Kembangkan Bisnis, Kimia Farma Rambah Asuransi - Akuisisi Anak Usaha Akses

NERACA

Jakarta – Perusahaan Farmasi, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) berencana untuk mengakuisisi 10% saham PT Asuransi Jiwa InHealt Indonesia. Kimia Farma akan mengakuisisi 100 ribu saham dari seluruh jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh dalam InHealth. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Sekretaris Perusahaan PT Kimia Farma Tbk Djoko Rusdianto mengatakan, pelaksanaan pembelian akan dilakukan selambat-lambatnya pada tanggal 30 Juni 2014. Disebutkan bahwa 3 perusahaan BUMN akan mengambil alih saham InHealth. Yaitu PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Kimia Farma Tbk dan PT Askes. InHealth sendiri merupakan anak usaha Askes dengan nilai akuisisi sekitar Rp 1,75 triliun.

Proses akuisisi akan dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap pertama, Bank Mandiri akan memiliki 60% saham InHealth, Kimia Farma dan Jasindo masing-masing memiliki 10% saham serta PT Askes akan memiliki 20% saham InHealth. Dengan demikian, ditaksir perseroan akan mengeluarkan dana sekitar Rp175 miliar untuk mengakuisisi 10% saham InHealth.

Sedangkan tahap kedua, dilakukan setelah masa transisi peralihan Askes menjadi BPJS Kesehatan selesai, untuk memastikan bahwa segala sesuatu dalam periode transisi, khususnya setelah penerapan BPJS akan berlangsung lancar. Sebelum akhir periode transisi tersebut, maka sisa 20% saham Askes di InHealth yang sudah diperjanjikan, akan dijual kepada Bank Mandiri.

Atas rencana ini, maka perseroan akan menyampaikan keterbukaan informasi yang disyaratkan paling lambar dua hari setelah pelaksanaan penandatangan akta jual beli uang akan dilaksanakan. Sebagai catatan, pada akhir tahun lalu BMRI bersama perseroan dan PT Jasindo telah mengakuisisi InHealth. Adapun kepemilikan saham InHealth dimikin 80% oleh BMRI, perseroan serta Jasindo masing-masing 10%.

Sementara itu, perusahaan farmasi plat merah ini juga akan mendapatkan nilai tambah sekitar Rp50 miliar per tahun. Pasalnya, perseroan ikut dalam pelayanan Badan Penyelenggara Jaminan Nasional (BPJS) sejak 1 Januari 2014.

Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk Rusdi Rosman mengatakan, dengan diterapkannya BPJS di Indonesia akan mampu memberikan nilai tambah bagi bisnis perseroan itu sendiri. Dia menyebutkan ada 3 nilai tambah kimia farma, ada potensi kenaikan laba dan omset.

Nilai tambah pertama yang didapat oleh perseroan dengan adanya BPJS, yakni akan lebih berkonsentrasi bisnis obat generik lantaran BPJS tersebut lebih menggunakan obat generik. Lalu, 200 jaringan klinik perseroan yakni PPK1 akan lebih terjamin pengoperasiannya.“Adapun, dengan adanya BPJS ini, Kimia Farma akan memasukkan karyawan ke BPJS juga sebagai langkah yang lebih efisien untuk penghematan dana perusahaannya”, katanya.

Dia juga menyebutkan bahwa perseroan sangat antusias menyambut akan diberlakukan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan terus mempersiapkan segala infrastruktur, jaringan dan produk. Selain apotek, saat ini Kimia Farma juga telah memiliki 200 klinik kesehatan dan terus akan mendirikan hingga berjumlah 1000 klinik pada tahun 2018.

Diperkirakan pendapatan Kimia Farma untuk satu klinik bila SJSN sudah diberlakukan mencapai Rp600 juta per satu klinik per bulan, karena besarnya peserta BPJS yang akan menggunakan jasa klinik Kimia Farma.“Coba dikalikan saja 600 juta dikalikan 200 klinik yang kita punya dan Kimia Farma bisa saving 25-30 %”, katanya. (nurul)

Related posts