Malaysia Siap Menghadapi AEC - Modal dan Infrastruktur Kuat

NERACA

Jakarta - Malaysia mengaku sudah siap bersaing dalam ajang perdagangan bebas Masyarakat Asia Tenggara (ASEAN Economic Community/AEC) pada 2015. Pasalnya, Malaysia adalah negara yang berbasis kekuatan modal (capital base) dengan dukungan infrastruktur yang baik serta kebijakan pemerintahnya yang kuat. Bahkan, dari sisi ketenagakerjaan, mereka memiliki kebijakan pendidikan entrepreneurship yang terus ditingkatkan.

“Kami sangat menghadapi persaingan di ajang AEC. Meski begitu, kami juga tetap mempelajari bagaimana strategi-strategi yang lebih efektif dalam implementasinya untuk mencapai keuntungan maksimal,” kata Dekan Fakultas Ilmu Entrepreneurship dan Bisnis Universitas Malaysia Kelantan, Mohammad Rafi Bin Yacob, di Jakarta, Kamis (9/1).

Dari sisi kebijakan pemerintahnya, Yacob mengaku negaranya juga sudah mempersiapkan perhelatan tersebut dengan matang, baik dari segi infrastruktur maupun regulasi, agar memudahkan para pengusaha mereka untuk maju di ajang pasar bebas kawasan tersebut. Meskipun diakuinya, hal tersebut masih terdapat hal-hal yang perlu diimplementasikan.

Dia menjelaskan, dalam perhelatan AEC, Malaysia akan maju sebagai negara dengan kekuatan berbasis permodalan. Hal ini dikarenakan negara tersebut tidak memiliki kekuatan sumberdaya alam (SDA) dan populasi manusia sebesar Indonesia. Oleh karena itu, para pemegang kebijakan di Negeri Jiran itu sudah mempersiapkan dengan matang skema bisnis yang berbasis investasi.

“Kita akan maju sebagai negara capital base sebab investasi yang masuk ke negeri kami juga cukup deras. Sedangkan kita sudah mempersiapkannya dengan skema yang baik dalam hal manufaktur, pabrik-pabrik besar dan pariwisata. Dengan begitu kita juga memiliki potensi untuk maju sebagai negara yang perlu diperhitungkan kekuatan ekonominya,” ungkap Yacob.

Tak hanya itu. Dari sisi produk domestik bruto (PDB), Yacob mengatakan bahwa Malaysia jauh lebih unggul, di mana PDB Malaysia per tahun mencapai US$878 miliar sedangkan Indonesia hanya mampu mencapai US$304 miliar. Begitu pula dengan PDB perkapita, Malaysia bisa mencapai US$10,304 per orang per bulan, sementara Indonesia hanya mencapai US$3,552 per orang per bulan.

“Jumlah entrepreneur kita juga lebih unggul sebanyak 2% dari total penduduk yang sebanyak 29,24 juta jiwa. Sedangkan Indonesia baru mencapai 0,2% dari total penduduknya sebesar 240 juta jiwa,” pungkasnya. [lulus]

Related posts