Vale Mengklaim Tidak Ekspor Mineral Mentah

Perusahaan tambang PT Vale Indonesia Tbk mengklaim telah melakukan pengolahan dan pemurnian nikel dan menyatakan belum pernah mengekspor mineral mentah, “Kami telah melakukan pengolahan dan pemurnian mencapai 78%. Itu artinya, kita sudah memenuhi aturan pemerintah,”kata Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk, Nico Kanter di Sorowako, kemarin.

Pernyataan tersebut disampaikan Nico terkait kesepakatan pemerintah dan DPR RI pada 5 Desember 2013 untuk pelaksanaan ekspor mineral mentah (raw material/ore) ke luar negeri terhitung 12 Januari 2014.

Dia menuturkan, perseroan selama 35 tahun beroperasi tidak pernah ekspor mineral mentah. Pasalnya, hal ini dilakukan agar perseroan memiliki nilai jual kepada pelanggan,”Untuk nilai tambah, kita tidak pernah ekspor mineral mentah dan kami akan memproses produk baru agar produk tersebut memenuhi item yang dikehendaki pemerintah,”tandasnya.

Dia mengatakan, selama ini ada persepsi yang salah dari publik bahwa perusahaan PMA selalu melakukan eksploitasi dan mengeruk keuntungan tanpa memikirkan keberlanjutan lingkungan,”Tidak ada niat kami mengeruk keuntungan. Kami tidak begitu-begitu amat. Kami ini perusahaan terbuka, setiap waktu bisa dibuka oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)," ujarnya.

Kata Nico Kanter, mengolah dan melakukan pemurnian nikel investasinya lebih besar daripada menjual mineral mentah dan tidak ada upaya berkelanjutan terhadap lingkungan."Pasti lebih mahal dibandingkan hanya ekspor mineral mentah karena mesti membangun smelter. Kami perusahaan yang bertanggung jawab, kami memiliki CSR," jelasnya.

Nico juga mengatakan pihaknya sudah melepas 28 ribu hektare lahan yang dikontrakkaryakan dan lahan seluruhnya seluas 190 ribu hektare. Menurut Senior General Manager Process Plant Andi Mappaselle, PT Vale Indonesia memproduksi nikel 200 hingga 250 metrik ton per hari. Nikel tersebut dikirim ke Jepang pada awal dan akhir bulan,”Nikel tersebut mempunyai kadar 78% dengan harga US$ 14 ribu per metrik ton sehingga yang dibayar hanya 78% saja," katanya. (ant/bani)

Related posts