FISIP UIN Siapkan Calon Diplomat Masa Depan

Minimnya diplomat ulung membuat Indonesia selalu kalah dalam setiap perundingan dengan negara lainnya, baik dari perdagangan ataupun politik dan juga hal lainnya. Karena itu, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Jakarta bekerja sama dengan Indonesian Council on World Affairs (ICWA) dari Kementerian Luar Negeri RI menggelar Short Diplomatic Course-Plus (SDC-Plus) di gedung FISIP beberapa hari lalu.

Acara yang dibuka dan diresmikan oleh Dekan FISIP Prof Dr Bachtiar Effendy itu dihadiri sejumlah mantan duta besar RI di luar negeri. Dalam sambutannya, Bachtiar Effendy berharap acara tersebut dapat mendorong minat mahasiswa FISIP, khususnya Jurusan Hubungan Internasional (HI) untuk menjadi diplomat. Dia juga mengharapkan bentuk pelatihan semacam ini akan berlanjut di masa mendatang. ”Program ini sangat baik dan kami minta untuk diteruskan,” katanya.

Tak hanya itu, dia juga mengimbau agar mahasiswa memanfaatkan pelatihan serta pembelajaran untuk menjadi diplomat tersebut dengan baik, sehingga jika kelak berminat jadi diplomat dan mentas tidak canggung lagi. ”Mahasiswa harus didorong lebih baik ke depannya,” ujarnya.

Hebatnya pelatihan yang berlangsung selama dua hari itu karena disampaikan oleh para instruktur dari Network Indonesia (Nindo), yakni sebuah lembaga pendidikan dari ICWA yang beranggotakan mantan duta besar, seperti Maroko, Mesir, Norwegia, Thailand, dan Kamboja.

Menurut Direktur Institute Kajian Internasional FISIP UIN Jakarta Drs Nazaruddin Nasution MA, program ini memberikan kesempatan bagi para mahasiswa Jurusan HI yang berminat menjadi diplomat.

Selain itu pelatihan yang digagas tersebut dapat sekaligus membekali mahasiswa untuk menyiapkan diri saat seleksi di Kementrian Luar Negeri hingga nanti ketika sudah menjadi diplomat. ”Kita menyiapkan para mahasiswa untuk menghadapi seleksi jika kelak ada kesempatan menjadi diplomat,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, mantan dubes untuk Kamboja ini juga menambahkan, pelatihan pada program SDC-Plus ini menekankan kepada para peserta untuk berbahasa dan menulis bahasa Inggris dengan baik. ”Penguasaan bahasa asing ini penting ketika seleksi diadakan di Kementerian Luar Negeri,” katanya.

Pentingnya Bahasa Inggris

Bahasa Inggris tak hanya penting bagi para calon diplomat, tetapi juga bagi para calon atase perdagangan serta pejabat Indonesia lainnya. Ketika melakukan studi ke luar negeri mereka benar-benar mencari apa yang diperlukan orang luar dari produk yang bisa di jual Indonesia.

Dengan demikian, kita (Indonesia) tak akan hanya menjadi penonton saja di perjanjian kerjasama antar negara. Apalagi di 2015 nanti, dimana kerjasama ekonomi ASEAN akan diberlakukan. Kalau kita tidak bisa memanfaatkannya maka nanti kita akan hanya menjadi pasar saja di pentas perdagangan bebas.

Apalagi, banyak kalangan yang menilai sesungguhnya negara ini (indonesia) sesungguhnya belum siap menyambut masyarakat ekonomi ASEAN, karena waktu yang sudah dekat ini belum diimbangi dengan persiapan-persiapan matang.

Bahkan, kalangan praktisi menyebut, kalau negara Indonesia mustahil mampu bersaing dengan negara tetangga dalam ajang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang bakal berlangsung pada 2015 mendatang.

Pasalnya, mereka khawatir kalau nantinya Indonesia hanya akan menjadi suatu market atau pasar saja bagi negara-negara ASEAN lainnya, tetapi tidak bisa menjadi suatu kekuatan ekonomi di kawasan ASEAN.

Related posts