Galakkan Program Intervensi Kesehatan Masyarakat - UPAYA MENGUBAH PERILAKU PENDERITA HIPERTENSI

Lebih dari 25% orang Indonesia di atas umur 18 tahun menderita hipertensi. namun kurang dari 10% yang tahu bahwa mereka menderita hipertensi. Meskipun mereka mengetahui penyakit hipertensinya, tidak berarti penyakit tersebut terkendali.Perubahan gaya hidupdan kepatuhan dalam menjalankan pengobatan menjadi kendala utama. Program intervensi kesehatan masyarakat diharapkan mampu meningkatkan kepedulian masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan agar tekanan darah pada tingkat yang baik (normal) dan bagi mereka yang memiliki penyakit hipertensi mampu mencegah tidak terjadi komplikasi stroke dan gagal ginjal.

NERACA

Angka kematian kasus (fatality rate case)penyakit kardiovaskuler, yang sangat erat dengan hipertensi, yang dirawat di rumah sakit menempati urutan teratas dibandingkan dengan penyakit lainnya. Salah satu penyebabnya adalah karena perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia. Bukan hanya mereka yang hidup di daerah perkotaan tetapi yang berada di pedesaan.

Tingginya angka kematian kardiovaskuler pada usia yang semakin muda, yang terutama berkaitan dengan hipertensi di Indonesia merupakan salah satu tanda bahwa masyarakat Indonesia masih kurang memahami pentingnya kepatuhan (compliance)dalam menjalankan pengobatan danperubahan gaya hidup.

Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa intervensi pengendalian yang mengubah perilakupasien hipertensi dapat menurunkan komplikasi hipertensi. Hingga saat ini kerap dipahami bahwa hipertensi berkaitan dengan gaya hidup perkotaan. Pada kenyataannya penduduk yang tinggal di daerahsub-urbanmemiliki angka prevalensi hipertensi yang cukup tinggi.

Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), Ekowati Rahajeng menuturkan, berdasarkan pengukuran Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, lebih dari 25% orang Indonesia menderita hipertensi. Namun, yang mengkhawatirkan adalah yang tahu bahwa mereka menderita hipertensi berdasarkan diagnosis dokter, tidak sampai 10%.

Menyadari situasi penyebaran hipertensi tersebut, sambung Ekowati Rahajeng, Direktorat Penyakit Tidak Menular (PTM) mengajak masyarakatberperilaku‘CERDIK’ dengan melakukanCek kesehatan secara rutin,Enyahkan asap rokok dan polusi udara lainnya,Rajin aktifitas fisik,Diet sehatdengan kalori seimbang,Istirahat cukup, danKelolastress. “PerilakuCERDIK perlu terus ditingkatkan dan digencarkan, terutama sosialisasi ke daerah-daerahsub-urban,” kata dia.

Berangkat dari hal tersebut, Kemenkes RI,PT Novartis Indonesia (Novartis)danPusat Kajian Ekonomi dan KebijakanKesehatanUniversitas Indonesia (PKEKK UI)akan menyelenggarakan diskusi interaktif yang membahas mengenai program intervensi kesehatan masyarakat dalam mengendalikan hipertensi di Indonesia, yang rencananya dilakukan di daerahsub-urbanyakni Kabupaten Bogor.

Diskusi ini melibatkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang diwakili oleh Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular(PTM)dan Pusat Promosi Kesehatan(Promkes). Selain perwakilan dari PTM dan Promkes Kemenkes, Dinas KesehatanKabupatenBogor danPKEKK UIturut serta mengembangkan model intervensi yangcost-effective.

Dalam kesempatan yang sama, upayamulti-stakeholdersbidang kesehatan ini dalam pengembangan program intervensi untuk mengubah perilaku pasien dalam pengendalian hipertensi dikukuhkan melalui penandatanganannota kesepakatan antara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Novartis, dan PKEKK UI.

“Upaya kerjasama ini merupakan wujud nyata komitmen semua pihak, baik dari akademisi dan swasta mendukung program kesehatan khususnya dalam pengendalian penyakit tidak menular hipertensi melalui peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya melakukan upaya-upaya pencegahan dan mengenal lebih dini tentang hipertensi," jelas Lily S Sulistyowati, kepala Pusat Promosi Kesehatan, Kemenkes, menambahkan.

Menurut Lily, model intervensi yang dikembangkan ini adalah intervensi kesehatan masyarakat, karena tingkat pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang hipertensi masih rendah, dan itu merupakan masalah utama. Oleh karena itu perlu diberikan edukasi dengan cara yang mudah dipahami dan mendorong kemandirian masyarakat untuk mengenal dan mampu mencegah penyakit hipertensi. Wujud adanya kemandirian masyarakat dalam mengenal dan mencegah hipertensi adalah mereka tahu dan mampu menerapkan pola hidup sehat dengan melakukan perilaku hidup bersih dan sehat sebagai budaya hidup sehari-hari. Kemenkes berharap modul yang dibuat nantinya dapat membantu dan memandu petugas kesehatan dalam memberikan edukasi tentang hipertensi, melakukan pembinaan dan pendampingan masyarakat dalam mengatasi dan mencari solusi pemecahannya.

Kabupaten Bogor dipilih menjadi lokasi penelitian ini karena kasus hipertensi yang cukup signifikan, walaupun rata-rata penduduk daerah tersebut memiliki gaya hidup yang berbeda dengan gaya penduduk perkotaan. Selain itu Kabupaten Bogor telah merupakan daerah binaan Direktorat PTM.

Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan KesehatanUniversitas Indonesia (PKEKK-UI) Hasbullah Thabrany menjelaskan, pengendalian penyakit tidak menular seperti hipertensi tidak dapat bertumpu hanya pada upaya kuratif dan rehabilitatif semata. Jika upaya mengubah perilaku mencegah komplikasi hipertensi tidak dimulai, maka hipertensi akan menjadi beban ekonomi, baik bagi penderita maupun negara ketikaJaminanKesehatanNasional (JKN) berjalan.

“Beban ekonomi yang dirasakan bagi penderita adalah hilangnya hari produktif, baik karena serangan penyakit maupun akibat komplikasinya,” kata dia.

Program intervensi kesehatan masyarakat yang melibatkan 500 penduduk Kabupaten Bogor penderita hipertensi akan dijalankan secara teknis oleh tim PKEKK UI, dipantau oleh Kemenkes RI, dan didukung oleh Novartis Indonesia hingga Oktober 2014. Modul yang dihasilkan akan dikaji dan diteliti agar dapat digunakan di daerah lain dalam pengendalian hipertensi di tahun mendatang.

Presiden Direktur PT Novartis Indonesia Luthfi Mardiansyah menambahkan, dengan mempelajari tren perilaku masyarakat yang selalu berubah-ubah dalam bidang kesehatan, terutama dalam mengendalikan hipertensi, maka bersama-sama dengan Kemenkes RI dan PKEKK UI. Novartis pun siap mendukung pengembangan modul intervensi kesehatan masyarakat ini dalam rangka percepatan pencapaian target MDGs, yaitu dengan mencegah terjadinya PTM pada usia muda. Novartis juga menyadari pentingnya kerjasama denganmulti-stakeholdersdalam penerapan pendekatan kesehatan masyarakat yang sejalan dengan komitmen tanggung jawab sosialperusahaan terhadap dukungan peningkatan layanan dan akses kesehatan di Indonesia.

Related posts