.…

The Fed akan Lanjutkan Kenaikan Suku Bunga

      NERACA   Jakarta - Beberapa pejabat Bank Sentral AS atau Federal Reserve AS memperkirakan bahwa bank sentral…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Meningkatkan Daya Saing SDM Industri Dengan Program Vokasi

NERACA Kediri - Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan lemahnya daya saing industri dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya adalah Sumber Daya…

Wilayah Jawa Tengah - KKP Beri Bantuan Alat Tangkap Ramah Lingkungan

NERACA Pekalongan - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) kembali menyalurkan bantuan alat penangkapan ikan…

Korea Nilai Indonesia Mitra Penting di Sektor Industri

NERACA Jakarta – Pemerintah Korea Selatan menyatakan bahwa penguatan kerja sama dengan Indonesia pada saat ini menjadi penting. Salah satu…