Menanti Bangkrutnya CDMA di Indonesia

CDMA atau Code division multiple access ialah salah satu pilihan jaringan yang digunakan selain GSM, CDMA merupakan salah satu jaringan untuk berkomunikasi yang memang membutuhkan perangkat komunikasi sendiri seperti GSM namun dengan tarif operator yang memang cukup murah dibandingkan dengan GSM. Tapi seiring perkembangan zaman dan teknologi, akhirnya kini tarif GSM pun tidak jauh berbeda dengan tarif CDMA, hal inilah yang akhirnya memulai kekhawatiran dan menyebabkan perkembangan teknologi CDMA di Indonesia semakin terpuruk selain memang karena kurangnya produsen perangkat komunikasi yang menciptakan perangkat telekomunikasi berjaringan CDMA. Hal inilah akhirnya yang menyebabkan terpuruknya pertelekomunikasian CDMA di Indonesia, bahkan kabarnya sudah hampir tidak ada lagi penambahan jumlah pelanggan, ditambah dengan tak ada lagi penambahan jaringan dan kegiatan pemasaran, maka tiga layanan fixed wireless access (FWA) berteknologi CDMA diprediksi akan lumpuh kedepannya. Ketakutan itupun menghantui operator-operator yang ada di Indonesia seperti Flexi, StarOne, Hepi, dan Esia. Pada layanan Flexi, penurunan jumlah pelanggan pun tidak dapat dihindarkan oleh Telkom. Perusahaan milik BUMN telekomunikasi ini pun memiliki rencana untuk memindahkan layanan FWA tersebut ke seluler Telkomsel, hal ini jelas akan melumpuhkan jaringan CDMA sedikit demi sedikit. Tidak berbeda dengan Flexi, StarOne juga mengalami hal yang sama dan masalah yang serupa, hanya 3.000 nomor pelanggan saja yang tersisa, dan tidak semuanya dari nomer pelanggan tersebut aktif. Indosat juga sudah tidak ada penambahan jumlah pelanggan, tidak ada penambahan jaringan dan menghentikan kegiatan pemasaran untuk StarOne sudah lama. Tidak seperti Smartfren, Hepi yang yang milik Smartfren ini pun sudah menghilang, Hepi sendiri merupakan sebagai kompensasi pemindahan Flexi dan StarOne ke pita 800MHz. Sedangkan Esia, sejumlah BTS-nya di daerah bahkan sudah dicabut oleh penyedia menara, dan tidak ada lagi penambahan jaringan baru, sehingga membuat perusahaan milik Bakrie Group ini semakin melumpuh. Bahkan beberapa operator ini dikatakan hutangnya semakin melonjak karena lesunya jumlah pelanggan yang tidak tertutupi ongkos produksinya, seperti yang dialami Axis guna menutupi hutangnya yang statusnya sudah turun jadi default karena tidak sanggup membayar. Pada kuartal III tahun lalu Axis pun dikabarkan mulai lumpuh, pelanggannya pun terus menurun dan hanya menyisakan 11,6 juta nomor, dan jumlah nomer tersebut bukanlah jumlah angka pengguna juga tidak semuanya merupakan pelanggan aktif. Sebagian operator bermigrasi ke LTE, namun beberapa operator seperti Esia dikabarkan gagal mendapatkan lisensi untuk berpindah ke jaringan LTE. Gagalnya Esia ini dikabarkan karena belum terselesaikannya sejumlah kewajibannya kepada pemerintah. Padahal, bila sudah mendapatkan lisensi pilihan untuk berpindah ke jaringan LTE bisa menjadi pilihan yang tepat. Memang tidak ada alasan lagi untuk menggunakan CDMA, tarif GSM yang sudah sebanding dengan CDMA dan jaringan yang semakin buruk dianggap menjadi penyebab lumpuhnya pengguna CDMA. Berbeda dengan teman-teman yang lainnya, nasib Smartfren masih lebih baik dari yang lainnya. Pertumbuhan jumlah pengguna menjadi semangat bagi operator ini. Jumlah pelanggan Smartfren adalah sebanyak 12,5 juta orang, yang mana 4,1 juta diantaranya merupakan pelanggan data. Namun tidak hanya itu saja, strategi yang cerdas dengan menjual perangkat smartphone ataupun tab yang sudah di bundling dengan harga yang murah. Meski begitu smartfren tidak bisa tenang begitu saja, CDMA sendiri sudah tidak akan berkembang dengan baik, ditambahkan jarangnya produsen gadget yang mau memproduksi gadget untuk jaringan CDMA. Smartfren pun harus memikirkan untuk berpindah kejaringan LTE meskipun tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan Smartfren.

