Lunasi Utang, BUMI Yakini Bisa Bukukan Untung - Lepas Saham di KPC

NERACA

Jakarta – Berupaya mengakhiri lilitan utang, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akhirnya bakal melunasi utang sebesar US$1,35 miliar kepada China Investment Corporation (CIC) setelah pemegang saham menyetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPLSB). Keputusan ini disetujui langsung sedikitnya 97% atau dari 33,33% pemegang saham yang hadir.

Komisaris Utama BUMI, Suryo Bambang Sulisto mengatakan, dalam rapat yang berlangsung para pemegang saham menyetujui untuk membayar utang kepada pihak CIC,”Keputusan sesuai agenda rapat yang disetujui poin pertama yang penuhi kuorum. Agenda satu konversi pinjaman dengan demikian beban bunga akan berkurang signifikan. Intinya seperti itu,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Menurut Suryo, agenda pertama itu dihadiri oleh pemegang saham sebesar 33,4% atau sudah kourum yang telah ditentukan sebesar 33,3%. Kata Suryo, keputusan ini dinilai sudah sah walaupun banyak pemegang saham yang tidak hadir. Sementara untuk agenda kedua dan ketiga tidak mencapai kuorum dan selanjutnya akan melakukan rapat dengan direksi serta melaporkan kepada pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sementara itu, Direktur BUMI Andrew C Beckham mengatakan setelah agenda pertama sudah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham, pihaknya akan menjual saham anak usaha PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar US$ 950 juta atau sekira 19%, menjual saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar US$ 257 juta atau 42%, “Penjualan saham di KPC akan dilakukan melalui right issue sebesar US$ 150 juta tapi enggak tahu kapan, untuk agenda 2 dan 3 kami gelar RUPSLB lagi,"tandasnya.

Menurut analis Asjaya Indosurya Securities, Wiliam Suryawijaya, sebaiknya rights issue yang bakal dilakukan BUMI ada baiknya tidak dilakukan. Alasannya, bakal merugikan para investor karena kepemilikan sahamnya akan terdilusi, “Untuk BUMI ada baiknya tidak melakukan right issue sperti yang direncanakan, supaya saham yang sudah dimiliki para investor tidak terdilusi karena efek penurunan. Sekarang saja sudah cukup meresahkan investor," kata Wiliam.

Janjikan Dividen

Disamping itu, perseroan berjanji tahun ini akan membagikan dividen kepada pemegang saham seiring dengan keyakinan tahun ini bakal mencetak untung. Pasalnya, perseroan sudah melunasi utang ke China Investment Coorporation (CIC), secara otomatis beban bunga berkurang meskipun harga batu bara tahun ini diprediksi masih akan melemah,”Dividen kemungkinan bisa dibayarkan kalau laba positif," ucap Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava.

Di tempat yang sama, Head of Investor Relation BUMI Ahmad Reza Wijaya menyebutkan, tahun ini harga batubara masih akan melemah. Namun, pihaknya optimistis, di 2015-2016 harga batubara akan kembali menggeliat."Tahun 2015-2016 harga batu bara baru akan membaik. Tahun ini akan turun sedikit, kecuali supplainya gila-gilaan, ditambah aturan pajak ekspor batubara," kata Reza.

BUMI yakin volume produksi batubara tahun ini bisa meningkat hingga 15%. Di kuartal III-2013, kenaikan volume penjualan batubara perseroan sebesar 22,9% dari 47,7 metrik ton menjadi 58,6 metrik ton."Kalau lihat pasar volume produksi tahun ini bisa naik 15% maksimum," katanya.

Seperti diketahui, hingga kuartal III-2013, BUMI mencatatkan kerugian US$377,5 juta. Angka rugi ini turun 40% dibanding periode yang sama di 2012 yang sebesar US$ 632,5 juta. Kerugian tersebut disebabkan oleh masih rendahnya harga batubara dunia, yang bertengger di bawah US$ 70 per ton. Sehingga belum mampu menutup kerugian di tahun sebelumnya. (bani)

Related posts