Cadev Meningkat Hanya “Syarat”

NERACA

Jakarta - Peningkatan cadangan devisa (cadev) Indonesia sebesar US$2,4 miliar pada Desember 2013, dari US$97 miliar pada November 2013, hanyalah syarat perlu pertumbuhan ekonomi dan bukan syarat cukup peningkatan pertumbuhan. Hal itu diungkapkan Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, di Jakarta, Selasa (14/1).

Menurut dia, peningkatan cadev belum cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar enam persen seperti yang ditargetkan Pemerintah lantaran masih membutuhkan syarat-syarat lain. Syarat yang dimaksud Enny ini yaitu harus memperbaiki persoalan-persoalan klasik di Indonesia antara lain perbaikan infrastruktur, perbaikan sistem birokrasi, administrasi, dan perizinan.

"Kontribusi Pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terhadap produk domestik bruto (PDB) kecil sekali, yakni delapan persen. Padahal porsi APBN terhadap PDB di atas 20%," terang Enny. Namun, peningkatan cadev pada Desember 2013, sambung Enny, tetap merupakan kabar positif bagi perekonomian Indonesia karena otoritas moneter dapat melakukan pengendalian fluktuasi nilai tukar rupiah.

Peningkatan ataupun penurunan nilai tukar rupiah ini tidak akan menjadi persoalan utama bagi para pelaku pasar selama nilai tukar rupiah tidak banyak bergejolak (volatile) karena terdapat intervensi otoritas moneter. "Jika stabilitas moneter terkelola baik akan menjadi indikator optimis terhadap prospek kepastian usaha dan investasi," papar dia.

Enny menambahkan nilai tukar rupiah yang terjaga akan berpengaruh pula terhadap inflasi dair harga-harga barang impor. "Tapi, nyatanya inflasi di Indonesia bukan dipengaruhi harga barang impor tapi harga pangan. Tekanan inflasi dari harga pangan pada tahun 2014 akan besar karena negara eksportir bahan pangan seperti Amerika Serikat mengalami anomali iklim," katanya.

Sebagaimana diketahui, nilai cadangan devisa pada Desember 2013 itu dapat membiayai 5,6 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembiayaan utang luar negeri Pemerintah. BI juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di batas bawah kisaran 5,8%-6,2% seiring perbaikan ekonomi global. [ardi]

Related posts