Menguak Revolusi di Bidang Farmasi - Nanoteknologi

NERACA

Perkembangan industri farmasi yang menggunakanteknologi nanosaat ini sudah tumbuh demikian pesat. Nanoteknologi merupakan teknologi yang memungkinkan sebuah benda dipecah dalam skala nanometer atau satu per semiliar meter dan merupakan salah satu teknologi yang disebut-sebut mampu mendorong pertumbuhan industri dan ekonomi di segala bidang. Di dunia farmasi, nanoteknologi berperan dalam meningkatkan kualitas produksi dan keamanan.

Ya, nanoteknologi farmasi dapat mengatasi permasalahan yang timbul dalam formulasi obat, protein, peptida, dan asam nukleat yang menghasilkan bioavailabilitas dan efek klinis yang rendah. Saat ini perkembangan nanoteknologi bukan hanya di farmasi, melainkan juga di bidang lainnya seperti kosmetik.

Dalam suatu kesempatan,Dekan Fakultas Farmasi Universitas Pancasila (FFUP), Wahono Sumaryono menuturkan, perkembangan nanoteknologi farmasi di Indonesia akhir-akhir ini makin maju. Nanoteknologi farmasi merupakan ilmu-ilmu farmasi yang menggabungkan teknologi farmasi, kimia farmasi, biologi farmasi, bioteknologi farmasi, dan lainnya.

"Dalam lima tahun terakhir ini perkembangan nanoteknologi farmasi di Indonesia cukup maju Dengan adanya nanoteknologi farmasi, tentunya memberikan peluang baru dalam sistem penghantaran obat dan strategi dalam penargetan obat sehingga lebih tepat sasaran. Akan tetapi, kami juga perlu mengetahui efek samping seperti apa yang ditimbulkan," ujar Profesor Doktor Wahono Sumaryono, Apt, di sela acara seminar internasional yang bertajuk "Biopolymeric Micro/nanoparticles for Drug and Protein Delivery" di Aula Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, Jakarta belum lama ini.

Menurut dia dengan adanya nanoteknologi farmasi tentunya akan menguak revolusi dunia di bidang farmasi tersebut karena nanoteknologi mampu mengurangi bahan baku obat sehingga penggunaannya lebih sedikit daripada tidak menggunakan nanoteknologi.

"Biaya bahan baku obat lebih murah dan sedikit, tetapi memang dibutuhkan investasi besar dalam mengembangkan nanoteknologi. Negara-negara di Eropa Barat, Jepang, Singapura, bahkan Thailand perkembangan nanoteknologi sudah maju. Mereka sudah lebih dari sepuluh tahun lalu mengembangkannya," ujar dia.

Sementara itu, Rektor Universitas Pancasila Edie Toet Hendratno memandang perlu peran negara dalam mengembangkan nanoteknologi farmasi karena biaya yang dikeluarkan untuk investasi di bidang tersebut relatif sangat besar. Jika tidak dikembangkan, Ede khawatir, Indonesia akan tertinggal oleh negara-negara lain yang sudah mengembangkannya jauh lebih maju. "Untuk pembuatan laboratorium nanoteknologi dibutuhkan dana sekitar Rp1 triliun sampai Rp2 triliun. Pemerintah bisa menugasi BUMN yang berkaitan dengan hal tersebut seperti Kimia Farma ataupun Biofarma untuk mengembangkan nanoteknologi farmasi. BUMN bidang farmasi ini bisa menjadi ujung tombak pengembangan nanoteknologi farmasi di Indonesia," imbuh dia.

Related posts