Hasil Pemilu Tentukan Prospek Transaksi Saham

NERACA

Jakarta – Walaupun Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Ito Warsito menyakini, bila industri pasar modal masih tetap tumbuh di tahun pemilu. Namun sebagian pelaku pasar menilai, prospek transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2014 akan sangat tergantung pada hasil pemilihan umum (pemilu).

Menurut analis Danareksa Equity Research, Helmy Kristanto, prospek transaksi saham akan bergantung pada hasil pemilu dan perkembangan ekonomi makro Indonesia. Meski demikian, untuk jangka menengah dan panjang pasar modal Indonesia masih tetap menarik,”Tidak seperti pada tahun 2013 yang dimulai dengan optimisme, prospek 2014 diawali dengan kekhawatiran pelemahan rupiah, naiknya suku bunga acuan perbankan (Bi rate) dan perlambatan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB)," ujarnya dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Namun dengan langkah antisipasi pemerintah seperti menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), Danareksa optimistis perubahan struktural makro bisa berdampak positif pada pertumbuhan pasar modal berkelanjutan dengan volatilitas rendah.

Riset Danareksa juga mengungkapkan, 2014 merupakan tahun yang istimewa bagi Indonesia menyusul pemilihan umum secara langsung untuk memilih presiden baru menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Berbeda dengan 2009, saat SBY menjadi kandidat kuat untuk melanjutkan roda pemerintahan.

Daya tarik pemilu Indonesia tegas Danareksa, adalah seluruh warga dapat memberikan hak suaranya untuk calon presiden yang mereka pilih. Melalui sistem ini, hasil pemilu mudah diprediksi karena calon yang populer akan menerima suara lebih banyak. "Pemilu dapat menciptakan kegembiraan di pasar, terutama jika presiden terpilih dianggap pro pasar. Dalam dua tahun pemilu terakhir, pasar modal di Indonesia selalu mendapat sentimen positif," tulis riset tersebut.

Riset Danareksa juga menyampaikan, proses pemulihan makro ekonomi Indonesia masih membutuhkan waktu. Hal yang patut diwaspadai adalah inflasi yang meningkat sebagai imbas keputusan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi pada Mei 2013.

Menurut Danareksa, dampak inflasi kenaikan harga BBM akan hilang dalam semester II-2014 dan diharapkan laju inflasi akan berada di kisaran 5% pada akhir 2014, atau jauh menurun dibanding akhir 2013 sebesar 8,4%. Terkait tingginya BI rate, Danareksa berpendapat, BI rate hingga beberapa kuartal ke depan diperkirakan masih bertahan di level 7,5% seperti saat ini.

Mengantisipasi hal itu, investor sebaiknya menerapkan strategi defensif dalam jangka pendek dengan memilih saham-saham dengan fundamental kuat seperti BMRI, BBRI , ASII, ICBP dan JSMR. Untuk saham lapis kedua antara lain seperti ACES dan GJTL, sedangkan komoditas bisa dipilih ADRO, INCO dan LSIP. Di sektor properti bisa mengakumulasi saham WIKA. "Kami menargetkan hingga akhir tahun 2014 IHSG bisa mencapai 4.940," jelasnya. (bani)

Related posts