UNFPA Gelar Temu Remaja - KEHAMILAN USIA REMAJA BERISIKO TINGGI

NERACA

Sebanyak 18% dari jumlah penduduk di dunia adalah remaja, 88% dari mereka tumbuh di negara berkembang. Mendekati setengahnya, atau 49% dari jumlah remaja perempuan di dunia hidup di 6 negara – China, India, Indonesia, Nigeria, Pakistan, dan Amerika Serikat. Setiap hari, 20 ribu perempuan berusia di bawah 18 tahun melahirkan di negara-negara berkembang.

Sementara itu, sebanyak 2 juta dari 7,3 juta perempuan berusia di bawah 15 tahun menjadi ibu remaja baru setiap tahunnya. Jika hal ini dibiarkan, pada tahun 2030 jumlah kelahiran dari Ibu berusia di bawah 15 tahun akan meningkat menjadi 3 juta per tahun.

Risiko kehamilan remaja cenderung lebih tinggi di kalangan perempuan yang tidak mengenyam pendidikan layak, tinggal di daerah terpencil, dan hidup dalam kemiskinan dibandingkan dengan perempuan yang hidup di daerah perkotaan, berpendidikan, dan hidup berkecukupan. Perempuan dari kaum minoritas dan kelompok marjinal, serta mereka yang memiliki keterbatasan akses dan informasi mengenai kesehatan reproduksi dan seksual juga memiliki risiko yang tinggi.

Menindaklanjuti peluncuran State of World Population(SWOP)Report2013 di Yogyakarta, akhir Desember lalu, Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) bekerjasama denganPemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY),BadanKependudukan Keluarga Berencana Nasional(BKKBN),Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), danKomite Nasional Pemuda Indonesia(KNPI) menyelenggarakan acara Temu Remaja di Hotel Inna Garuda Yogyakarta beberapa waktu lalu. Hal ini merupakan upaya untukmeningkatan kesadaran tentang masalah kehamilan remaja di Indonesia.

Lebih dari 500 anak muda berusia 15-24 tahun yang berdomisili di Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Kulonprogo, Sleman, dan Gunung Kidul menghadiri acara Temu Remaja ini untuk berdiskusi dan berbagi cerita mengenai masalah kehamilan remaja.Selain sesi diskusi, para peserta juga mendapatkan pembekalan informasi mengenai hal-hal yang terkait dengan gender, seksualitas, pubertas, dan HIV/AIDS.

“Kehamilan remaja memiliki dampak yang sangat serius terhadap pendidikan, kesehatan dan pekerjaan jangka-panjang para remaja perempuan. Banyak yang bisa dilakukan untuk menanggulangi masalah kehamilan remaja. Salah satu cara yang paling efektif adalah melalui pendidikan mengenai permasalahan dan kiat-kiat pencegahannya,” ujarPerwakilan UNFPA, Jose Ferraris, untuk Indonesia sesaat setelah memberikan kata sambutan pada acara Temu Remaja.

UNFPA berusaha menegakkan hak setiap para remaja perempuan untuk dapat bertumbuh tanpa dibebani masalah ketidaksetaraan gender, diskriminasi, kekerasan, pernikahan dan kehamilan dini, sehingga mereka mampu menciptakan masa peralihan menuju kehidupan dewasa yang aman dan sehat.

Masa remaja tidak seharusnya terganggu oleh kehamilan. Laporan SWOP ini mencerminkan temuan dan upaya UNFPA bersama mitra kerja untuk mengatasi masalah kehamilan remaja. UNFPA berharap kominitas-komunitas global dapat bekerjasama untuk menciptakan dunia di mana setiap kehamilan merupakan kehamilan yang diinginkan, setiap persalinan merupakan persalinan yang aman, dan setiap potensi remaja untuk mendapatkan hidup layak dapat terwujud.

“Temu remaja ini merupakan jenis kegiatan antar organisasi yang benar-benar bisa memberikan keuntungan kepada remaja untuk dapat mengumpulkan informasi sebanyak mungkin mengenai kehamilan remaja, beserta kiat-kiat pencegahan. Harapannyakegiatan ini menjadi pelopor dari kegiatan-kegiatan serupa dalam rangka mencegah kehamilan remaja serta memberdayakan remaja dan perempuan muda,” kata Ketua Pelaksana PKBI Inang Winarso.

Related posts