Menkeu: Jangan Hanya Mengandalkan SDA - Dorong Pertumbuhan Ekonomi

NERACA

Jakarta – Pemerintah mengaku Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan sumberdaya alam (SDA) untuk mendorong akselerasi ekonomi dalam negeri. Pasalnya, harga komoditas dunia masih melemah sehingga diperlukan inovasi untuk membuka sektor lain yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan.

“Untuk ke depan sebetulnya Indonesia sudah tidak bisa lagi hanya mengandalkan SDA untuk mendorong pertumbuhan. Masalahnya tren pemanfaatan SDA dalam jumlah besar mulai akan menurun. Jadi kita harus segera cari sektor lain yang dapat diandalkan,,” kata Menteri Keuangan, Chatib Basri, dalam acara Indonesia Summit 2014 di Jakarta, Rabu (15/1).

Chatib menjelaskan alasan lain untuk tidak lagi mengandalkan SDA sebagai tonggak utama ekonomi dalam negeri juga disebabkan turunnya harga komoditas energi di dunia. Pasalnya harga penjualan energi di Timur Tengah sedang turun. Sehinggan harga komoditas energi Indonesia juga terkena dampaknya.

“Sayang sekali memang mengingat 65% ekspor Indonesoa berorientasi pada sektor energi. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa harga energi di Timur Tengah sedang drop. Sedangkan harga komoditas energi kita mau tidak mau juga drop. Bahkan AS (Amerika Serikat) juga sudah mengurangi impor gas alam di seluruh dunia. Ini juga ada dampkanya terhadap harga ekspor gas kita,” tutur Chatib.

Untuk itu Chatib menghimbau agar industri dapat melakukan inovasi untuk mengejar sektor lain yang dapat mendorong pertumbuhan. Sedangkan pemerintah akan memberi dukungan penelitian dan pengembangan. “Selain itu kami juga akan mendukung melalui insentif pajak yang semestinya dapat menstimulus industri untuk berinovasi.”

Pada kesempatan yang sama Direktur Editorial untuk The Economist Intelligence Unit di Asia-Pasifik, Charles Goddard mengungkapkan tahun 2014 ini merupakan tahun penentu bagi kemajuan Indonesia. Pasalnya akan ada pemilu yang dapat merubah tatanan kebijakan makro ekonomi dalam negeri. “Tahun 2013 sebetulnya tahun yang kurang baik bagi Indonesia. Sehingga ada harapan setelah pemilu banyak perubahan yang positif.”

Lebih jauh Goddard mengatakan Indonesia masih butuh sejumlah kebijakan yang terdapat intervensi pemerintah dengan porsi lebih besar. Pasalnya banyak analis yang meragukan masa depan makro ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Terlebih pasar tengah terguncang oleh penurunan harga komoditas.

“Prihatin memang mengingat Indonesia juga akan ditekan dengan adangan QE secara berkala oleh AS. Akhirnya rupiah juga berpotensi mengalami penurunan tajam. Dampkanya sejumlah investor justru akan semakin cemas juga dengan menarik sejumlah investasi,” terang Goddard.

Lanjut, Goddar menilai dampak dari QE itu sendiri mengakibatkan tingkat pertumbuhan PDB Indonesia akan jatuh ke bawah 6%. Bahkan World Bank telah merelease tingkat pertumbuhan Indonesia tahun 2014 di angka 5,6%. “Memang masalah di Indonesia sangat kompleks mengingat ada problem infrastruktur, ketidakpastian peraturan yang mempersulit keadaan, reformasi yang trnyata stagnan dan korupsi di lingkungan pemerintah,” pungkasnya. [lulus]

Related posts