Kuatnya Bisnis Jamu Sido Muncul Rambah Perbankan - Bikin BPR Muncul Artha Sejahtera

NERACA

Jakarta – Merambah bisni baru di dunia perbankan, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) diharapkan tetap serius utamakan bisnis utamanya yaitu di bidang jamu dan farmasi.

Analis PT Danareksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo mengatakan, Sido Muncul secara fundamental cukup solid. Karena berdasarkan prospektus yang dibagikan saat akan melantai di BEI, terlihat bahwa perseroan cukup menarik di bidang consumer dan retail, “Namun, prospek SIDO sendiri ke depannya masih tertekan karena produk-produk Sido Muncul dalam farmasi bukan obat-obatan utama melainkan penunjang”, ungkapnya kepada Neraca, Kamis (9/1).

Sehingga, dengan merambah ke dunia perbankan sebaiknya SIDO tetap fokus dengan bisnisnya. Meski begitu, dia memberikan apresiasi kepada perseroan karena dinilai perseroan memiliki strategi yang cukup berani melebarkan sayap ke perbankan. “Ini kesempatan bagus buat SIDO karena produknya cukup luas dan bukan segmented, sehingga dengan mendirikan bank, masyarakat sudah dekat dengan produk-produknnya”, katanya.

Namun, pembukaan bank saat ini dirasa masih kurang tepat. Di mana perbankan masih tertekan dengan makro ekonomi Indonesia dan sentimen luar. Menurut dia, perbankan masih rawan terkoreksi dan cukup tertekan dengan kondisi yang ada saat ini.“Sepertinya April 2014 saat yang lebih tepat bagi perseroan untuk memulai ekspansi perbankannya”, ujarnya.

Dia menyimpulkan, sah saja suatu perusahaan berekspansi di luar bisnis utamanya, hanya saja SIDO perlu mengutamakan bisnisnya yang diterjunkan ke lantai bursa. Pasalnya, setelah menjadi perusahaan terbuka, perseroan memiliki tanggung jawab secara material dan sosial kepada pemegang saham.“Bank tetap berjalan, tetapi yang diprioritaskan tetap farmasi dan jamunya. Bank hanya pelengkap saja, agar tidak terpecah konsentrasi ke bisnis barunya”, katanya.

Disebutkan bahwa perseroan mendirikan PT Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Muncul Artha Sejahtera (MAS) di Semarang. Menurut Presiden Direktur SIDO, Irwan Hidayat, BPR yang beralamat di Jalan Raya Kaligawe 12 B Semarang tersebut resmi beroperasi hari ini.

Bersama keluarga, dia menjadi salah satu pemegang saham dengan membidik nasabah dari Usaha Mikro, Kecil dan Menengah(UMKM) sebagai pasar potensial. Dia berharap BPR MAS ini benar-benar bisa membantu sektor UMKM untuk lebih berkembang lagi. “Rencana pendirian BPR sebenarnya sudah sejak tiga tahun lalu. Namun, baru mendapatkan izin usaha dari Bank Indonesia (BI) tahun ini”, katanya.

Dia menceritakan, pendirian bank ini berawal dari keinginan pihak keluarga untuk membantu pengembangan sektor UKM. Selanjutnya, dia menyebutkan BPR MAS ini murni sebagai bisnis keluarga dan tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan keluarganya yang sudah menjadi perusahaan publik (SIDO).

Seiring perkembangan usaha, SIDO melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), tepatnya pada 18 Desember 2013. Menurut dia, terealisasinya pencatatan saham perusahaan di lantai BEI merupakan perwujudan dari komitmen perseroan untuk menjadi sebuah perusahaan terbuka (emiten).

Saham SIDO dibanderol diharga Rp580 per saham dari kisaran harga sebelumnya di level Rp540-660 per saham. Adapun jumlah saham yang dilepas kepada publik 1,5 miliar saham atau sebesar 10% dari total modal ditempatkan. Total dana yang diraih Sido Muncul sebesar Rp870 miliar. Rencananya, dana hasil penawaran umum persana saham (Initial Public Offering/IPO) sekitar 56% akan digunakan untuk peningkatan persediaan bahan baku, sekitar 42% untuk investasi perseroan dalam pembelian tanah dan pembangunan baru beserta pembelian fasilitas penunjangnya. (nurul)

Related posts