Butuh Waktu Lama Menarik Kembali Dana Asing - Tahun Politik Jadi Pertimbangan

NERACA

Jakarta – Luka lama pasar modal setelah ditinggalkan asing dengan dana keluar (capital outflow) mencapai Rp21,35 triliun (Data BEI 27 Desember 2013) dinilai masih butuh waktu lama untuk disembuhkan. Pasalnya, tahun politik dinilai sebagian besar pengamat sebagai periode yang dipertimbangkan investor khususnya asing. Apalagi jika yang dikhawatirkan terjadi, pemilihan presiden harus melalui dua putaran dan disertai kericuhan.

Analis PT Danareksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo menilai demikian. Menurut dia, pada prinsipnya pasar masih menunggu yang akan dilakukan The Fed pada 28-29 Januari mendatang. Aksi wait & see sebagian pelaku pasar karena pada tanggal tersebut The fed akan merumuskan kebijakan dan potensi AS dalam sinyal positif,”Kondisi ini nantinya akn mendorong pelaku pasar menilai bahwa kondisi pasar banyak spekulasi dan positif untuk Asia. Hal ini akan cenderung menguatkan indeks kita”, katanya kepada Neraca di Jakarta, Rabu 15/1).

Sehingga, tambah dia, dana asing (capital inflow) akan mulai masuk kembali ke pasar modal. Namun, untuk menggantikan dana asing yang keluar sebesar Rp21,35 triliun, dianggap belum dapat terealisasikan dalam waktu dekat.

Hal ini disebabkan belum ada sinyal kuat yang dapat menarik investor asing untuk menginvestasikan dananya di pasar modal Indonesia. Dia mengatakan, setelah laporan keuangan emiten kuartal pertama 2014 diumumkan, ada kemungkinan asing berani masuk lagi.“Apalagi jika hampir semua laporan keuangan emiten menghijau tentu akan menarik minat banyak investor dan menjanjikan kinerja emiten yang cukup baik sehingga akan ada dividen yang bagus unutk dibagikan”, jelasnya.

Meski begitu, dia mengingatkan bahwa masuknya asing masih bersifat sementara walaupun rapor emiten tidak merah. Ini disebabkan kondisi politik Indonesia yang dikhawatirkan memanas jika pemilihan presiden harus melalui putaran kedua.

Sementara itu, Pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila, Agus Irvani mengatakan bahwa periode Januari merupakan siklus yang disebut January effect, yaitu kondisi di mana investor mulai berani masuk lagi ke pasar.“Dalam kondisi normal, biasanya January effect terjadi bullish. Sementara di akhir Desember ada yang disebut yield end effect dimana terjadi banyak aksi profit taking sehingga indeks cenderung anjlok”, jelasnya.

Dia menambahkan, seharusnya pada periode pertengahan Januari sudah ada tanda-tanda indeks akan kembali bullish. Namun, hingga kini belum ada tanda-tanda tersebut walaupun investor asing sempat melakukan net buy hingga Rp2 triliun dalam sehari.“Masuknya asing dengan transaksi besar perhari itu merupakan bagian dari siklus musiman”, katanya.

Senada dengan Lucky, dia juga menilai kinerja indeks di tahun ini akna jauh lebih berat karena adanya Pemilu. Ada kemungkinan investor asing berpikir 2-3 kali untuk kembali masuk membawa dana besar. Menurut dia, ada semacam pemikiran di pelaku pasar yang menilai jika asing enggan masuk, pasar akan memburuk.“Sehingga banyak yang menilai asing menjadi market maker. Padahal mereka lebih singkat menyimpan dananya di pasar kita. Mereka lebih memilih profit taking (short term)”, ujarnya. (nurul)

Related posts