Bea Masuk Sangat Rendah, Impor Teh Melonjak 32%

NERACA

Jakarta - Sebagai penghasil teh terbaik di dunia, ternyata Indonesia masih kerap mengimpor teh dari negara lain. Menurut Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi importasi teh Indonesia selama 5 tahun terakhir naik sebesar 32,5%. Impor teh biasanya didatangkan dari Vietnam, Srilanka, dan Kenya yang kualitas produknya cukup rendah.

Bachrul menjelaskan bahwa Indonesia juga menjadi salah satu negara yang menerapkan bea masuk impor teh yang cukup rendah bila dibandingkan dengan negara lain. Indonesia hanya mengenakan bea masuk sebesar 5%, sementara Turki menjadi negara produsen teh yang menerapkan bea masuk tertinggi yaitu sebesar 105%.

"Bea masuk teh kita adalah yang paling rendah hanya 5%. China 15-30%, Srilanka 30%, Vietnam 50%, Rusia 20%, Irak 15%, bahkan Turki 105%. Sehingga Indonesia yang juga merupakan importir teh, tetapi yang diimpor adalah impor teh dengan kualitas rendah," ungkap Bachrul di kantornya, Rabu (15/1).

Dikala volume impor yang selalu meningkat, namun tidak dengan kinerja ekspor teh Indonesia. Menurut dia, dalam 5 tahun terakhir kinerja ekspor teh mengalami penurunan. Hal itu disebabkan salah satunya adalah pengalihan lahan sehingga produksi berkurang.

Diperkirakan ekspor teh Indonesia turun hampir 1% selama 5 tahun terakhir. Di tahun 2008, ekspor teh mencapai US$ 158 juta turun menjadi US$ 156,7 juta di tahun 2012. Sedangkan di Oktober 2013 sudah mencapai US$ 132,7 juta. Padahal harga per kg teh Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan Vietnam, Srilanka, dan Kenya.

Bachrul mengatakan dengan meningkatnya arus importasi teh ketimbang ekspornya menyebabkan kerugian yang dialami para petani teh. "Akibatnya petani tidak bergairah untuk menanam. Kenaikan harga tenaga kerja, pupuk dan obat harga teh menjadi tidak menguntungkan. Sebagai catatan saja harga ekspor teh Vietnam adalah US$ 1,4/kg, Indonesia US$ 1,8/kg," imbuhnya.

Hal itu juga berimbas kepada lahan pertanian teh di Indonesia yang menurun signifikan selama 5 tahun terakhir. Para petani lebih memilih menanam produk hortikultura yang lebih menguntungkan ketimbang menanam teh. "Dilihat dari jumlah lahan turun selama 5 tahun terakhir dari 153 ribu hektar menjadi 130 ribu hektar di tahun 2012 sedangkan kualitas teh nasional juga cukup rendah. Lahan teh selama ini banyak yang telah beralih fungsi menjadi tanaman hortikultura akan padahal harga jual ekspor teh Indonesia tinggi," jelasnya.

Namun begitu, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi justru memproklamirkan bahwa Indonesia masuk dalam 10 besar negara di dunia yang mempunyai produksi terbesar di komoditas perkebunan. Komoditas tersebut antara lain teh, cokelat (kakao) dan kopi. "Indonesia ini menjadi top ten atas 3 produk yaitu teh peringkat 7 dunia, produksi kopi peringkat 5 dunia dan cokelat peringkat 3 dunia," ungkap Bayu.

Produksi teh kering Indonesia mencapai 150.000 ton per tahun. Sedangkan produksi biji kakao mencapai 800.000 ton/tahun. Untuk produksi kopi per tahun bisa mencapai 600.000 ton. Tetapi Bayu khawatir 2 dari 3 produk komoditas perkebunan yaitu teh dan kopi mengalami defisit dari sisi produksi maupun kualitasnya. Hal ini karena lahan untuk 2 komoditas perkebunan mengalami defisit dari tahun ke tahun.

"Di satu sisi ada pengurangan lahan khususnya untuk teh sebesar 10.000 hektar sampai 15.000 hektar. Ada juga perubahan sisi kualitas teh hal ini juga terjadi pada kopi. Namun cokelat agak lebih positif baik dari sisi kualitas dan produksinya," imbuhnya.

Ia menyarankan agar para pelaku usaha kreatif membuat kemasan, lalu petani lebih giat lagi untuk meningkatkan produktivitas. Sehingga dengan kemasan menarik dan produksi yang tinggi maka ketiga produk komoditas perkebunan itu akan menjadi kebutuhan masyarakat yang berkelanjutan.

"Sekarang ini kami sedang menangani permintaan domestik yang tinggi termasuk permintaan global. Di Indonesia hampir semua komoditas meningkat signifikan. Itu tidak hanya berdasarkan angka tetapi juga mengenai kualitas. Teh, kopi dan cokelat telah menjadi lifestyle. Timbul pertanyaan bagaimana kita menyediakan produk, packaging dan meningkatkan produksinya," sebutnya.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), impor teh dari Januari-September 2013 sebesar 16.557 ton atau US$ 23,4 juta. Sedangkan kopi adalah 14.343 ton atau US$ 34,7 juta. Pada rinciannya, impor teh berasal dari negara-negara seperti Vietnam dengan volume 10.173 ton atau US$ 10,68 juta. Kemudian Kenya dengan 1.127 ton atau US$ 3,3 juta, India 1.020 ton atau US$ 2,35 juta, Iran 3.265 ton atau US$ 2,07 juta, Srilanka 118 ton atau US$ 1,28 juta dan negara lainnya 851 ton atau US$ 3,62 juta.

Produksi Menurun

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Teh Indonesia Rachmat Badruddin mengungkapkan, produksi teh saat ini mengalami penurunan. Salah satu penyebabnya adalah tidak sedikit perkebunan teh rakyat yang dikonversi ke tanaman lain yang dianggap lebih menguntungkan, seperti sayur-sayuran, kelapa sawit, karet dan lain-lain.

Menurut Rachmat, dalam sepuluh tahun terakhir setidaknya sekitar 30.000 hektar dibabat oleh petani. Saat ini secara keseluruhan perkebunan teh tinggal 120.000 hektar yang tersebar di Pulau Jawa, dan Sumatera. Sedangkan produksinya sekitar 130 ton per hektar. “Ini kan perlu dicermati,” tukasnya.

Dengan turunnya produksi teh dalam negeri, membuat posisi Indonesia sebagai produsen teh dunia merosot menjadi nomor tujuh. Posisi tersebut kalah dengan Vietnam dan Turki dari sisi produktivitas.

Dengan merosotnya produksi teh dalam negeri, maka sekarang ini banyak teh-teh dari luar negeri yang masuk ke Indonesia. Padahal semestinya pasokan teh dapat dipenuhi sendiri.

Related posts