Setu Babakan - Kawasan Wisata Berbalut Nuansa Betawi

JAKARTA

Wisata setu babakan memang kalah populer dibandingkan dengan Monas atau Ancol ataupun Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dan Kebun Binatang Ragunan. Obyek wisata yang berlokasi di Srengseng Sawah, kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan ini menawarkan wisata budaya betawi yang tak kalah bagusnya dengan tempat-tempat wisata lainnya.

Setu Babakan atau yang berarti‘Danau Babakan’adalah kawasan wisata yang memiliki danau seluas 32 hektare dengan fungsi sebagai menampung aliran sungai Ciliwung.

Kawasan Setu Babakan diresmikan sebagai kawasan cagar budaya pada tahun 2004 lalu, yakni bersamaan dengan peringatan HUT DKI Jakarta ke-474. Perkampungan yang terletak di selatan Kota Jakarta ini merupakan salah satu objek wisata yang menarik bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana khas pedesaan atau menyaksikan budaya Betawi asli secara langsung.

Di perkampungan ini, masyarakat Setu Babakan masih mempertahankan budaya dan cara hidup khas Betawi, seperti memancing, bercocok tanam, berdagang, membuat kerajinan tangan, dan membuat makanan khas Betawi. Melalui cara hidup inilah, mereka aktif menjaga lingkungan dan meningkatkan taraf hidupnya.

Dengan terlihat para pedagang jajanan berjejer menggelar dagangan mereka di sepanjang jalan yang mengitari danau, lengkap dengan tikar yang disediakan bagi para pengunjung yang ingin bersantai. Berbagai jenis panganan khas Betawi disuguhkan, seperti kerak telor, kue rangi, toge goreng, arum manis, rujak bebek, soto betawi, laksa, nasi uduk, nasi ulam dan bir pletok.

Jika datang ke setu babakan, kita tidak hanya sebatas memandangi air danau dan semilir angin yang bertiup, tapi juga dapat menikmati sajian kesenian khas Betawi, seperti lenong, tari topeng, tanjidor, marawis, gambang kromong, tari lenggang nyai, tari narojeng, dan kesenian pencak silat. Di danau itu juga bisa dilihat aktivitas masyarakat yang sedang memancing, olahraga kano, atau perahu bebek sebagai sarana hiburan keluarga.

"Kalau hari biasa memang tidak ada pertunjukan kesenian, sebab pengunjungnya juga tidak terlalu banyak," kata Indra Sutisna, dari Komite Kesenian dan Pemasaran Kawasan Perkampungan Budaya Betawi.

Menurutnya, kawasan yang ditetapkan sebagai Cagar Budaya Betawi pada 2004 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sutiyoso, ada sekitar 200 sanggar budaya dan seniman Betawi yang secara bergantian tampil di sana. Ditetapkannya kawasan itu sebagai cagar budaya dimaksudkan untuk menjaga kelestarian budaya Betawi yang semakin tergerus oleh budaya dari luar.

Ia menjelaskan banyak pengunjung yang datang bukan sekadar untuk menikmati danau, tetapi juga ingin menyaksikan acara kebudayaan Betawi, sekadar melepas rindu dan bernostalgia.

"Itu perlu diapresiasi, dan kami berharap Pemerintah DKI Jakarta akan lebih membangun kawasan ini, sebab dengan dibangunnya perkampungan yang mempertahankan budaya Betawi, jelas dapat melestarikan budaya asli Jakarta dalam bentuk wisata budaya, wisata air, dan wisata agro," kata dia.

Dijelaskannya, kawasan itu sebenarnya seluas 289 ha di Kelurahan Srengseng Sawah. Namun sejauh ini baru 67,5 ha yang telah ditata dengan serius, berupa kawasan danau seluas 65 ha dan calon kawasan terpadu di Setu Babakan seluas 2,5 ha. Kawasan terpadu itu sejauh ini masih dalam tahap pembangunan.

"Saat ini bukannya tidak bagus, namun masih banyak yang harus ditingkatkan sehingga tahun ini kami fokus untuk peningkatan sarana dan prasarana, serta bentuk-bentuk kesenian yang akan ditampilkan. Baru kami berani pasang target," ucapnya.

Meski ditetapkan sebagai cagar budaya, aktivitas warga yang menghuni kawasan itu sama seperti warga lainnya di Jakarta. Di antaranya pergi bekerja atau berdagang di pagi hari dan pulang pada malam hari. Menurut Indra, mayoritas penduduk di Setu Babakan adalah Betawi, yaitu sekitar 60%, dan sisanya sekitar 40% berasal dari suku Jawa dan sebagainya.

"Meski begitu, sebagian besar masyarakat di sini sangat mendukung dibangunnya kawasan budaya Betawi di sini, termasuk warga yang bukan orang Betawi juga ikut merehab rumahnya menjadi bercirikan rumah Betawi," kata dia.

Related posts