Pakar Sebut Kontribusi Sektor Industri Turun

NERACA

Jakarta - Bisa dikatakan sejak 5-6 tahun belakangan sektor industri Indonesia mengalami pertumbuhan yang tidak optimal. Kontribusi sektor industri mengalami penurunan. Pemerintah semestinya bisa melihat peluang dari menurunya harga komoditas di pasar dunia dengan cara mengolah barang mentah yang akan di ekspor ke luar negeri menjadi barang jadi di dalam negeri. Hal itu perlu dilakukan untuk memberikan nilai tambah bagi produk dalam negeri.

Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Ahmad Erani Yustika mengatakan, bisa dikatakan sejak 5-6 tahun belakangan sektor industri mengalami pertumbuhan yang tidak optimal. Kontribusi sektor industri mengalami penurunan. Pada 2005 kontribusi terhadap pertumbuhan sebesar 85%, namun tahun ini hanya 23% atau mendekati angka 24%. “82% ekspor hari ini berasal dari industri pertambangan dan perkebunan. Peran sektor industri ekspor itu kecil. 11%. Tapi, kita tahu komoditas primer sekarang berfluktuasi,” ungkap Erani, akhir pekan lalu.

Menurut dia, dengan fluktuatif harga komoditas primer sekarang ini berdampak pada penurunan kinerja ekspor Indonesia. Hal ini yang membuat kinerja ekspor dan impor timpang dan terjadi defisit pada neraca perdagangan.

Meski demikian, Erani melihat bahwa pemerintah seharusnya bisa melihat potensi itu dengan baik, yakni mengolah barang yang akan di eskpor ke luar negeri diolah didalam negeri. Bahkan, hal itu bisa meningkatkan nilai tambah.

“Tentu dibalik itu ada langkah lain kalau bisa dilakukan dengan konsisten. Bahkan, bisa jadi amunisi ampuh untuk bisa berkompetisi. Tapi, disayangkan sedikit sekali kesadaran atau kesungguhan menjalankan seknario itu,” tegasnya.

Perbaiki Struktur

Sementara itu, Komite Ekonomi Nasional (KEN) menilai Indonesia harus segera memperbaiki struktur industri dan ekonominya untuk mengatasi masalah transaksi berjalan yang sudah delapan kuartal mengalami defisit. "Kita harus memperbaiki sisi suplai kita, agar kita tidak harus mengimpor barang terlalu banyak ketika ekonomi kita tumbuh dengan cepat," kata Ketua KEN Chairul Tanjung.

Chairul menyadari, perbaikan tersebut bukan pekerjaan yang dapat dilakukan dalam waktu singkat, namun harus segera dimulai. Menurutnya, pemerintah juga harus menghindari pertumbuhan ekonomi yang terlalu dalam karena hanya akan meningkatkan pengangguran dan kemiskinan yang pada akhirnya dapat mengganggu stabilitas perekonomian secara menyeluruh.

Sementara itu, lanjutnya, harapan dukungan terhadap pertumbuhan dari sisi fiskal pun masih relatif terbatas. Subsidi energi yang besar telah mengurangi fleksibilitas APBN dalam menopang pertumbuhan ekonomi. "Indonesia harus benar-benar memikirkan cara yang tepat untuk mengatasi masalah subsidi energi ini, termasuk pembangunan infrastruktur," ujarnya.

Selain itu, Chairul menilai penyerapan anggaran pemerintah perlu diperbaiki di mana sudah lebih dari lima tahun Indonesia menghadapi masalah penyerapan anggaran. "Sudah berbagai cara diupayakan untuk memperbaikinya, namun hingga saat ini penyerapan anggaran belum membaik secara signifikan," kata Chairul.

Menurut dia, pemerintah harus terus berupaya memperbaiki penyerapan anggaran bila ingin dampak yang lebih signifikan dari APBN terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Related posts