Pertumbuhan Kredit Alami Tren Perlambatan - Triwulan IV 2013

NERACA

Jakarta - Survei Perbankan oleh Bank Indonesia (BI) pada triwulan IV tahun 2013 mencatatkan pertumbuhan kredit berada dalam tren melambat. Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs menjelaskan Indikasi tersebut tercermin dari angka saldo bersih tertimbang (SBT). “Hasil survei permintaan kredit baru triwulan IV-2013 yang turun dari 90,0% di triwulan sebelumnya menjadi 88,5%,” kata Peter di Jakarta, Rabu (15/1).

Dalam Survei, perlambatan pertumbuhan permintaan kredit baru diperkirakan semakin dalam pada triwulan I tahun 2014. Hal ini tercermin dari SBT perkiraan kredit baru triwulan I tahun ini yang menurun dari 88.5% menjadi 60,2%.

Sesuai dengan polanya, perbankan cenderung menurunkan target pemberian kredit pada awal tahun seiring dengan kebutuhan pembiayaan yang belum begitu besar, baik oleh nasabah perusahaan maupun rumah tangga.

Rata-rata pemberian kredit baru pada triwulan I tahun ini diperkirakan menurun sebesar 3,4% quarter to quarter (qtq). Sedangkan pertumbuhan outsanding kredit triwulan I dibandingkan posisi Desember 2013 diperkirakan tumbuh sebesar 4,4%.

Sedangkan berdasarkan prioritasnya, meski mendapat tekanan akibat kebijakan LTV, pemberian kredit pemilikan rumah (KPR) atau kredit pemilikan apartemen (KPA) masih menjadi prioritas utama penyaluran kredit konsumsi triwulan I.

Dari sisi sektoral, perbankan merubah prioritas ketiganya dalam penyaluran kredit, yaitu dari kredit kepada sektor Real estate, Usaha persewaan dan jasa perusahaan menjadi kredit kepada sektor transportasi, pergudangan dan komunikasi.

Dia menjelaskan, perlambatan tercatat pada seluruh sektor dan seluruh jenis penggunaan kredit. Penurunan terbesar terhadap permintaan kredit baru terjadi pada Kredit KPR atau KPA. “Ini sebagai respons atas kenaikan suku bunga dan diterapkannya kebijakan lanjutan Bank Indonesia mengenai Loan to Value (LTV) pada September 2013,” ucap dia.

Selain itu, perlambatan pertumbuhan kredit diperkirakan berlanjut pada 2014. Kondisi ini tercermin pada sebagian besar responden yang memperkirakan pertumbuhan kredit menjadi 19,1% (yoy), melambat dibandingkan perkiraan pertumbuhan kredit tahun 2013 (20,8%, yoy).

Lebih lanjut dia menjelaskan, pertimbangan utama responden dalam memproyeksikan perlambatan pertumbuhan kredit yakni tren pelemahan pertumbuhan ekonomi dan kenaikan suku bunga kredit. “Hasil Survei Perbankan menunjukkan suku bunga perbankan, baik suku bunga dana maupun suku bunga kredit, diperkirakan meningkat pada triwulan I-2014,” imbuh dia.

Rata-rata responden memperkirakan suku bunga dana (cost of fund) meningkat sebesar 128 bps, sedangkan suku bunga kredit modal kerja, kredit investasi dan kredit konsumsi masing-masing mengalami kenaikan sebesar 27 bps, 16 bps dan 6 bps.

Berlanjutnya pelemahan pertumbuhan ekonomi dan kenaikan suku bunga kredit menjadi pertimbangan utama responden dalam memproyeksikan pertumbuhan kredit 2014 yang lebih rendah dari tahun sebelumnya. Berdasarkan data BI, outsanding kredit pada November 2013 tumbuh sebesar 22,4% (yoy) melambat dibandingkan pertumbuhan akhir 2012 sebesar 23%. [sylke]

Related posts