Awalnya, jaringan seluler yang dapat dinikmati masyarakat Indonesia adalah GSM dan CDMA. CDMA atau Code division multiple access ialah salah satu pilihan jaringan yang digunakan selain GSM. CDMA merupakan salah satu jaringan untuk berkomunikasi yang memang membutuhkan perangkat komunikasi sendiri seperti GSM, namun dengan tarif operator yang memang cukup murah dibandingkan dengan GSM.

Tapi seiring perkembangan zaman dan teknologi, akhirnya kini tarif GSM pun tidak jauh berbeda dengan tarif CDMA, hal inilah yang akhirnya memulai kekhawatiran dan menyebabkan perkembangan teknologi CDMA di Indonesia semakin terpuruk selain memang karena kurangnya produsen perangkat komunikasi yang menciptakan perangkat telekomunikasi berjaringan CDMA.

Hal inilah akhirnya yang menyebabkan terpuruknya pertelekomunikasian CDMA di Indonesia, bahkan kabarnya sudah hampir tidak ada lagi penambahan jumlah pelanggan, ditambah dengan tak ada lagi penambahan jaringan dan kegiatan pemasaran, maka tiga layanan fixed wireless access (FWA) berteknologi CDMA diprediksi akan lumpuh ke depannya.

Ketakutan pun menghantui operator-operator yang ada di Indonesia seperti Flexi, StarOne, Hepi, dan Esia. Pada layanan Flexi, penurunan jumlah pelanggan pun tidak dapat dihindari oleh Telkom. Perusahaan milik BUMN telekomunikasi ini pun memiliki rencana untuk memindahkan layanan FWA ke seluler Telkomsel. Langkah ini jelas akan melumpuhkan jaringan CDMA sedikit demi sedikit.

Tidak berbeda dengan Flexi, StarOne juga mengalami hal yang sama dan masalah yang serupa, hanya 3.000 nomor pelanggan saja yang tersisa, dan tidak semuanya dari nomer pelanggan tersebut aktif. Indosat juga sudah tidak ada penambahan jumlah pelanggan, tidak ada penambahan jaringan dan menghentikan kegiatan pemasaran untuk StarOne sudah lama.

Tidak seperti Smartfren, Hepi yang yang milik Smartfren ini pun sudah menghilang, Hepi sendiri merupakan sebagai kompensasi pemindahan Flexi dan StarOne ke pita 800MHz. Sedangkan Esia, sejumlah BTS-nya di daerah bahkan sudah dicabut oleh penyedia menara, dan tidak ada lagi penambahan jaringan baru, sehingga membuat perusahaan milik Bakrie Group ini semakin melumpuh.

Bahkan beberapa operator ini dikatakan hutangnya semakin melonjak karena lesunya jumlah pelanggan yang tidak tertutupi ongkos produksinya, seperti yang dialami Axis guna menutupi hutangnya yang statusnya sudah turun jadi default karena tidak sanggup membayar.

Pada kuartal III tahun lalu Axis pun dikabarkan mulai lumpuh, pelanggannya pun terus menurun dan hanya menyisakan 11,6 juta nomor, dan jumlah nomer tersebut bukanlah jumlah angka pengguna juga tidak semuanya merupakan pelanggan aktif. Sebagian operator bermigrasi ke LTE, namun beberapa operator seperti Esia dikabarkan gagal mendapatkan lisensi untuk berpindah ke jaringan LTE.

Gagalnya Esia ini kabarnya karena belum terselesaikannya sejumlah kewajibannya kepada pemerintah. Padahal, bila sudah mendapatkan lisensi pilihan untuk berpindah ke jaringan LTE bisa menjadi pilihan yang tepat. Memang tidak ada alasan lagi untuk menggunakan CDMA, tarif GSM yang sudah sebanding dengan CDMA. Jaringan yang semakin buruk dianggap menjadi penyebab lumpuhnya pengoperasian CDMA.

Berbeda dengan teman-teman yang lainnya, nasib Smartfren masih lebih baik dari yang lainnya. Pertumbuhan jumlah pengguna menjadi semangat bagi operator ini. Jumlah pelanggan Smartfren adalah sebanyak 12,5 juta orang. Sebanyak 4,1 juta di antaranya merupakan pelanggan data. Strategi pu ditempuh, di antaranya menjual perangkat smartphone ataupun tab yang sudah di bundling dengan harga yang murah.

Meski begitu smartfren tidak bisa tenang begitu saja. CDMA sendiri sudah tidak akan berkembang dengan baik, ditambahkan jarangnya produsen gadget yang mau memproduksi gadget untuk jaringan CDMA. Smartfren pun harus memikirkan untuk berpindah ke jaringan LTE meskipun tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan Smartfren.

Related posts