Nasib Rupiah Tak Dapat Dipastikan

NERACA

Jakarta - Ditengah mulai membaiknya kondisi perekonomian Indonesia, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo belum mampu memastikan perbaikan tersebut akan mempengaruhi nilai tukar rupiah yang beberapa waktu terakhir masih melemah.

Agus mengatakan, jika fundamental ekonominya membaik, maka akan membuat nilai tukar rupiahnya menguat. “Kalau kita bisa membuat neraca transaksi berjalan membaik, maka hal ini juga bisa menjadikan kondisi ekonomi lebih baik, tetapi juga ada faktor kondisi kedalaman pasar,” ucap Agus di Jakarta, Kamis (9/1)

Selain itu, Agus juga menjelaskan, jika para eksportirnya masih menahan hasil ekspor dan belum ada keinginan untuk melepas, maka ini akan membuat terbatasnya dollar Amerika Serikat (AS). “Tentu ini akan membuat langka nya dollar AS, dibandingkan dengan dibutuhkan, ini juga sesuatu yang perlu diperbaiki,” ucap dia.

Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang menurun, menurut agus, juga turut memberikan tekanan kepada nilai tukar Rupiah pada 2013 dan disertai volatilitas yang meningkat. “Rupiah secara point-to-point melemah 20,8%(yoy) selama tahun 2013 ke level Rp12.170 per dolar AS atau secara rata-rata melemah 10,4% (yoy) ke level Rp10.445 per dolar AS,” tuturnya.

Dia juga menjelaskan, tekanan terhadap rupiah terutama cukup kuat terjadi sejak akhir Mei 2013 hingga Agustus 2013, sejalan dengan meningkatnya aliran modal keluar dipicu sentimen terhadap rencana pengurangan stimulus moneter oleh The Fed, di tengah kenaikan inflasi domestik pasca kenaikan harga BBM bersubsidi dan persepsi terhadap prospek transaksi berjalan di dalam negeri.

Pengaruh global yang cukup kuat tersebut tergambar pada pergerakan rupiah yang searah dengan pelemahan mata uang di negara kawasan. Bank Indonesia terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya sehingga dapat mendukung penyesuaian ekonomi secara terkendali. “Perbaikan kinerja NPI dengan defisit transaksi berjalan yang menurun diperkirakan akan mendukung pergerakan nilai tukar Rupiah yang lebih stabil dan cenderung menguat ke depan,” kata dia.

Ke depan, kebijakan Bank Indonesia pada tahun 2014 tetap difokuskan untuk menjaga stabilitas perekonomian dan sistem keuangan melalui penguatan bauran kebijakan di bidang moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Di bidang moneter, kebijakan akan tetap secara konsisten diarahkan untuk mengendalikan inflasi menuju sasarannya dan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang sehat, melalui kebijakan suku bunga dan stabilisasi nilai tukar sesuai fundamentalnya.

Penguatan operasi moneter, pengelolaan lalu lintas devisa, dan pendalaman pasar keuangan akan diintensifkan untuk mendukung efektifitas transmisi suku bunga dan nilai tukar, sekaligus untuk memperkuat struktur dan daya dukung sistem keuangan dalam pembiayaan pembangunan. [sylke]

Related posts