Tangani Banjir, Pemerintah Alokasikan Rp5,5 Triliun - Pembangunan Waduk Mulai Tahun Depan

NERACA

Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum telah mengalokasikan anggaran khusus penanganan banjir untuk seluruh Indonesia sebesar Rp5,5 triliun pada tahun ini. Dari total anggaran tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendapat jatah sepertiganya atau senilai Rp1,6 triliun. Menurut Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Muhammad Hasan mengatakan, dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Anggaran 2014, pihaknya mengalokasikan anggaran Rp1,1 triliun, dan akan ditambah lagi Rp500 miliar untuk menangani banjir khusus di ibukota.

“Anggaran tersebut untuk pembangunan beberapa proyek penanganan banjir seperti, Sudetan Kali Ciliwung, Normalisasi Kali Ciliwung, Normalisasi Kali Pesanggrahan, Angke dan Sunter (PAS),” ujar Hasan di Jakarta, Rabu (15/1). Lebih jauh dirinya mengatakan, terdapat 20 kota besar di Indonesia yang menjadi sorotan Pemerintah Pusat terkait banjir.

Sebagian besar merupakan ibukota provinsi, salah satunya Manado, ibukota Provinsi Sulawesi Utara. Jakarta menjadi kota yang mendapat alokasi anggaran paling besar karena dampak yang ditimbulkannya lebih besar. "Untuk mengurangi dampak kerugian, semakin banyak aset, itu akan semakin rugi. Karena tinggi sekali itu anggaran yang dikeluarkan. Hampir setiap tahun DKI Jakarta paling besar (anggarannya)," terangnya.

Tak hanya itu. Hasan menambahkan, rencana pembangun waduk raksasa di Ciawi, Jawa Barat sempat terhenti lantaran dinilai kurang efektif menanggulangi banjir Jakarta dan memakan biaya yang besar. Akan tetapi, proyek tersebut akan tetap dilanjutkan mulai tahun depan yang menelan anggaran sebesar Rp1,9 triliun dan dibagi menjadi dua waduk skala kecil, dari konsep sebelumnya yang hanya satu waduk skala besar.

Rencana awal, waduk Ciawi dibangun di daerah dataran tinggi namun karena struktur tanah di daerah tersebut lembut sehingga berisiko amblas. Kemudian diputuskan posisi waduk akan dibangun di dataran yang lebih rendah di dua lokasi. "Waduk Ciawi dahulu tinggi. Tapi soft soil (tanah lembut), jadi diturunkan dan dibuat dua macam namun kecil-kecil," kata dia.

Hasan mengatakan, waduk tersebut dinamai waduk Ciawi dan Waduk Sukamahi. Untuk Waduk Ciawi akan dibangun dengan tinggi 40 meter sedangkan Waduk Sukamahi dibangun setinggi 30 meter. "Kapasitasnya Ciawi 11 juta meter kubik dan Sukamahi hanya 3 juta kubik," tambahnya. Kedua waduk ini telah dilakukan desain awal, dan saat ini tengah dilakukan detail design. Pada 2015 mendatang ditargetkan kedua waduk ini akan mulai dibangun.

Penyebab banjir

Di tempat yang sama, Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto, menyatakan perubahan iklim yang terjadi saat ini adalah salah satu penyebab banjir. Menurut dia, ada tiga faktor utama yang menjadi penyebab banjir dan menurutnya akan menjadikan banjir lebih parah.

Pertama, kendaraan bermotor dan pabrik-pabrik yang setiap hari mengeluarkan gas rumah kaca. Pada satu sisi, kondisi gas rumah kaca bertambah, namun sisi lain, kondisi alam yang menerima gas rumah kaca berkurang.

Kedua, semakin menyempitnya daerah resapan air terutama di daerah hulu. Hal ini disebabkan karena banyak bangunan yang dibangun di daerah resapan, juga pepohonan yang banyak ditebang. Air hujan yang turun semestinya langsung dapat diresap ke tanah. Namun, karena daerah resapan tersebut menyempit, maka air hujan mengalir menuju kali atau sungai-sungai terdekat, sehingga akhirnya meluap.

"Kalau ada hujan turun sebagian besar air yang masuk itu tidak terserap tapi run off masuk ke kali," jelasnya. Ketiga, penyempitan sungai akibat dari tumpukan sampah dan hunian masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai. Menurut Djoko Kirmanto, kebiasaan tersebut harus ditertibkan agar tidak memperparah banjir. [ardi]

Related posts