Kenaikan LPS Rate Tak Perlu Dikhawatirkan

NERACA

Jakarta - Ekonomi Universitas Indonesia, Eugenia Mardanugraha mengatakan, kenaikan suku bunga acuan Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS Rate sebesar 25 basis poin (bps) dari sebelumnya 7,25% menjadi 7,5% tidak perlu dikhawatirkan. Meskipun Kepala Eksekutif LPS terdahulu, Mirza Adityaswara, menjamin kalau kenaikan LPS Rate tergantung penyesuaian suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate.

Lebih lanjut Eugenia menjelaskan, kenaikan suku bunga ini tentu akan berpengaruh kepada suku bunga deposito yang ada di perbankan. “LPS Rate naik tidak ada masalah. Namun saya akui, akan berdampak ke meningkatnya suku bunga deposito dan kredit,” ungkapnya kepada Neraca, Minggu (12/1).

Dia pun memberi contoh untuk suku bunga deposito. Apabila suatu bank biasa memberikan suku bunga deposito ke nasabah sekitar 6,5%-7,%, dengan naiknya LPS Rate ini pasti bank akan menaikkan kembali suku bunga depositonya. Kemudian untuk suku bunga kredit, di mana perbankan juga akan akan menaikkan lantaran perbankan dituntut mempertahankan atau menaikkan keuntungaannya.

“Jadi, semuanya ini lebih ke business planning,” tambah Eugenia. Menurut dia, apabila suku bunga kredit ikut terkerek, yang harus disalahkan adalah Pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan. Sebelumnya, LPS telah melakukan evaluasi terhadap bunga penjaminan kategori rupiah dan valuta asing (Valas) terhadap bank umum, serta penyesuaian dalam rupiah terhadap bank perkreditan rakyat (BPR).

Sekretaris LPS, Samsu Adi Nugroho mengatakan, untuk simpanan rupiah di Bank Umum dan BPR mengalami kenaikan sebesar 25 bps menjadi 7,5%. Sedangkan simpanan dalam bentuk valas tidak mengalami perubahan atau tetap di level 1,5%. “Tingkat bunga tersebut berlaku mulai tanggal 15 Januari 2014-14 Mei 2014,” kata Samsu di Jakarta, pekan lalu.

Lebih jauh dirinya menjelaskan, penetapan tingkat bunga penjaminan simpanan tersebut didasarkan atas pertimbangan, antara lain, suku bunga produk simpanan perbankan yang dipantau oleh LPS meningkat secara signifikan pada Desember 2013 lalu.

“Karena suku bunga di bulan Desember naik, sementara LPS harus menjamin mayoritas nasabah,” klaim Samsu. Selain itu, biaya dana (cost of fund) rata-rata tertimbang ICOF perbankan mengalami peningkatan, yaitu dari 3,89% pada September 2013 menjadi 3,95% di Oktober 2013.

Selain itu, tingkat bunga penjaminan simpanan diupayakan dapat mencakup sedikitnya 90% dari jumlah nasabah penyimpan seluruh bank. Terkait penetapan tingkat bunga penjaminan simpanan di atas, LPS terus mencermati perkembangan likuiditas dan suku bunga simpanan perbankan.

“Apabila terjadi perubahan yang signifikan pada kondisi perekonomian LPS akan melakukan evaluasi tingkat bunga penjaminan simpanan,” imbuhnya. Sesuai ketentuan LPS apabila suku bunga simpanan yang diperjanjikan antara bank dengan nasabah penyimpan melebihi tingkat bunga penjaminan simpanan, maka simpanan nasabah dimaksud menjadi tidak dijamin. Berkenaan dengan hal tersebut, bank diharuskan untuk memberitahu nasabah mengenai perubahan tingkat bunga penjaminan simpanan yang berlaku dengan menempatkan informasi dimaksud pada tempat yang mudah diketahui oleh nasabah penyimpan. [sylke]

Related posts